Dari Mayor TNI ke Takhta Uskup Sintang, Inilah Sosok Pastor Pemberani yang Membawa 1.000 Guru NTT ke Pedalaman Kalimantan

oleh -295 Dilihat
banner 468x60

Tak banyak yang tahu bahwa di balik sosok sederhana seorang uskup di Kalimantan, tersimpan kisah luar biasa tentang seorang mantan perwira TNI berpangkat Mayor yang pernah berada di tengah situasi genting konflik sosial Indonesia. Dialah Mgr. Isak Doera — gembala tangguh asal Flores yang dikenang karena keberanian, ketegasan, dan kepeduliannya terhadap pendidikan masyarakat pedalaman.

Mgr. Isak Doera lahir pada 29 September 1931 sebagai anak sulung dari sembilan bersaudara dalam keluarga sederhana yang sangat religius. Ayahnya, Mikhael Bhoka, dikenal sebagai seorang katekis yang aktif melayani Gereja bersama istrinya, Clara Maru. Sejak kecil, Isak tumbuh dalam suasana iman yang kuat di tanah Flores.

Pendidikan awalnya ditempuh di Seminari Menengah Santo Yohanes Berchmans Todabelu, Mataloko, hingga tamat pada tahun 1952. Semangat pengabdiannya membawanya melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Maumere. Setelah bertahun-tahun menjalani pembinaan keras, ia akhirnya ditahbiskan menjadi imam diosesan Ende pada 18 Januari 1959 oleh Mgr. Antoine Hubert Thijssen.

Sebagai imam muda, Pastor Isak dikenal aktif dan multitalenta. Ia dipercaya menjadi Kepala Yayasan Vedapura di Bajawa serta penilik sekolah-sekolah Katolik. Namun kiprahnya tidak berhenti di dunia pendidikan dan pastoral. Pada awal 1960-an, ia juga masuk ke dunia politik dengan menjadi anggota DPRD Tingkat II Ngada sebagai wakil Golongan Karya Alim Ulama Katolik.

Situasi Indonesia yang penuh gejolak pada masa itu membuat kemampuan kepemimpinannya semakin diperhitungkan. Pada tahun 1966, ia mendapat penugasan khusus sebagai Pastor ABRI di Jakarta di bawah Pusat Rohani Katolik Angkatan Darat dengan pangkat Mayor Tituler. Penugasan itu menjadikannya salah satu imam yang memiliki hubungan erat dengan dunia militer.

Setahun kemudian, ia diutus ke Kalimantan Barat sebagai Kepala Rohkatdam XII/Tanjungpura di Pontianak. Di tengah situasi pasca-konflik etnis Tionghoa-Dayak yang rawan chaos, Pastor Isak tampil sebagai jembatan perdamaian antara masyarakat dan aparat keamanan. Perannya kala itu membuat namanya semakin dihormati.

Karier pastoralnya terus menanjak hingga dipercaya menjadi Pastor Kepala Paroki Katedral Sintang pada 1975. Tak lama berselang, Vatikan menunjuknya sebagai Uskup Sintang pada 9 Desember 1976. Ia resmi ditahbiskan menjadi uskup pada 19 Mei 1977.

Sebagai Uskup Sintang, Mgr. Isak Doera dikenal berani membuat langkah-langkah besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Salah satu gebrakan paling fenomenal adalah mendatangkan sekitar 1.000 guru SD dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ke pedalaman Kalimantan pada tahun 1977. Langkah ini dilakukan demi mengatasi krisis pendidikan di wilayah-wilayah terpencil yang sulit dijangkau.

Tidak hanya guru, ia juga membawa para imam SVD serta para suster dari berbagai kongregasi untuk memperkuat pelayanan Gereja dan pendidikan masyarakat Dayak. Di bawah kepemimpinannya, pendidikan di Sintang berkembang pesat.

Perhatian Mgr. Isak terhadap masyarakat kecil juga terlihat dalam bidang ekonomi. Ia mendatangkan tenaga pertanian dari Jawa untuk mengajarkan teknik bersawah kepada masyarakat Dayak, sekaligus mengembangkan perkebunan karet demi meningkatkan kesejahteraan warga.

Di tingkat nasional, kiprahnya semakin diperhitungkan. Ia dipercaya memimpin Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi dan Komisi Komunikasi Sosial di Konferensi Waligereja Indonesia selama dua periode.

Meski dikenal tegas, Mgr. Isak tetap hidup sederhana dan dekat dengan rakyat kecil. Setelah mengundurkan diri sebagai Uskup Sintang pada 1 Januari 1996, ia memilih menjalani masa emeritus di Jakarta sambil tetap aktif membimbing kehidupan rohani umat.

Pada 19 Mei 2012, tepat di hari peringatan 35 tahun tahbisan uskupnya, sang gembala besar mengembuskan napas terakhir di RS Sint Carolus Jakarta. Kepergiannya meninggalkan jejak besar dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia, khususnya bagi masyarakat pedalaman Kalimantan yang pernah merasakan sentuhan pengabdiannya.

Mgr. Isak Doera bukan sekadar uskup. Ia adalah simbol keberanian, pendidikan, dan pelayanan tanpa batas — seorang mantan Mayor TNI yang memilih mengabdikan hidupnya demi rakyat kecil dan masa depan generasi pedalaman Indonesia.

(Sumber: Cinta Katolik)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.