Hujan di Balik Tembok

oleh -799 Dilihat
banner 468x60


Musim ini sedang tidak menentu, kadang flu dan batuk terantuk, remuk jadi satu pada mata yang mampu menjamu kepulan awan mendung.

Hujan tidak menentu, sebagian jatuh pada ubun-ubun dendam, sebagian terbenam pada demam rindu.

Doa-doa kembali dilantunkan bersama rintik hujan di balik tembok.

Kita sepakat untuk menepi di balik tembok, maklum demi secuil martabat yang sudah lama diralat leluhur. Kita ini adalah susunan batu yang sedang menanti kejatuhan atau kepastian.

Sementara hujan terus mengguyuri genangan kenangan yang pernah digenggam sayang. Dan sudah usang.

Musim ini sedang sakit, kadang asa dan asu berpadu pada cangkir kopi, satu pada lidah yang mahir mensuplai rasa.

Kita sedang menikmati hujan di balik tembok.

Riak-riak kata berarak pada kelopak sajak, singgah di ujung doa, sekadar melampiaskan rindu yang belum dibayar tuntas.

Lagi-lagi hujan di balik tembok semakin berisik.

Hingga kita terkapar pada aksi nalar:
“hujan itu anak semesta”.

Oleh: Lobio Amin

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.