Tipologi Pembelajar Seumur Hidup

oleh -857 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Ahmad Rafiuddin

Saat ini, banyak orang memandang bahwa hidup ini adalah soal pencapaian, prestasi, bahkan kecepatan. Sejak kecil manusia modern diajari banyak hal, seperti membaca, menulis, berhitung, bekerja dan bersaing dalam bakat dan prestasi. Jarang orang mau berpikir kritis, bahwa hidup ini, sejatinya adalah hamparan ilmu yang harus terus ditelusuri dan dipelajari.

Dalam hidup ini, setiap manusia akan dihadapkan pada kegagalan, kesedihan, kehilangan, atau bahkan meresapi nikmat dan kebahagiaan. Semuanya itu adalah rangkaian pelajaran dalam hidup yang tak ditemukan dalam kurikulum pelajaran sekolah formal.

Banyak orang yang usianya terus tumbuh dan menua, tetapi belum tentu dewasa secara batin. Karena kedewasaan sejati datang dari pribadi-pribadi yang mau belajar, terbuka terhadap perubahan, serta mampu mengakui bahwa hidup selalu memiliki hal-hal baru untuk ditelusuri dan dipelajari. Manusia tak bisa dikatakan bijak, jika ia tak mampu mengontrol kesabarannya saat menghadapi ujian, serta tak mampu mensyukuri nikmat saat berada di puncak kesuksesan.

Kadang kita menjumpai orang yang angkuh dan sombong, seolah ia merasa sudah selesai belajar. Padahal, kualitas kedewasaan justru hanya tumbuh dari kesadaran, bahwa hidup ini dinamis dan bukan statis. Setiap hari manusia dihadapkan pada tantangan baru, pelajaran baru, dan selalu ada kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Selama napas masih berhembus, setiap manusia masih diberi peluang untuk memperbaiki diri dan memperdalam makna hidup. Bahkan secara religius, Tuhan masih memberikan peluang bagi hamba-hamba yang dicintai-Nya untuk bertobat dari dosa dan kesalahan, selama hayat masih berada di kandung badan.

Akhir-akhir ini, di tengah hiruk-pikuk dunia medsos dan tekanan ekonomi yang terus menghantui, orang cenderung salah-kaprah dalam menyikapi hidup, bahkan mengambil keputusan. Tidak jarang mereka merasa frustasi, putus asa dan kehilangan arah. Banyak yang mengira bahwa hidup hanya soal bekerja keras, menumpuk harta, dan membangun citra-diri. Padahal sejatinya, hidup adalah soal bagaimana kita belajar untuk benar-benar hidup, bereksistensi, beribadah, dan bukan sekadar bertahan hidup.

Ketika orang banyak belajar tentang hidup, dengan sendirinya ia akan berani introspeksi dan mawas diri. Ia akan kuat dan tangguh menerima kenyataan hidup sepahit apapun. Ia pun akan senantiasa tenang dan rendah-hati saat berada di puncak keberhasilan.

Saat ini, kita semakin memahami, bahwa ketenangan batin dan kebijaksanaan adalah kebutuhan primer yang semakin langka. Jarang orang mau belajar untuk lebih sabar, lebih bijak dalam mengambil keputusan, lebih tulus dalam mencintai, apalagi mau menerima dan ikhlas untuk melepaskan.

Perlu ditegaskan di sini, bahwa belajar hidup juga tak terlepas dari belajar menghadapi ketidakpastian, menyambut perubahan, dan menemukan makna dalam hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Kadang kita lupa mensyukuri setiap tarikan napas kita, menikmati udara sejuk, senyum dan tawa anak-anak, bahkan keheningan di waktu sepertiga malam. Hal-hal sederhana ini hanya mungkin direnungkan, atau hanya menjadi bagian dari kurikulum kehidupan yang bisa dipahami oleh mereka yang bersedia menjadi pembelajar seumur hidup.

Pada prinsipnya, pembelajar hidup akan bermuara pada hidup yang penuh dengan kesadaran. Tentu membutuhkan kesabaran untuk menghargai proses, dan bukan dengan mengharap hasil yang instan. Karena bagaimana pun, dengan terus belajar, maka kita akan menjadi manusia-manusia yang berkesadaran, dan orang yang memiliki kesadaran tinggi, ia dapat dikatakan sebagai pribadi yang menjalani hidup berkualitas.  (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09, Rangkasbitung, Banten, juga penulis buku best seller “Marwah Pesantren”

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.