(Suatu Tanggapan ajakan pertemuan untuk beradu fisik)
Semoga surat terbuka ini menemukan anda dalam keadaan baik-baik saja. Saya membaca berita di media online dengan judul: Ketua DPRD Matim Salesius Medi Sebut Setwan Tobias Suman Monyet Bangsat saat menggelar RDP di Ruang Paripurna, Selasa, 29 April, 2025.
Izinkan saya untuk menilai berita ini sebagai suatu kejanggalan dan kebobrokan yang luar biasa. Atas dasar inilah saya menuliskan untuk Anda surat ini, Saya hanya berharap, setelah membaca ini, Anda dapat memberi saya penghiburan berupa pengertian—atau mungkin, sesuatu yang jauh lebih memuaskan.
Perlu saya terangkan bahwa saya menulis surat ini bukan karena marah atau membenci Anda, tetapi karena merenungkan kejadian-kejadian terkini yang telah menimpah dan melucuti martabat kemanusiaan. Kata-kata Anda, yang diucapkan di depan umum dan dimaksudkan untuk merendahkan dan menghina, tidak hanya menyakitkan, tetapi juga merendahkan martabat seseorang yang memegang peran penting dalam masyarakat.
Istilah-istilah merendahkan yang Anda gunakan, yang merujuk kepada Setwan Manggarai Timur dengan cara-cara yang merendahkan dia menjadi tidak lebih dari sekadar stereotip, tidak pantas untuk digunakan dalam wacana yang beradab. Saya mau mengatakan bahwa bahasa seperti itu hanya akan menyebarkan perpecahan, bukan pemahaman, dan sungguh memalukan bahwa Anda, sebagai ketua DPR, akan menggunakan taktik-taktik rendahan dan recehan seperti itu.
Ini tidak lebih dari praktik kampungan yang tidak sesuai dengan zamannya. Ini permainan anak kecil yang masih belajar kosa kata. Ini hanya menunjukkan kepongahan seorang pemimpin yang bisa dikatakan kurang beradab dan tidak beretika. Praktek minus nalar seperti ini membuat saya resah dan takut sebab Anda adalah seorang pemimpin, kendati ini bisa menimbulkan kekacauan publik. Jangan sampe gedung DPRD dijadikan arena tinju.
Selain itu yang lebih mengganggu saya adalah ancaman Anda, yaitu ancaman untuk datang ke kediaman Pak Tobias, untuk menghadapi keluarga dan beradu jotos, dan melibatkan kami dalam masalah yang seharusnya diselesaikan melalui dialog dan rasa saling menghormati. Apa maksud Anda? Kami tidak sepicik itu dalam berpikir dan berperilaku, bagi kami itu adalah model prilaku orang hutan. Itu satu bentuk penyimpanagan yang bisa dijerat oleh hukum.
Gagasan bahwa seorang pemimpin, yang dipercaya banyak orang, akan menggunakan taktik-taktik intimidasi dan menakut-nakuti tidak hanya mengkhawatirkan, tetapi juga sudah menjadi persoalan yang serius. Ini adalah pengingat bahwa betapa buruknya seorang ketua DPR. Ini adalah tanggapan atas undangan Anda “panggil semua keluargamu dan menghadap saya”.
Saya kurang mengerti dengan alur pemikiran Anda, bukankah anda mengajak kami untuk berkonflik? Tidak salahkah seorang pemimpin mengajak masyarakatnya untuk berkonflik? Aneh tidak? Satu lagi, di mana letak integritas Anda? Izinkan kami untuk meragukan Anda, sebab kami tidak menemukan bekas sarjana dalam diri Anda. Jika kami salah beri kami penjelasan untuk meluruskan keraguan itu.
Kami tidak mencari konflik atau pembalasan. Yang kami cari, dan yang kami yakini layak diterima oleh masyarakat, adalah pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban atas tindakan yang tidak sejalan dengan tanggung jawab dan nilai-nilai yang diharapkan dari Anda yang memegang kekuasaan.
Kami menyadari masa lalu Anda sebagai “Preman” yang menggambarkan diri anda sendiri, tetapi tentunya, Anda harus menyadari bahwa waktu dan pertumbuhan membawa perubahan, bukankah seperti itu Tuan? Sebagai tokoh publik, Anda dipercayakan dengan kemampuan untuk membentuk kehidupan orang lain serta mengayomi, dan dengan kekuatan itu muncul tanggung jawab untuk memberikan contoh martabat, rasa hormat, dan keberanian.
Bukan sebaliknya! Kita tidak sedang hidup di negeri di ujung tanduk yang melanggengkan kejahatan dan segala sesuatu dipecahkan dengan konflik, di negeri ujung tanduk konflik menjadi makan minum setiap hari. Kita tidak sedang hidup di suatu republik sialan yang masyarakatnya haus akan kedamaian. Jika Anda tidak mampu untuk memimpin kami usulkan dengan hormat agar Anda mengundurkan diri dari jabatan itu, alih-alih mungkin jabatan itu terlalu berat bagi orang yang hanya mengandalkan otot.
Kami berharap, pada waktunya, Anda akan merenungkan kata-kata dan tindakan Anda. Bahwa Anda harus menyadari bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang meremehkan, menjelekkan dan menghina orang lain atau mengintimidasi mereka, tetapi tentang menumbuhkan pemahaman dan mempromosikan budaya saling menghormati.
Tidak ada tempat di masyarakat manapun untuk retorika picisan seperti yang Anda gunakan, atau untuk ancaman yang Anda keluarkan. Anda mungkin salah tempat. Kami tidak meminta permintaan maaf – meskipun permintaan maaf akan dihargai. Sebaliknya, kami meminta Anda meluangkan waktu sejenak untuk menelaah dampak dari kata-kata dan tindakan Anda.
Kami harap, saat Anda mengenang kembali status Anda sebagai figur publik, Anda akan ingat bahwa peran yang Anda pegang bukan sekadar gelar dan kekuasaan, tetapi tanggung jawab untuk mengangkat orang-orang di sekitar Anda, bukan menjatuhkan mereka. Kami akan terus menjunjung tinggi nilai-nilai rasa hormat, martabat, dan dialog. Kami percaya bahwa, pada waktunya, Anda juga akan menyadari kekuatan nilai-nilai ini. Ini belum terlalu terlambat bagi Anda untuk lebih membenah diri dan belajar tentang nilai-nilai moral. Hormat saya, orang yang kau wakili.
Oleh: Petrus Eleon Yoran, Frater TOP di Filipina, asal Ncuang, Lamba Leda Selatan Manggarai Timur









