Kasih ALLAH sungguh hadir di dalam dunia. Kasih yang berkarya, kasih yang terarah kepada manusia dan yang merangkul segala sesuatu yang membentuk kemanusiaan Kasih ALLAH merangkul semua orang tanpa terkecuali, sebab ALLAH melihat hati tanpa memandang rupa. Kita adalah pendosa. Tetapi, kita adalah pendosa yang dikasihi oleh ALLAH.
ALLAH merangkul kita, pendosa yang bertobat ini, untuk mengalami belas kasihNYA. DIA tahu kita berdosa. DIA mengenal kita lebih dari kita mengenal diri kita sendiri. Segala dosa kita tak tersembunyi di hadapanNYA. Meski demikian, DIA tetap merangkul kita dengan KASIHNYA YANG PENUH KERAHIMAN.
Hari ini, kita mendengarkan kisah tentang seorang perempuan yang kedapatan berzinah dan hendak dihukum rajam oleh para ahli taurat dan orang-orang Farisi. Di balik narasi kecil ini, Yesus sedang membangun sikap belas kasih, mengambil sikap seorang yang Bijaksana dan penuh belas kasih yang amat sangat jauh dari sikap orang Farisi dan Ahli Taurat yang menganggap diri “lebih” dibandingkan dengan orang lain.
Dengan mengambil sikap yang bijaksana dan belas kasih ini, perempuan yang kedapatan berzinah ini pun “tidak merasa dirinya dihinakan tetapi sebagai orang yang ditemukan kembali dan dihargai kembali” harga diri dan keluhuran kemanusiaannya. Cinta kasih dan belas kasih Allah mengalir dalam dirinya. Belas kasih Allah telah melupakan segala dosa dan kejahatan yang telah dilakukannya. Yesus mengungkapan cinta dan belas kasihNya yang luar biasa kepada perempuan yang berzinah, bahwa walaupun dia telah tertangkap basah berbuat zinah “tetaplah kemanusiaannya tidak bernoda.”
Di akhir narasi ini, kita mendengarkan kata-kata Yesus”Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa (lebih banyak) lagi mulai dari sekarang.” “Keadilan timbul dari cinta kasih dan disempurnakan dalam cinta kasih pula, sehingga menghasilkan buah-buah keselamatan…dan dapat memperoleh kembali jalan masuk kepada kepenuhan dan kekudusan hidup yang berasal dari Allah”, inilah yang dialami oleh wanita tersebut, yang pergi dengan penuh sukacita dan kedamaian. Allah memang tidak dapat menderita tetapi Ia dapat turut menderita bersama orang menderita agar yang menderita diangkat dan dimuliakan.
Kita semua berdosa dan memiliki kelemahan serta kekurangan. Daripada mengangkat batu dan merasa diri benar lalu mempersalahkan orang lain adalah lebih baik kita mengangkat hati kepada TUHAN, mengakui segala salah dan dosa kita, mohon pengampunan daripadaNYA. ALLAH MAHARAHIM akan merangkul kita dengan penuh belas kasih.
Kini, bukan saatnya kita melihat dan memperhatikan kesalahan dan kelemahan orang lain. Setiap orang memiliki kelemahan dan kekurangan tetapi berkat kasih ALLAH, setiap orang berkelimpahan rahmat pengampunan yang membawa seseorang pada pertobatan dan perubahan cara hidup. Setiap orang memiliki masa lalu yang buruk dan pahit, tetapi KASIH KARUNIA ALLAH selalu mengalir dalam diri setiap orang yang tidak lagi hidup dalam masa lalu, tetapi hidup dalam kelimpahan kasih KARUNIA ALLAH di masa kini dengan meninggalkan cara hidup yang lama, pergi dari cara hidup yang lama dan tidak berbuat dosa, tidak lagi kembali kepada kegelapan yang paling gelap. CUKUP memperhatikan kesalahan dan kekurangan orang lain.
Mari kita kembali ke dalam diri kita, ada banyak kekurangan yang mesti kita perbaiki. Dari pada kita sibuk dan menyibukan diri dengan memperhatikan kesalahan orang lain, adalah lebih baik kita berbenah diri lebih baik lagi. KASIH ALLAH MERANGKUL KITA, agar kita tinggal dalam kerahimanNYA dan bertumbuh dalam pengampunan dan belas kasih. TUHAN mengasihi kita.
TABE MOMANG
Dasar Biblis Dan. 13:41-62; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Yoh. 8:1-11
Oleh: Reverendus Dominus [RD]. RIANO TAGUNG / Pastor Paroki Hati Maha Kudus Tuhan Yesus Pota









