VIKTOR Franki, meyakinkan kita melalui pengalaman hidupnya sendiri di kamp konsentrasi Auschwitz bahwa penderitaan itu bermakna. Artinya, makna hidup ditemukan tidak hanya lewat keberhasilan, tanggung jawab, relasi yang baik dengan orang-orang yang kita cintai, tetapi juga melalui hal-hal yang ada di luar kendali kita: penyakit tertentu, penderitaan, hal-hal yang tidak dapat diubah, dan tidak dapat dihindari. Penyakit, ketidakberhasilan atau kegagalan, bahkan kematian pun bisa membawa makna yang penuh.
Yesaya menubuatkan hamba Yahweh yang menderita (Yes 53:10- 11). Dikatakan bahwa Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Tetapi, apabila ia menyerahkan dirinya sebagai kurban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak Tuhan akan terlaksana olehnya. Ada tiga hal yang menjadi buah dari penyerahan dirinya. Pertama, melihat keturunannya berarti melihat generasi penerusnya; Kedua, dengan umurnya yang akan lanjut berarti dia memiliki kesempatan untuk mendidik keturunannya dengan pengalaman hidupnya yang panjang. Hal yang paling penting ialah bahwa kehendak Allah terlaksana. Maksudnya, hanya “kehendak- Allah-yang-terwujud” yang menjadi keinginan terdalam hatinya dan untuk itu dia mau mengorbankan hidupnya. Memang tidak mudah. Dia akan mengalami kesusahan karena itu. Kesusahan terberat itu ialah kesusahan jiwanya. Tetapi sesudah kesusahan jiwanya, ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan sebagai orang yang benar, dia akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Gambaran ini adalah gambaran Sang Mesias dalam Perjanjian Baru, yakni Yesus yang akan mengalami penderitaan, bahkan kematian.
Yesus adalah Guru sekaligus teladan bagi kita dalam memaknai penderitaan atau pergulatan dalam hidup. Sejak awal la sudah mengetahui maksud kedatangan-Nya ke dunia, mengetahui penderitaan yang akan dialami-Nya, bahkan menubuatkannya tiga kali. Dia adalah Mesias yang menderita untuk manusia, karena keputusan-Nya sebagai Putra Allah telah membawa Dia sampai pada ketaatan yang sempurna kepada Bapa sekaligus cinta yang sempurna kepada manusia.
Jika jalan yang dipilih Yesus ialah jalan penebusan dan keselamatan, maka untuk itu la harus menderita bahkan sampai mati, bukankah hal demikian juga menjadi gambaran hidup dari para pengikut-Nya. Maka, terhadap dua murid-Nya (Yakobus dan Yohanes), yang meminta kehormatan dan kedudukan, Yesus bertanya, “Apakah mereka sanggup meminum cawan yang harus diminum Yesus dan dibaptis dengan baptisan yang harus diterima-Nya?” Pertanyaan ini adalah pertanyaan abadi Yesus, yang akan terus menemani kita. Sanggupkah kita berkurban demi nama-Nya? Sanggupkah kita menderita karena mengikuti Dia?
Misi para murid ialah pewartaan bahwa Yesus adalah Kristus, sekaligus menunjukkan bahwa Kristus itu ialah Hamba Allah yang menderita demi manusia. Misi yang pertama-tama harus kita lakukan ialah pertobatan nyata sebagai bentuk kesaksian hidup atas perbuatan kita. Orang Kristen menjadi saksi bahwa memaafkan lebih kuat daripada balas dendam, kebaikan lebih kuat daripada kebencian, setia kawan dengan orang-orang yang kecil, lemah, miskin, tertindas, difabel (KLMTD), perhatian terhadap mereka yang berkekurangan, memiliki keuntungan politis dan ekonomis; mengurangi penderitaan, termasuk penderitaan musuh-musuh mereka, dan menyembuhkan luka-luka sesamanya. Dengan kesaksian ini, kita memberi kesaksian yang didasarkan pada iman akan maklumat Yesus, menjadi saksi keselamatan ilahi dalam dunia yang kacau.
Untuk itu, bermisi menuntut tahan uji, kesabaran, daya juang dalam hening dan kesetiaan, seperti Yesus Sang Guru, Mesias kita. [RP. Alfonsus Arpol Manik, O.Carm.]







