Tim Dosen STIPAS Kupang Pengabdian Masyarakat di Kapela Santa Maria Goreti Fatuteta

oleh -1935 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Mewujudkan Tri Dharma Penguruan Tinggi, Tim Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral (STIPAS) Keuskupan Agung Kupang melaksanakan pengabdian masyarakat di Kapela Santa Maria Goreti Fatuteta Paroki Santa Maria Fatima Taklale pada Minggu, 4 Mei 2025.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk sosialisasi dan diskusi yang berlangsung sehari mengusung tema “Penguatan Karakter Religius melalui Internalisasi Nilai Moderasi Beragama pada Umat Kapela Santa Maria Goreti Fatuteta” yang dihadiri oleh semua umat dengan semangat dan antusiasme yang tinggi.

RD. Emanuel I. D. Je’e Maly, S.Fil. M.Pd selaku Ketua TIM menjelaskan moderasi beragama perspektif gereja katolik adalah cara pandang, sikap, praktik beragama yang menjunjung tinggi martabat manusia, mengusahakan kemaslahatan umat manusia, dengan prinsip adil, seimbang, dan taat konstitusi.

“Dasar filosofis dari moderasi beragama adalah filsafat relasionalitas,” jelasnya.

Menempatkan semua pihak yang berelasi dalam sebuah jaringan yang saling membutuhkan orang lain dan saling bergantung, khususnya dalam berelasi dengan Allah demi kehidupan dunia yang lebih baik.

Lanjut RD.Emanuel Je’e Maly yang juga merupakan Wakil Ketua II STIPAS Keuskupan Agung Kupang, dalam menumbuhkan kembali komunikasi dari orang-orang yang telah menceraikan diri dari Allah dan sesama.

Mempromosikan perdamaian, termasuk perdamaian di antara agama-agama di dunia yang sangat terpecah belah, terkoyak oleh konflik bersenjata, ketidak-setaraan ekonomi, dan ideologi yang kontradiktif.

“Kesatu-rasaan yang muncul dari relasi itu menumbuhkan pengharapan akan masa depan hidup bersama yang lebih baik,” imbuhnya.

Persaudaraan bukanlah semata-mata konsep, wacana, atau ide kreatif dalam pertemuan maupun imbauan, melainkan suatu dialog kehidupan yang lahir dari pengalaman perjumpaan setiap manusia.

Setiap pemeluk agama diajak menyadari tujuan diciptakannya, kembali kepada ajaran otentik agama yang menganjurkan perdamaian dan tidak melahirkan paham ekstrimis dan radikalis. Hidup merupakan “seni perjumpaan” dengan setiap orang, bahkan dengan orang-orang di pinggiran dunia dan dengan bangsa-bangsa asli.

“Karena masing-masing dari kita bisa belajar sesuatu dari yang lain. Tak ada seorangpun yang tidak berguna dan tak ada seorangpun boleh disingkirkan,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, salah satu anggota Tim Dosen, Valentinus K. Masan, S.Pd., M.Pd menegaskan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan kewajiban seorang dosen adalah menjalankan kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh guna memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat.

“Semoga dengan kehadiran kami ini dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan baru dalam mewujudkan hidup bermoderasi di tengah minoritas,” kata Valentinus K. Masan. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.