Tipologi Pemimpin yang Selaras dengan Alam

oleh -1497 Dilihat
Blank bookcover with clipping path
banner 468x60

Oleh: KH Ahmad Rafiuddin

Untuk menghadirkan makna dalam kesederhanaan, kiprah Gus Dur dalam kepemimpinan memang tidak memanfaatkan kemewahan dan kemegahan. Makna hidup bagi Gus Dur, terletak pada seberapa selaras manusia dengan kodrat dan pembawaan alamiahnya. Baginya, jika hidup tiap-tiap individu lebih fokus pada apa yang menjadi potensinya, maka beban hidup menjadi jauh lebih ringan.

Ketika seseorang hidup sesuai dengan nilai-nilai kebajikan, maka secara alamiah ia akan memperlakukan orang lain dengan toleran dan hormat. Para pejabat juga akan mengeksploitasi alam secara berlebihan, serta menuntut agar bertanggung jawab secara ekologis. Ketika seseorang membangun koneksi dengan alam, ia akan selalu mengurangi konsumsi berlebihan, serta menolak untuk hidup boros dan mubazir. Dalam konteks ini, Gus Dur telah memberi teladan, karena menanamkan kebajikan dalam tindakan nyata, jujur dan adil dalam keputusan, serta menghargai proses dengan penuh kesabaran.

Memang tidak secara eksplisit dia menyatakan, bagi bangsa yang hidup selaras dengan alam, mereka akan mencapai kemakmuran dan keberkahan. Namun, beliau justru sudah menjalani filosofi hidup bijak seperti itu. Inilah rahasia kekayaan sejati yang tak perlu bergantung pada kemewahan harta, hingga membuat nama Gus Dur tetap dikenang abadi sepanjang masa. Baginya, pemimpin tidak perlu menyibukkan diri untuk mengejar banyak hal, tetapi cukup fokus untuk kreatif pada apa yang terpenting.

Jika seorang pemimpin konsisten menjalani hidup yang selaras dengan alam, ia akan selalu berpikir jernih, bijak, bahkan legawa untuk menerima hal-hal yang tak bisa dikendalikan oleh kekuatan manusia. Memang, bangsa yang hidup selaras dengan alam tidak mengandaikan kemewahan dan kemegahan harta duniawi, tetapi apalah artinya bangsa yang makmur secara ekonomi, jika mereka tidak memiliki kekayaan batin, mudah frustasi bahkan bunuh diri.

Di era globalisasi dan kapitalisme digital saat ini, banyak orang terjebak dalam persaingan untuk mengejar materi, validasi, dan pencapaian eksternal. Akibatnya, mereka kehilangan koneksi dengan diri mereka sendiri, dan dengan dunia alamiah di sekitarnya. Padahal, Gus Dur dengan sikap zuhud dan sederhananya, telah menunjukkan pentingnya kita agar kembali pada keseimbangan dan keselarasan. Perjalanan hidupnya terasa mengingatkan kita, bahwa kebanyakan manusia Indonesia merasa hidup menderita dalam imajinasi, daripada dalam kenyataan yang sesungguhnya.

Bagi Gus Dur, segala sesuatu di sebab alam semesta ini berjalan sesuai dengan rantai-akibat. Ketika manusia menerima ini dengan hati yang lapang, maka hidupnya tidak perlu direpot-repot, juga takkan mudah goyah oleh peristiwa eksternal. Selain itu, dalam Al-Quran ditegaskan, bahwa upaya mencerdaskan pikiran juga merupakan bagian dari pengembangan akal yang sejalan dengan alam semesta, sebagai bagian dari keselarasan alam.

Dengan itu, manusia mampu berpikir secara rasional untuk mengambil keputusan, bukan berdasarkan dorongan sesaat maupun emosi yang pembohong. Oleh karena itu, berpikir sebelum bertindak adalah bentuk tertinggi dari kehidupan yang seimbang. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan keadilan, pengendalian diri, dan kebijaksanaan, manusia akan mampu melakukannya sebagai bagian dari kosmos secara optimal.

Gus Dur telah menorehkan sejarah, dengan memberikan teladan bijak untuk menghargai warga minoritas, dari suku dan agama apapun. Ia mengajarkan kita semua agar menjaga keseimbangan, sebagai warisan berharga yang layak dihidupkan kembali, terutama di era yang serba cepat dan penuh gangguan ini.

Ia mengingatkan kita semua, bahwa untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan, manusia harus menyelaraskan kodrat dirinya, sebagai makhluk rasional yang hidup dalam tatanan alam semesta yang teratur. Di situlah letak keunikan kepemimpinan Gus Dur, sehingga masyarakat tidak memandang dirinya sebagai penguasa, melainkan sebagai penjaga dan pengayom. Baginya, tipikal pemimpin yang bijak akan selalu mendukung keteraturan alam semesta, bukan melawannya. Ia merasa bertanggung jawab secara moral pada setiap individu untuk hidup harmonis. Ia telah memperlakukan sesama dengan hormat, serta menjalani hidup dengan kesadaran ekologis.

Filosofi hidup Gus Dur bukan sekedar wacana, melainkan peta jalan untuk hidup bermakna bagi kita sebagai bangsa yang beradab. Di zaman di mana egoisme sebagian elit politik memiliki ekses yang mendominasi, suara-suara Gus Dur kembali berkumandang seperti bisikan kebenaran dari masa lalu, yang ternyata tetap valid, dan akan menjadi penunjuk arah untuk menatap ke masa depan. (*)

Penulis adalah Pengasuh pondok pesantren Tebuireng 09 di Rangkasbitung, Lebak, Banten, menulis esai dan opini di berbagai media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.