Tersingkapnya Hijab Kemunafikan

oleh -130 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Wawan Sanpala

Bersyukurlah dengan maraknya tanda-tanda akhir zaman, ketika dibuka portal kewalian serta terbongkarnya hijab dusta dan kesyirikan. Mereka yang menafkahkan jariyah kebaikan dengan tulus-ikhlas, baginya akan memetik hikmah dan kebahagiaan.

Sementara mereka yang mengumbar jariyah kejahatan, dusta, dan adu domba, maka akan ditutup hikmah ilmu dan kebenaran dari perasaan dan pikirannya, hingga ia menganggap hal tersebut sebagai kebaikan baginya.

Seorang pemimpin dan guru yang mengajarkan ilmu kepada muridnya, Tuhan akan melestarikan hikmah ilmunya serta menancapkan ke dalam kalbunya, kemudian meretas sebagai jariyah kebaikan yang turun temurun. Sebaliknya, mereka yang mengajarkan dusta, dengki dan adu domba, kelak akan meretas sebagai jariyah dosa dan angkara murka, yang terus mengalir ke alam akhirat yang harus dipertanggung jawabkannya.

Seseorang yang mengalami perubahan ke arah kebaikan setelah membaca apa yang saya sampaikan ini, saya pun akan menerima pahala jariyahnya. Hal yang sama berlaku jika saya menyebarkan aib dan kebohongan.

Bahkan, sebelum penyebar aib dan adu domba meminta maaf kepada pihak yang dirugikan, kelak ia akan terkubur dalam tumpukan beban dosa jariyah yang telah ia sebarkan. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap jiwa, balasan dari apa-apa yang telah dikerjakannya, serta diucapkan dari mulutnya.

Tidak ada diskon dosa bagi orang-orang tertentu yang gemar melakukan fitnah dan kesyirikan. Karena dia telah mengabaikan kedekatan Tuhan dengan dirinya, sedekat urat pada lehernya sendiri. Sehingga, ketika datang ajal kematian, amal-amalnya akan lolos dari rahmat Allah.

Bahkan, kebaikannya akan musnah tertutup oleh sifat ujub, hasad dan kedengkiannya. Padahal, mereka adalah orang-orang yang selalu mendengar kitab suci. Namun, tak sanggup menjiwai tanda-tanda-Nya hingga selalu berpaling, tak memiliki komitmen dalam kalbunya agar selalu terkoneksi dengan ayat-ayat Allah.

Kelak, Allah akan menghadapkannya dengan para saksi dari orang-orang beriman, bahkan para malaikat pun akan serempak memberikan kesaksian atas kesyirikan dan kedengkiannya, di suatu hari ketika semua perbuatan dusta menjadi terang-benderang.

Mereka akan ditanya, mengapa mereka mengingkari Allah sebagai Al-Hakim, lalu menafsir ayat-ayat Tuhan semau-maunya, sesuai dengan selera dan keinginan hawa nafsunya? Mengapa mereka mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, sementara mereka memusuhi wali-wali Allah, ketika pada saatnya portal kewalian dibuka dan disingkap sejelas-jelasnya?

Di sinilah titik pembeda (al-furqon) antara orang-orang yang berkomitmen mendalami kitab Allah, ketimbang mereka yang hanya membaca secara tekstual, lalu terpesona oleh nafsu-nafsu kebendaan yang bersifat duniawi belaka. (*)

Penulis adalah Pengamat sosial kemasyarakatan, pengurus organisasi Santri Pencinta Alam, juga menulis esai dan puisi untuk berbagai media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.