Pecahkan Rekor MURI, 10 Ribu Siswa di TTS Baca Puisi Dalam Tiga Bahasa

oleh -1413 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, SoE – Sebanyak 10 ribu siswa jenjang SD, SMP, SMA, SMK dan SLB mencetak Rekor MURI dengan membaca puisi dalam tiga bahasa yakni Bahasa Indonesia, Inggris dan Dawan (Uab Meto). Acara ini digelar dalam rangkaian Festival Literasi Sastra Daerah tahun2025 di Lapangan Puspenmas SoE, kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa (29/4/2025).

Dalam sambutannya, Direktur Operasional Museum Rekor – Dunia Indonesia (MURI), Yusuf Ngadri, mengapresiasi tinggi atas keterlibatan ribuan pelajar dalam kegiatan literasi tersebut. Ia menegaskan bahwa MURI hadir untuk mencatat karya-karya luar biasa yang menjadi bentuk kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa.

“Hari ini, 10 ribu pelajar Kabupaten TTS telah menorehkan sejarah dalam Festival Literasi NTT. Dengan bangga, MURI mencatat pembacaan puisi tiga bahasa oleh para pelajar Kabupaten TTS sebagai rekor dunia,” ujarnya.

Yusuf menjelaskan,Puisi yang dibacakan sesuai thema yang berjudul Flobamorata Memanggil Pulang, Ayo Bangun NTT. Karya sastra ini disusun dalam tiga bahasa yakni Bahasa Indonesia, Daerah (Dawan) dan Inggris. Yusuf menilai, puisi tersebut bukan hanya sebagai ekspresi estetik, tetapi juga sebagai simbol cinta dan harapan anak-anak NTT terhadap tanah kelahiran mereka.

“Puisi adalah sarana menggali kedalaman jiwa dan membagikan cerita dengan cara yang indah dan menginspirasi, serta
Festival Literasi Budaya Daerah NTT ini menjadi momentum penting dalam mengangkat peran sastra dan bahasa daerah di tengah perkembangan zaman. Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya diajak untuk mencintai literasi, tetapi juga untuk merefleksikan identitas budaya,” jelasnya.

Yusuf Ngadri juga mengajak seluruh peserta dan masyarakat untuk terus membangun kecintaan terhadap bahasa, sastra, dan budaya lokal sebagai bagian dari identitas bangsa. Yusuf menutup sambutannya dengan pesan menyentuh yakni “Mari kembali ke rahim Flobamorata membangun, memajukan, dan mensejahterakan bumi tercinta.”

Dengan tercatatnya kegiatan ini sebagai rekor dunia, Yusuf Ngadri menyampaikan penghargaan atas capaian luar biasa ini. Ia menyebut puisi sebagai media ekspresi yang mampu menggugah emosi dan menginspirasi, sekaligus menjadi sarana penting dalam pelestarian bahasa dan budaya lokal.

“Pembacaan puisi dalam tiga bahasa ini adalah bentuk kontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa melalui literasi,” ungkap Yusuf.

Sementara, Bupati TTS, Eduard Markus Lioe, dalam sambutannya, menekankan pentingnya kegiatan tersebut sebagai tonggak sejarah dalam pendidikan berbasis budaya lokal.

“Kehadiran kita di festival literasi sastra daerah ini bukan sekadar hadir dalam sebuah kegiatan seremonial. Kita hadir sebagai bagian dari sejarah baru, sejarah di mana pendidikan sastra dan budaya daerah tidak hanya dibicarakan tetapi diperjuangkan,” tegasnya.

Ia menilai bahwa festival ini menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai budaya serta komitmen dalam membangun pendidikan yang berakar pada kearifan lokal.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan akar budayanya. Di tengah gempuran zaman, hanya bangsa yang setia menjaga identitas dan warisan budayanya yang akan tetap kokoh berdiri,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Bupati Lioe menegaskan bahwa Kabupaten TTS adalah rumah bagi kekayaan budaya yang tak ternilai.

“Bahasa, adat, seni, dan sastra yang hidup di tengah masyarakat kita adalah kekayaan yang tak bisa digantikan oleh apa pun. Namun, kekayaan ini akan punah jika tidak kita rawat bersama,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan menjadi benteng utama dalam pelestarian budaya. Ia menyoroti tema festival tahun ini, “Dari NTT untuk Indonesia”, yang mencerminkan kontribusi khas dari tanah Timor dalam memperkaya peradaban bangsa.

“NTT bukan hanya penerima kebijakan dari pusat, tetapi juga penyumbang nilai, gagasan, dan budaya bagi Indonesia. Kita punya sesuatu yang khas, yaitu keanekaragaman bahasa dan budaya lokal yang hidup berdampingan dalam harmoni,” jelasnya.

Dengan subtema “Ayo Bangun NTT dari Sekolah,” Bupati Lioe mengajak seluruh elemen pendidikan untuk menanamkan sejak dini kesadaran budaya dan literasi.

“Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan dalam visi misinya menempatkan sektor pendidikan sebagai latar utama. Kami telah mencanangkan kurikulum muatan lokal seni budaya dan pangan lokal sebagai wujud nyata keberpihakan kita terhadap identitas lokal,” cetusnya.

Selain itu, ditegaskan Bupati, generasi muda TTS tidak boleh tumbuh tanpa mengenal jati dirinya.

“Kita tidak ingin generasi muda kita hanya bangga terhadap budaya luar, tapi asing terhadap budaya sendiri,” tegasnya.

Pihaknya juga mengungkapkan harapannya agar festival literasi budaya ini menjadi agenda tahunan dan melibatkan lebih banyak pihak. Ia mengajak guru, orang tua, masyarakat, hingga dunia usaha untuk terlibat aktif dalam pelestarian bahasa dan sastra daerah.

“Perjuangan pelestarian bahasa dan sastra daerah bukan pekerjaan mudah. Ini adalah kerja lintas generasi, kerja kolektif yang melibatkan semua pihak. para guru diajak untuk menjadikan kelas sebagai ruang kreativitas budaya. Para orang tua siswa diajak agar mengajarkan bahasa ibu bagi anak sejak kecil,” imbaunya.

Pihaknya juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTT atas kepercayaan menjadikan Kabupaten TTS sebagai tuan rumah festival ini.

“Dari TTS, suara sastra akan bergema hingga penjuru Indonesia. Kami ingin menyampaikan pesan: anak-anak NTT tidak tertinggal dalam literasi, tidak asing terhadap budaya, dan siap membawa NTT bangkit menuju masa depan yang cerah,” tutupnya.

Sedangkan, Ketua Panitia, Jeremias Pelle, M.Pd., dalam laporan kepanitiaanya, menuturkan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk melestarikan sastra daerah yang merupakan bagian penting dari kekayaan budaya bangsa.

“Bahasa dan sastra daerah adalah penyangga kebudayaan nasional yang bercorak Bhinneka Tunggal Ika,” tuturnya.

Selain itu, dijelaskan Jeremias, kegiatan tersebut merupakan puncak dari Festival Literasi Sastra Daerah NTT 2025 yang mengusung tema “DARI NTT UNTUK INDONESIA dan sub tema AYO BANGUN NTT DARI SEKOLAH” ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT bekerja sama dengan sekolah-sekolah tingkat SD dan SMP yang ada di kabupaten TTS.(AB/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.