Wanita Berdarah Surabaya Membangun 100 Masjid di Gaza

oleh -1711 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Dr. Mu’min Roup, MA

Dialah Amina Zahra Alfayad. Teman-teman sosialita di Monaco mencibirnya seakan-akan tak sanggup bagi Amina yang merencanakan membangun 100 masjid di wilayah Gaza. “Mana mungkin wanita muda seperti dia bisa membangun tempat ibadah di daerah konflik?” demikian ujar teman-temannya.

Sebagian temannya hanya sibuk membicarakan pesta, mengoleksi sepatu dan tas mahal dari Paris, sementara Amina selalu menyendiri dari keramaian, mengambil suatu benda dari tasnya yang sederhana, yang ternyata adalah Al-Quran kecil untuk dibacanya. Ketika teman sebayanya sedang mempersiapkan hari-harinya untuk berlibur ke tempat-tempat wisata di Prancis, justru Amina memilih mengunjungi sekolah anak-anak yatim dan perpustakaan, untuk mempelajari sejarah Islam dan agama-agama dunia.

Ketika beranjak dewasa di Monaco, kota yang identik dengan tempat perjudian (casino) dan balap mobil formula one, Amina bertekad memanfaatkan uang tabungannya untuk mendirikan Yayasan Light of Hope Foundation (LHF). Ia mengumumkan kepada teman-teman sosialita, bahwa yayasan tersebut berencana membangun 100 masjid di wilayah Gaza, Palestina.

Sontak masyarakat merasa kaget dengan rencana menghebohkan itu. Bagi Amina, membangun masjid di Gaza bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi sekaligus benteng harapan masyarakat muslim Gaza, karena setiap manusia sebagai Bani Adam berhak memiliki dan memekarkan harapan dalam hidupnya.

Di tengah olok-olok dan cibiran teman-temannya, justru Amina nekat mengumumkan rencananya di depan publik, sampai kemudian siaran televisi Al-Jazeera hingga CNN menayangkannya, kemudian disambut viral di media-media sosial.

Banyak orang yang mengulik masa lalu Amina melalui Google, Bing dan search engine, dan ternyata ia memiliki garis darah dari ibunya yang lahir di Surabaya sebagai kota pejuang di Indonesia. Di Monaco, ia tergolong salah satu pewaris kekayaan di antara kaum elit konglomrat lainnya, yang berhati dermawan. Ayahnya adalah seorang diplomat dari Maroko, yang kemudian membawa istrinya hijrah menuju negeri Monaco (1980-an), dan di negeri itulah Amina kecil lahir dan berpendidikan.

Ketika menjalani pendidikan dasar di Monaco, ibunya sering bercerita tentang kota kelahirannya di Surabaya, Indonesia, tentang suatu negeri religius yang melahirkan ribuan Waliullah. Berbeda dengan Monaco, yang kehidupan masyarakatnya baru bangkit setelah matahari terbit. “Tetapi di Surabaya, sejak pukul 4.30 pagi, suara-suara azan sudah bergema di seluruh penjuru,” ujar ibunya.

Untuk itu, ketika diwawancarai para wartawan dari media nasional hingga internasional, tak ayal Amina selalu menyatakan, “Darah Indonesia mengetuk hati saya untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi warga Palestina yang tertindas.”

Sejak itulah Amina mulai meninggalkan gemerlap pesta Monaco, negeri yang dikunjungi para konglomerat dunia (termasuk Indonesia) untuk berlibur dan menghabiskan miliaran rupiah, hanya untuk sekadar berwisata selama beberapa hari saja.

Untuk itu, bukan hanya teman-teman sebayanya yang menertawakan, bahkan media-media Eropa seperti Prancis, Italia hingga London, sangat menyangsikan sepak-terjang Amina yang dianggap mustahil dan tak masuk akal. Namun kemudian, Amina dengan lirih menanggapi mereka, “The show must go on.”

Untuk pembangunan masjid pertama, Amina bertekad mendatangi Gaza melalui jalur Mesir bersama beberapa orang staf yayasannya. Di atas puing-puing reruntuhan bangunan, Amina berdoa dan mulai meletakkan batu pertamanya, setelah penasehat arsiteknya memberi saran yang tepat mengenai lokasi tersebut. Kemudian, Amina menamakan bangunan masjid yang didirikannya itu dengan nama “Masjid Al-Surabaya”.

Setelah masjid pertamanya rampung, kontan para wartawan mewawancarai Amina, disambut teriakan “Allahu Akbar” dari masyarakat Gaza yang mengerubunginya: “Saya berharap, masjid pertama ini dapat menjadi cahaya bagi masyarakat Gaza, sekaligus ikon kemanusiaan bagi dunia Islam,” tandas Amina.

Dalam beberapa hari, berita tentang pembangunan masjid itu segera viral di media sosial. Para donatur dari Qatar, Arab Saudi hingga Turki menghubungi yayasan LHF, dan bersedia mengirimkan dana besar agar segera mempercepat pembagunan untuk masjid-masjid berikutnya. Seorang konglomerat asal Cina juga menelepon dan bersedia mengirimkan bantuan dana penuh untuk 10 masjid. Tak lama kemudian, nongol lagi telepon dari konglomerat Arab, dan siap membiayai sekolah Al-Quran di komplek-komplek masjid tersebut. Bahkan, di antara donatur tersebut datang juga dari pengusaha beragama Katolik. Dengan demikian, denah lokasi semakin diperluas, lalu dilengkapi pula dengan sekolah, perpustakaan, dan taman tempat bermain untuk anak-anak Gaza.

Ketika masjid terbesar dibangun dengan nama “Masjid Al-Nusantara”, puluhan truk material disetop di perbatasan. Blokade-blokade militer Zionis mulai kasak-kusuk untuk berencana menghentikan proyek tersebut. Amina Zahra bersedih dan meluapkan segala kesedihannya kepada sang Ibu, namun demikian ibunya yang dari Surabaya itu justru memperteguh tekadnya: “Teruskan Amina, jangan takut, jika Allah menghendaki sesuatu itu terjadi, maka rencana jahat manusia sehebat apapun, tak akan sanggup menghentikannya.”

Nasehat dari ibunya semakin memperteguh pendiriannya. Para wartawan berbaris mendukung proyek-proyek Amina untuk pembangunan masjid-masjid berikutnya. Berita-berita viral tentang keberanian Amina Zahra semakin didukung oleh semua pihak, termasuk dari konglomerat di sekitar teman-teman sosialita yang dulu mencibir dan menertawakan rencananya. Saat ini, bahkan Walikota Surabaya telah meresmikan nama jalan di kota Surabaya dengan nama: Jalan Zahra Gaza. (*)

Penulis adalah Peneliti dan akademisi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, juga menulis berbagai opini dan prosa untuk Radar NTT, Bangka Pos, NU Online, Republika, Kabar Banten, Tangsel Pos dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.