“Teolog Terlibat”: Berlutut di Hadapan Penyintas Gempa Flores

oleh -250 Dilihat
banner 468x60

“Selamat Ulang Tahun ke-2 Tahbisan Episkopal Uskup Paulus Budi Kleden, SVD”

Gempa Flores, Sabtu, 15 Agustus 2026, mengisahkan satu inspirasi indah bagi kehidupan. Selain aneka kisah: sedih, tragis dan solidaritas yang membanjiri tanah Flores. Kisah itu adalah ekspresi spontan seorang uskup (pemimpin komunitas Gereja Katolik) yang mengunjungi para penyintas gempa.
Foto yang diambil secara amatir oleh seseorang tanpa menyebut namanya beredar luas di dunia maya. Uskup Paulus Budi Kleden, SVD – uskup Keuskupan Agung Ende – terlihat sedang berlutut di hadapan beberapa ibu di bawah sebuah tenda bagi para pengungsi akibat gempa pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Gestikulasi spontan seperti ini tentu sangat jarang, bahkan mungkin tidak pernah terjadi di daerah dengan mayoritas penduduk beragama Katolik yang melihat pemimpinnya, seorang uskup, sebagai wakil Yesus di dunia. Gambaran figur seorang uskup dengan kebesarannya tentu sangat membekas dalam layar ingatan masyarakat Flores. Tak pernah terbayangkan dalam ingatan mereka bahwa seorang uskup mesti hadir, ada, menyapa para penyintas gempa di tenda-tenda pengungsi dengan kesederhanaan seorang bapak gembala, dengan baju kaos seadanya, di bahunya tertenteng “bere” (tas ayaman lontar khas Ngada) sambil berlutut mendengar kisah para pengungsi.
Berlutut:

Berlutut merupakan salah satu gestikulasi liturgis. Gestur ini mengindikasikan rasa rendah, tak berarti di hadapan Sang Khalik. Biasanya dilakukan saat berdoa dan menyembah. Berlutut melambangkan kerendahan hati yang dalam, sikap sembah sujud, dan bentuk penghormatan kepada Allah. Gerakan tubuh ini menyatukan doa batin dengan raga untuk mengakui keagungan Tuhan, penyerahan diri, serta tanda pertobatan.

Gestur liturgis ini dilakukan dengan sangat spontan oleh Uskup Budi. Itu dilakukan di tenda pengungsi. Di tengah liturgi kehidupan. Tidak ada kesan “bermain peran” atau lakon drama. Terlihat jelas bahwa itu dilakukan dengan penuh kesadaran untuk mendengar lebih dekat dan akrab para penyintas bencana. Uskup Budi hadir dalam kerendahan hati seorang gembala, mendengarkan kisah ‘domba-domba’-nya yang sedang menderita.

Di sini penulis buku, Aku yang Solider, Teologi Terlibat dan belasan buku lainnya dalam bidang teologi dan filsafat, memberikan afirmasi faktual bahwa isi tulisannya terbaca dalam kehidupan konkret. Uskup Budi telah membawa keluar gestur liturgi ke dalam kehidupan konkret, di tengah penderitaan umatnya, di tengah tenda para pengungsi. Liturgi tidak lagi hanya selebrasi, perayaan, tetapi juga perayaan perjuangan kehidupan.

Teolog Terlibat di Hadapan Penyintas Gempa: Uskup Budi saya kenal sejak saya masih menjadi salah satu mahasiswanya pada tahun 2002, ketika beliau baru saja menyelesaikan studinya di Jerman dan kembali ke Ledalero. Meskipun kami pernah bertemu jauh sebelum saya ke Ledalero. Waktu itu saya baru tahun pertama di Mataloko (1990) dan Frater Budi Kleden, SVD, datang bersama almarhum P. Georg Kirchberger, SVD, memperkenalkan misi SVD dari Steyl, Belanda ke seluruh dunia.

Pastor Budi menjadi salah satu dosen teologi yang paling dirindukan oleh para mahasiswanya. Bukan karena materi kuliahnya, tapi karena caranya menyajikan materi kuliah teologi yang terasa di langit menjadi ‘membumi’. Serta keakrabannya dengan para mahasiswanya. Di sela-sela jam perkuliahan, beliau pasti meladeni diskusi ringan di waktu istirahat itu. Sambil dengan gaya khasnya menyapa mahasiswanya satu per satu. Beliau meladeni pertanyaan-pertanyaan menggelitik dan kadang-kadang ‘agak nakal’ dari para mahasiswa. Kebiasaan menyapa kami dengan nama ternyata membekas sampai kini. Beliau pasti masih ingat kami, padahal sudah hampir 30-an tahun lalu.

Buku pertama yang dihasilkannya saat di Ledalero, seingat saya, adalah Aku Yang Solider. (Maaf kalau saya keliru.) Buku ini, menurut kisah teman-teman seangkatan, adalah hasil olahannya ketika mendampingi para frater dalam retret menjelang kaul kekal di tahun 2002/2003. Terinspirasi dari puisi ‘Aku’-nya Chairil Anwar, pastor Budi kala itu mengupas tuntas secara bernas karya legendaris penyair Chairil Anwar. Kupasan tentang ‘Aku’-nya Chairil Anwar ini juga dipresentasikan dalam makalahnya, “Keterlukaan dan Solidaritas Menuju Politik Berbasis Compassio”, pada Seminar Internasional di Ledalero beberapa waktu lalu, yang kemudian dibukukan dalam buku “Teologi Publik Untuk Konteks Indonesia”.

‘Teologi Terlibat’-nya Budi Kleden memberi insight bahwa iman Katolik menuntut keterlibatan yang nyata dalam sejarah. Allah diyakini aktif menyelamatkan dunia, sehingga umat harus mewujudkan iman tersebut melalui kepedulian transformatif terhadap masalah sosial, politik, kebudayaan, hak asasi manusia, serta pendidikan di tengah masyarakat.

Keterlibatannya tidak hanya dalam halaman-halaman buku tulisannya. Beliau terlibat dalam perjuangan kemanusiaan sepanjang yang saya kenal. Kami pernah turun ke jalan berdemonstrasi mengutarakan pendapat menolak kebijakan pemerintah tentang UU Sisdiknas di hadapan Ketua DPR RI, Akbar Tanjung, kala itu di Ende (2003). Beliau terlibat aktif dalam perjuangan untuk kemanusiaan bersama Lembaga Kemanusiaan JPIC dan Truk-F, serta berbagai kegiatan kemanusiaan lainnya.

Pengalaman keterlibatannya ini tentu membuatnya tidak segan untuk turun ke jalan, menyerukan keadilan, membela HAM dan berlutut di hadapan penyintas gempa. Hari ini, Teolog Terlibat itu mengenang tahun ke-2 tahbisan Episkopal-nya. Jika ditanya, apa harapanku untuk beliau hari ini? Jawabku, “Semoga Uskup Budi dianugerahi kesehatan yang baik supaya terus menginspirasi Komunitas Gereja Katolik Flores dan Dunia, sebagaimana Gereja-Nya Yesus, seperti yang diamanatkan kepada Petrus, “…Engkaulah Petrus, di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan jemaat-Ku…”

Salam dari Maumere,

Oleh: RD. Yanuarius Hilarius Role

(Dosen IFTK Ledalero Maumere dengan NIDN: 1530017501)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.