Rangkaian Ujian Hidup

oleh -49 Dilihat
banner 468x60

Ujian hidup akan dialami semua orang, dari zaman ke zaman secara silih berganti, bahkan dengan porsi yang merata di mana-mana. Kita kadang mengalami keterbatasan, kegagalan, kehilangan harta dan benda, bahkan orang yang kita cintai.

Allah memerintahkan kita agar terus memelihara sikap sabar dan syukur, sebagai ujung tombak dan modal utama kaum beriman. Kita harus tetap konsisten percaya pada keadilan dan kasih sayang Allah.

Sebaliknya, banyak orang yang frustasi dan putus asa, sebagaimana setan dan Iblis telah frustasi dari kasih sayang dan pertolongan Allah, oleh karena bersikap angkuh dan pongah di saat hidup mereka berada dalam kenikmatan dan kelapangan.

Berkali-kali Tuhan memberi teguran bagi Bani Israel (keturunan Yakub), bahwa hidup manusia di muka bumi ini telah dirancang untuk menghadapi segala cobaan dan ujian, serta bangkit dari satu masalah kepada masalah lainnya.

Tak mungkin kita meminta pada Tuhan agar ditiadakan dari masalah, meskipun kita bersembunyi dan bersemedi di balik batu karang sekalipun.

Untuk itu, tidak selayaknya kita berdoa agar ditiadakan dari masalah hidup. Sebab, hal tersebut akan menyalahi hukum kodrat manusia. Tetapi, seyogyanya memohon agar dikuatkan dalam menghadapi segala cobaan dan ujian. Karena pada hakikatnya, tiada daya dan upaya agar bangkit dari masalah, mengubah situasi dan keadaan, bahkan membolak-balik hati manusia, kecuali dengan kehendak dan pertolongan Allah semata.

Ketahuilah di akhir zaman ini, setiap agama dan kepercayaan apa pun mendambakan adanya Satrio Piningit atau Ratu Adil. Termasuk bangsa Israel yang merasa dirinya tersakiti, seakan telah menjadi korban dan diperlakukan tidak adil dan sewenang-wenang. Banyak etnis dan suku bangsa, merasa telah menjadi korban dari keganasan hidup. Kadang mereka melemparkan tuduhan pada zaman, atau pihak lain yang dianggap rival dan musuh utama.

Sedangkan Islam dan teladan Rasulullah mengajarkan agar kita hendaknya bermuhasabah dan introspeksi diri, serta memberi maaf dan saling tolong menolong, seberat apa pun beban yang pernah dipikul di masa lalu. Karena bagaimana pun, di situlah kualitas ketakwaan akan teruji. Sedangkan, sebaik-baik hamba Allah, adalah mereka yang tinggi kualitas ketakwaannya. (*)

Oleh: Eeng Nurhaeni

(Pengasuh Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten, menulis esai dan puisi untuk media-media nasional, seperti Kompas, Media Indonesia, Republika, Radar NTT dan lain-lain)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.