Pergi ke Bethlehem Rumah Roti Hidup

oleh -2343 Dilihat
Holy Night Scene
banner 468x60

Pada musim dingin menjelang Natal (1865), seorang rohaniwan melakukan perjalanan dari Yerusalem ke Bethlehem. Jarak sekitar lebih dari 10 kilometer ditempuhnya dengan menunggang kuda. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke padang penggembalaan yang diyakini sebagai tempat para gembala menjaga kawanan domba. Panorama memikat dan suasana hening sekitarnya menorah kesan mendalam baginya.

Kenangan mengesankan itu menginspirasi lahirnya kidung terkenal pada tahun 1978 yang berjudul: “O Little Town Of Bethlehem”, “Hai Kota Mungil Bethlehem”. Lagu ini kiranya membantu kita untuk sedikit bermenungan tentang Bethlehem, tempat di mana Tuhan kita lahir ke dunia ini. Sepenggal liriknya demikian: Hai kota mungil Bethlehem, betapa kau senyap/ bintang di langit cemerlang melihat kau lelap/ Namun di Lorong g’lapmu bersinar t’rang baka/ harapanmu dan doamu kini terkabullah.

Sepenggal lirik dari lagu tersebut mengingatkan kita tentang suasana Natal pertama pada saat itu. Tanpa kembang api, tanpa lampu yang kelap kelip di mana-mana, tanpa musik yang terkadang mengganggu telinga. Hanya ada sunyi, cahaya bintang di langit, terang Kristus sendiri, dan juga hati Maria dan Yoseph yang tertuju pada Allah dan keagungan misteriNya itu.

Natal, sesungguhnya bukan sekedar pesta yang meriah. Natal juga bukan sekedar perayaan akan kelahiran seorang manusia biasa. Natal adalah momen suci untuk merayakan cinta, cinta Allah bagi manusia. Karena cinta itu, maka Allah menjelma menjadi manusia dan diam di antara kita. Natal dengan demikian seharusnya dirayakan secara utama, dengan doa yang khusuk dan tiada henti kepada Allah sendiri.  

Bacaan-bacaan suci yang pada hari raya Natal ini diwartakan kepada kita, terkhususnya bacaan Injil menyajikan tentang sebuah momen sederhana yang dialami oleh para gembala sesaat setelah Kristus lahir ke dunia. Ada 2 hal yang kiranya menjadi pokok permenungan kita pada hari raya Natal ini.

Pertama, marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana. Sama seperti Maria yang segera berangkat untuk menyaksikan tanda yang diterimanya mengenai Elisabeth pada waktu itu, demikian juga para gembala. Mereka ditampilkan sebagai saksi. Peran itu menarik sebab pada masa itu, gembala-gembala ditolak sebagai orang-orang yang tidak jujur, tidak dapat dipercaya, dan tidak boleh menjadi saksi dalam pengadilan. Akan tetapi, orang-orang yang disingkirkan seperti itulah yang dipilih Allah untuk menyaksikan dan memberi kesaksian tentang Anak-Nya.

Mari kita pergi ke Bethlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana. Inilah ajakan para gembala satu sama lain sesaat setelah mereka mendengar warta malaikat. Bethlehem, jika dimaknai secara mendalam, akan memiliki arti yang kemudian mengingatkan kita tentang peristiwa yang dialami oleh Tuhan Yesus Kristus di akhir karyaNya. Bethlehem secara harafiah artinya “Rumah Roti, Rumah Daging”.

Dengan demikian, Bethlehem, tempat kelahiran bayi Yesus, telah menjadi rumah daging sekaligus rumah roti, sumber rejeki rohani yang menopang para peziarah pengharapan dalam perjalanannya melintasi padang gurun kehidupan nan gersang dan penuh tantangan menuju tanah air surgawi. “Rumah Roti” juga sekaligus mengingatkan kita akan Sabda Yesus dalam Injil Yohanes: Akulah roti hidup” (Yohanes 6:35;48) dan “Akulah manna yang turun dari surga… (Yohanes 6:51). Bukan hanya itu, ini mengingatkan juga tentang perjamuan malam terakhir.  Yesus sendiri memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, sambil berkata: Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.”

