Setiap kita tentunya memiliki sukacita tersendiri dalam hidup. Akan tetapi, terkadang sukacita yang dialami dikonsumsi atau dinikmati seorang diri, tanpa dibagikan kepada orang lain. Padahal, sukacita itu bisa semakin berlimpah dan menjadi berkat, ketika dibagikan dengan orang lain. Percayalah satu hal bahwa ketika sukacita itu dibagikan, ia tidak akan berkurang karena Tuhan tahu bahwa berkat yang kita terima telah dibagikan untuk kehidupan ini dan untuk orang lain.
Bacaan-bacaan suci pada hari ini, terkhususnya bacaan Injil menampilkan bagaimana Bunda Maria mengunjungi saudarinya Elisabeth dan berbagi sukacita dengannya. Ada 2 hal yang dapat menjadi fokus permenungan kita di hari minggu Adven IV ini.
Pertama, Maria mengunjungi Elisabeth saudarinya. Tanda sukacita yang dialami oleh Maria ditanggapinya dengan iman. Ia kemudian pergi untuk mengunjungi Elisabeth saudarinya. Kabar gembira dan pergumulan tidak ia simpan untuk dirinya sendiri. Jarak yang jauh (sekitar 160-180 km) ditempuhnya dengan penuh sukacita. Sesampainya di rumah Zakharia, ia memberi salam kepada Elisabeth. Ibu Tuhan berjumpa dengan Ibu nabi besar. Mereka adalah perempuan-perempuan yang mengalami keajaiban Tuhan dalam dirinya. Salam yang diucapkan oleh Malaikat Gabriel kepada Maria diteruskan oleh Maria kepada Elisabeth saudarinya.
Kedua, salam Elisabeth kepada Maria. Ketika Maria masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabeth, anak yang di dalam rahim Elisabeth (Yohanes Pembaptis) melonjak kegirangan dan Elisabeth dipenuhi dengan Roh Kudus. Melonjaknya anak dalam rahim Elisabeth sekaligus mengingatkan tentang bagaimana Raja Daud melonjak kegirangan di hadapan Tabut Perjanjian. Maria adalah Tabut Perjanjian yang baru. Suara salam dari Maria juga penuh kekuatan. Yang didengar oleh Elisabeth memang adalah suara Maria. Tetapi suara Maria itu adalah suara yang membawa Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia di dalam rahimnya. Suara Maria adalah suara yang menghantar orang dekat dengan Sang Sabda.
Setelah dipenuhi dengan Roh Kudus, Elisabeth memberikan sebuah penghormatan yang tidak biasa bagi Maria. “Diberkatilah engkau di antara semua wanita, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Dalam tata krama orang Ibrani, seorang gadis muda seharusnya memberi salam yang istimewa kepada ibu yang lebih tua. Akan tetapi di sini terbalik. Justru Elisabeth yang tua memberi salam kepada Maria. Bahkan salam itu adalah salam yang istimewa. Di dalam salam itu, Elisabeth bukan menyebut Maria sebagai saudari melainkan ibu Tuhan. Apa arti salam ini? Artinya bahwa sejak Maria menerima Yesus dalam rahimnya, status Maria “diangkat” menjadi Theotokos: Bunda Allah. Maria melampaui relasi sosiologis dengan Elisabeth. Dia bukan hanya saudari, tetapi ia juga adalah Ibu Tuhan (Mater tou Theou).
Seruan salam Elisabeth ini juga sekaligus menggaungkan kembali salam Malaikat Gabriel: “Salam hai Engkau yang dikaruniai” (Chaire kecharitomene). Dua kali penginjil Lukas menunjukkan keistimewaan Maria bukan dari perspektif “dari bawah” tetapi “dari atas”. Salam dari Malaikat dan salam dari Elisabeth yang dipenuhi dengan Roh Kudus.
Dari kedua hal ini, apa yang dapat dibawa pulang untuk dunia dan kehidupan kita? Pertama, dunia sekarang berada di tengah gempuran teknologi yang begitu mengagumkan. Saking mengagumkan, sampai-sampai membuat kita menjadi kesepian. Kesepian yang tidak ditangapi dengan bijaksana akhirnya akan membunuh kita secara perlahan. Apalagi saat ini, dari HP, kita bisa berkomunikasi seorang diri dengan kecerdasan buatan. Semakin memperparah kita dalam kesepian. Adventus menjadi sebuah momen di mana orang saling mengunjungi dan berbagi sukacita. Suara orang-orang yang selalu membawa Tuhan di dalam dirinya – terlebih selepas perayaan ekaristi – adalah suara yang harus menyenangkan dan membawa sukacita. Maka, berjuanglah untuk berjumpa secara nyata dengan orang lain sambil membawa suara yang mendatangkan sukacita.
Kedua, jika Elisabeth sejak semula telah mengakui “status mulia Maria” saudarinya sendiri menjadi Ibu Tuhan dan bergembira bersama Yohanes ketika mendengar salam Maria, maka berbahagialah kita anggota Gereja yang masih mendengarkan dan mendaraskan doa Salam Maria. Ingat, devosi Salam Maria bukan hanya digaungkan oleh anggota Gereja Katolik, tetapi devosi Salam Maria sudah digaungkan oleh Malaikat Gabriel dan juga Elisabeth. Amin.
Homili Hari Minggu Adven IV
Bacaan I : Mi 5: 1-4a
Bacaan II : Ibr 10: 5-10
Bacaan Injil : Luk. 1: 39-45
Oleh: Romo Rio Kanaf







