Menuju Kesadaran Kolektif Bangsa

oleh -60 Dilihat
banner 468x60

Pada saatnya nanti, orang-orang beriman yang memiliki frekuensi sama akan bersatu ke dalam jiwa-jiwa yang memiliki kesadaran tinggi, dan tentu menghadapi kutub berseberangan dengan mereka yang berkesadaran rendah.

Polarisasi dua kutub melahirkan kelompok manusia yang mengalami kebangkitan spiritual, ketimbang mereka yang merasa nyaman dengan kemegahan duniawi dan kesenangan sesaat.

Namun pada akhirnya, mereka yang memiliki kesadaran rendah akan sulit mengalami kejernihan iman, hingga mudah terhempas oleh seleksi alam, karena pilihan hidup yang mereka putuskan sendiri.

Dalam karya pujangga Jayabaya, terungkap bahwa kelak akan terjadi huru-hara atau seleksi alam, hingga pasar-pasar kehilangan pembeli, sungai-sungai kehilangan sumber mata air, meskipun transportasi telah dipermudah dengan beragam jalan tol dan jalur kereta api. Itulah era ketika kepercayaan dan ideologi Dajjal memasuki relung-relung jiwa masyarakat dan rumah-tangga bangsa, hingga memasuki kampung-kampung pedalaman.

Yang benar dianggap salah, yang jujur dikucilkan dan dilengserkan dari kursi kekuasaan. Banyak orang melanggar janji dan sumpah, karena kepentingan harta, tahta dan wanita, sampai kemudian muncullah sosok lelaki yang mendapat petunjuk ilahi (Al-Mahdi), melahirkan zaman baru yang tak gentar menegakkan prinsip kebenaran dan keadilan; melahirkan jiwa-jiwa manusia merdeka yang saling menyatukan kekuatan orang beriman.

Sosok penegak keadilan ini akan muncul dan sangat ditakuti para arsitek kegelapan dari zaman ke zaman, karena kehadirannya akan menghempaskan perbudakan modern hingga jaringan para elit global. Ia bergerak berdasarkan petunjuk wahyu yang tak mungkin terkontrol oleh teknologi dan pengawasan secanggih apa pun.

Maka, tibalah saatnya, ketika zaman kolobendu berganti dengan era welas asih, peleburan segala angkara murka, hingga mereka yang berkesadaran rendah akan dipisahkan oleh semesta dan hukum alam.

Untuk itu, kebangkitan spiritual akhir-akhir ini kian merata di mana-mana. Kelak mereka yang tercerahkan, akan menjaga jarak dengan orang-orang toxic yang memiliki vibrasi negatif. Polarisasi kedua kubu semakin kentara antara hak dan batil, baik dan buruk, bahkan keadilan dan kesewenangan. Hingga orang-orang spiritual meskipun sedikit, namun akan memancarkan energi positif, dan semakin menyadari jati dirinya.

Sementara, mereka yang vibrasinya rendah akan terjatuh ke dalam sikap pesimis, skeptis, dan bermental korban. Mereka akan hilang kesadarannya seperti orang linglung mengalami amnesia, lalu menebar kejahatan, serta bertahan hidup dengan berusaha menyerap energi dari sesama kelompoknya.

Mereka yang vibrasinya tinggi akan bergetar di medan energi positif, menularkan kebaikan dan kearifan terhadap lingkungannya, bahkan mudah menyembuhkan luka yang tergores dalam kalbunya.

Proses penyembuhan ini terjadi secara alami, hingga orang-orang baik akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Mereka semakin peka dan pintar memilah-milah energi, juga semakin sensitif pada lingkungan sekitarnya, bahkan berjiwa ikhlas untuk saling menyembuhkan sesamanya. Mereka akan mematahkan rencana jahat dari agenda-agenda Iblis yang sibuk merancang arsitektur kegelapan.

Sebaliknya, orang-orang toxic yang mati hatinya, mereka akan sulit mendapatkan akses, bahkan hanya dapat berkerumun dengan sesama gerombolannya. Karena frekuensi mereka tak mungkin selaras dengan jiwa-jiwa yang tersucikan. Kebangkitan spiritual yang bergema (echo chamber), seakan tak berpengaruh dalam sanubari mereka. Pada akhirnya, akan terjadi perjumpaan alami bagi jiwa-jiwa yang memiliki satu frekuensi dalam kesadaran dan kebangkitan spiritual.

Umat Islam akan melebur ke dalam jiwa-jiwa yang Islami, dan output-nya menjadi manusia berbudi luhur dan berkesadaran tinggi. Mereka memiliki sikap welas-asih, sebagai manifestasi sifat rahman-rahim Allah. DNA leluhur dalam diri mereka, baik jasmani maupun rohani, akan menjelma ke dalam karakteristik manusia-manusia Islami, dan bukan semata-mata berbaju Islam. Akan tetapi, perkumpulan dalam satu ruangan yang diisi oleh mereka yang mengalami kebangkitan spiritual yang sama, baik yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Cu dan lain-lain.

Mereka sama-sama memiliki vibrasi tinggi yang gemanya membangkitkan kesadaran kolektif, memandang keimanan agama lain (liyan) sebagai bagian dari rahmatan lil alamin. Wawasan akidah teologis yang semakin bermetamorfose ke dalam pandangan sosiologis dan antropologis.

Sikap welas asih mereka, memancarkan energi umat yang saling memberdayakan nilai-nilai kemanusiaan. Bukan lagi memperdayakan manusia dan mengeksploitasi sesamanya. ***

Oleh: K.H. Ahmad Rafiuddin

(Ketua Tanfidziyah PBNU Jakarta, Pengasuh Pesantren Tebuireng 09, Rangkasbitung, Banten, juga menulis esai dan puisi keislaman di berbagai media nasional luring dan daring)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.