Dari Zakharias Ze hingga Leonardo Ze

oleh -278 Dilihat
banner 468x60

(Estafet Rahmat dalam Sejarah Panggilan Imamat)

Tahbisan imamat selalu merupakan peristiwa rahmat—bukan hanya bagi pribadi yang dipanggil, tetapi juga bagi keluarga, Gereja lokal, dan umat beriman yang menjadi ladang perutusannya. Dalam terang itu, tahbisan Diakon Frederik Leonardo Ze sebagai imam diosesan Keuskupan Manado menjadi peristiwa yang memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam. Ia hadir bukan sebagai kisah panggilan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai kelanjutan dari tradisi iman keluarga yang telah berlangsung lintas generasi.

Jejak sejarah itu dapat ditelusuri hingga sosok Pater Zakharias Ze, SVD, imam pertama dari wilayah Ngada-Nagekeo, yang ditahbiskan pada 16 September 1945 di Mataloko. Dalam konteks Gereja Flores pada masa itu, tahbisan tersebut merupakan tonggak penting tumbuhnya panggilan imam pribumi di tengah dinamika Gereja yang masih berkembang. Delapan dekade kemudian, semangat panggilan yang sama kembali hadir dalam diri Romo Leonardo Ze.

Keluarga sebagai Ruang Pertumbuhan Panggilan

Panggilan imamat tidak lahir dalam ruang kosong. Ia tumbuh dalam pengalaman iman yang konkret, terutama dalam kehidupan keluarga. Dalam perjalanan panggilan Frederik Leonardo Ze, lingkungan keluarga memainkan peranan yang sangat menentukan.

Selain teladan buyutnya, Romo Leon juga bertumbuh dalam keluarga yang dekat dengan kehidupan imamat. Tiga orang pamannya adalah imam:

1. Thomas Tue, SVD (tahbisan 1985)
2. Eduardus Ebu, SVD (tahbisan 1996)
3. Sevrin Nuwa, O.Carm (tahbisan 2009)

Kehadiran para imam dalam keluarga besar bukan sekadar kebanggaan genealogis, tetapi merupakan ruang pembelajaran iman yang nyata. Dalam tradisi Gereja Katolik, keluarga sering disebut sebagai “Gereja rumah tangga” (ecclesia domestica), tempat iman ditanamkan dan panggilan dipelihara sejak dini. Dalam konteks seperti inilah panggilan Romo Leon menemukan akarnya.

Keteladanan Orang Tua dalam Kesederhanaan

Di balik setiap tahbisan imam selalu ada kisah kesetiaan orang tua yang bekerja dalam diam. Demikian pula perjalanan panggilan Romo Leon tidak dapat dilepaskan dari peran keluarga inti yang membentuk karakter dan spiritualitasnya.

Ayahnya, Blasius Beko, dikenal sebagai transmigran yang berhasil membangun kehidupan keluarga melalui kerja keras di wilayah Morowali, Sulawesi Tengah. Dalam situasi transmigrasi yang penuh tantangan, keberhasilan tersebut mencerminkan ketekunan dan daya juang yang kuat.

Sementara itu, ibunya adalah seorang guru sederhana yang menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat pengabdian sejak dini. Perpaduan keteladanan keduanya menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan panggilan imamat dalam diri Romo Leon.

Tahbisan sebagai Awal Perutusan

Tahbisan Diakon Frederik Leonardo Ze berlangsung di Gereja Hati Tersuci Maria Katedral Manado, menandai perutusannya sebagai imam diosesan Keuskupan Manado.

Sebagai imam diosesan, ia dipanggil untuk hidup dan melayani umat secara langsung dalam dinamika konkret Gereja lokal. Perutusan awalnya dipercayakan di Paroki Santu Petrus Nulion, sebuah medan pelayanan yang menjadi ruang pertama penghayatan imamatnya.

Di tempat seperti inilah seorang imam baru menghidupi panggilannya secara nyata: merayakan sakramen, mendampingi umat, menguatkan yang lemah, serta menghadirkan wajah Gereja yang dekat dan melayani.

Rangkaian ini menunjukkan bahwa panggilan imamat dalam keluarga bukanlah peristiwa yang terpisah-pisah, melainkan sebuah perjalanan rahmat yang berkelanjutan.

Estafet Rahmat yang Berlanjut

Jika dirunut dalam rentang sejarah keluarga, perjalanan panggilan ini membentuk sebuah kesinambungan yang jelas:

  1. Tahun 1945: Zakharias Ze ditahbiskan sebagai imam pertama dari Nagekeo

  2. Tahun 1985: Thomas Tue, SVD ditahbiskan
  3. Tahun 1996: Eduardus Ebu, SVD ditahbiskan

  4. Tahun 2009: Sevrin Nuwa, O.Carm ditahbiskan

  5. Tahun 2026: Frederik Leonardo Ze ditahbiskan sebagai imam diosesan Keuskupan Manado

Rangkaian ini menunjukkan bahwa panggilan imamat dalam keluarga bukanlah peristiwa yang terpisah-pisah, melainkan sebuah perjalanan rahmat yang berkelanjutan.

Dari Sejarah Keluarga Menuju Sejarah Gereja

Tahbisan Frederik Leonardo Ze menegaskan bahwa panggilan imamat selalu berakar dalam keluarga, tetapi menemukan maknanya dalam Gereja. Dari tahbisan Pater Zakharias Ze pada tahun 1945 hingga tahbisan Romo Leonard pada tahun 2026, terbentang lebih dari delapan dekade perjalanan iman yang memperlihatkan kesetiaan Tuhan yang terus bekerja dalam sejarah manusia.

Karena itu, tahbisan Romo Leonard bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga tanda harapan bagi Gereja bahwa panggilan imamat tetap hidup dan terus bertumbuh di tengah perubahan zaman. Dari Zakharias Ze hingga Leonardo Ze, estafet rahmat itu tetap menyala—dan kini melangkah maju bersama Gereja di Paroki Santu Petrus Nulion, Keuskupan Manado. Profisiat Rm. Leon.

Oleh: Vitalis Wolo

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.