Kedua, mereka menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu yang terbaring di palungan. Mereka lalu memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

Menarik bahwa anak itu, sang bayi Yesus dibaringkan dalam palungan. Palungan sesungguhnya mengingatkan tentang banyak misteri kehidupan Kristus dan membawanya dekat dengan kehidupan kita. Palungan sekaligus menjadi tempat Kristus berjumpa dengan kemiskinan dan mengajak kita untuk berjumpa pula dengan kemiskinan itu. Palungan adalah pralambang altar dan tempat sang Roti Hidup dibaringkan setelah Ia selesai melaksanakan karya penebusanNya.

Terhadap peristiwa itu, para gembala lalu mewartakan bahwa anak itu adalah Mesias, Penyelamat dan Tuhan. Banyak orang yang mendengarnya menjadi heran tanpa merenungkannya secara lebih mendalam. Mereka hanya menganggapnya sebagai sebuah peristiwa biasa yang berlalu tanpa dimaknai. Berbeda dari mereka, Maria justru menyimpan segala sesuatu itu di dalam hati dan merenungkannya. Maria ibarat “orang yang telah mendengar firman, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan”. Maria percaya tetapi belum mengerti dan harus mencari makna dari apa yang terjadi dan telah dikatakan, makna anakNya yang lahir sebagai manusia yang “disingkirkan” tetapi diberi gelar-gelar ilahi, Anak Allah, Tuhan, Juru Selamat.

Dari kedua hal tadi, apa yang dapat dibawa pulang untuk dunia dan kehidupan kita?

Pertama, pergi ke Bethlehem artinya pergi ke rumah roti untuk menerima roti yang sejati. Di manakah Bethlehem kita saat ini? Bethlehem kita adalah Gereja kita sendiri karena di dalamnya ada Roti Hidup, Kristus Tuhan yang hadir secara nyata di dalam setiap perayaan Ekaristi. Maka, natal kali ini adalah momen untuk merefleksikan kembali tentang penghayatan kita akan Eksristi. Apakah kita telah sungguh-sungguh sadar dan mengimani bahwa Ekaristi yang selalu kita rayakan dan terima adalah Kristus sendiri? Jangan-jangan kehadiran kita di dalam setiap perayaan Ekaristi hanya sekedar formalitas belaka supaya kita dikatakan orang-orang beragama. Ekaristi adalah jantung hidup Gereja. Tanpa Ekaristi, sulit bagi Gereja untuk hidup. Sebab melalui Ekaristi, Allah, Roti Hidup itu hadir secara nyata untuk memberkati dan menguatkan kita di jalan-jalan hidup kita.

Pergi ke Bethlehem juga berarti pergi ke tempat di mana pertama kali Kristus lahir di hati kita. Di manakah itu? Di dalam keluarga kita masing-masing. Maka, natal kali ini adalah momen untuk pergi, untuk pulang kepada keluarga masing-masing karena di dalamnya ada sukacita dari Tuhan sendiri. Di dalam keluargalah kita pertama kali Kristus lahir di hati kita. Di dalam keluargalah kita juga belajar mengenal dan mengimani Tuhan. Semoga keluarga-keluarga saat ini tetap menjadi tempat terindah bagi setiap orang untuk pulang kembali.

Kedua, pergi dan bersaksilah tentang Tuhan kita. Sebagaimana para gembala yang pergi untuk mewartakan sukacita kelahiran Kristus, demikian juga kita. Hendaknya setelah selesai perayaan Natal, kita pergi kepada dunia, pergi ke tengah masyarakat dan lingkungan kerja kita hanya untuk mewartakan bahwa Kristus telah lahir di hati kita dan memberkati hidup kita. Jangan lupa bahwa sebelum pergi untuk mewartakan sukacita itu, kita harus menjadi seperti Bunda Maria yang menyimpan dahulu semuanya itu dalam hati dan merenungkannya. Tanpa menyimpan dalam hati dan bermenung, maka natal hanyalah sebuah momen biasa yang dilalui setiap tahun tanpa dimaknai seutuhnya. Tanpa pemaknaan, natal hanya menjadi momen untuk memamerkan pakaian mana yang lebih bagus, lampu dan hiasan mana yang lebih terang dan indah, kue mana yang lebih manis dan enak, perayaan di mana yang lebih meriah. Amin.

Homili Hari Raya Natal 25 Desember 2024

Bacaan I         : Yes 62: 11-12

Bacaan II       : Tit. 3: 4-7

Bacaan Injil   : Luk. 2: 15-20

Oleh: Romo Rio Kanaf

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.