Tugas Kerasulan

oleh -56 Dilihat
banner 468x60

Tugas para nabi dalam mengemban misi nubuah, para rasul yang mengemban risalah, juga para wali yang mengemban tugas wilayah (kewalian), sangat identik dengan peran para pemimpin adil yang memakmurkan dan menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya.

Islam menekankan prinsip “taqwa” yang selaras dengan konsep menegakkan keadilan dan menentang kesewenangan. Perjuangan para nabi dalam sepanjang sejarah, berbeda dengan perjuangan kaum yogi dan pertapa yang bersemedi di bukit-bukit pegunungan dan goa-goa, yang kemudian meninggalkan dunia dengan cara moksa menuju kahyangan.

Tetapi, Islam memerintahkan orang-orang suci itu agar segera turun dari gunung-gunung, bersatu dengan masyarakat, menyampaikan misi kebaikan dan mencegah kemungkaran. Konsep “Ratu Adil” yang menyuarakan risalah kebenaran di akhir zaman, juga identik dengan peran Imam Mahdi (Islam), Messiah (Kristen), Avatar (Hindu), Satrio Piningit (Jawa), hingga Budak Angon dalam tradisi masyarakat Pasundan.

Itulah tugas utama manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, sebagaimana rakyat Indonesia yang menentang penjajahan, ketika Pemerintah Portugis, Belanda maupun Jepang ingin menduduki dan menguasai wilayah Nusantara. Di bawah kepemimpinan Bung Karno dan founding fathers, yang menegaskan kemerdekaan baru jembatan emas (1945), maka revolusi kemerdekaan jiwa harus terus dilanjutkan, dengan misi menegakkan prinsip keadilan dan menentang penjajahan, khususnya di bidang ekonomi, politik dan budaya (neokolonialisme).

Sementara, para penjajah itu terus berambisi menggalakkan eksploitasi manusia atas manusia lain, mengeruk dan menguras sumber daya alam dari negeri-negeri lain. Ironisnya, sebagian bangsa Indonesia justru terlena dan sibuk berdebat di seputar perbedaan mazhab dan aliran kepercayaan. Fungsi utama sebagai khalifah yang diteladani Rasulullah, dengan memprioritaskan perjuangan kemerdekaan, membebaskan para budak dari cengkeraman kaum feodal (Jahiliyah), hingga mempersatukan kabilah dan mendirikan kota dengan masyarakat heterogen (di Madinah), kini semakin tergerus dan diselewengkan.

Banyak kaum muslimin Indonesia, termasuk sebagian mubalig dan penceramah agama, justru masih dangkal wawasan, berkutat di wilayah sepele dan sampingan belaka. Mereka lebih sibuk mengkafirkan mazhab dan aliran lain, memperdebatkan urusan Sunni-Syiah, Mu’tazilah-Asyariyah, bahkan sebagian muslimin di tanah kelahiran Rasulullah (Arab Saudi) terang-terangan memihak kaum penjajah dan agresor (Israel dan Amerika) yang telah terbukti membunuh dan mengorbankan jutaan saudara seiman dan seagama di negeri Palestina.

Demi kepentingan dinasti kekuasaan, berikut aksesoris duniawi yang meliputi harta, tahta, wanita dan anak-anak keturunan, mereka telah lupa dan terlena akan adanya negeri akhirat yang sejati dan abadi. Akan tetapi, lebih mementingkan urusan surga duniawi yang gaungnya hanya sepintas, bagaikan singgah sejenak di bawah pohon beringin, hanya untuk minum seteguk air. Setelah itu, mereka akan terseret oleh penyesalan di negeri akhirat, menderita dan nelangsa, ibarat sang musafir yang tertatih-tatih kehausan di sepanjang Padang Pasir yang kering kerontang. []

Oleh: Ahmad Rafiuddin

(Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), pengasuh ponpes Tebuireng 09, juga penulis buku best seller “Marwah Pesantren” (2024))

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.