Teologi Kontekstual Stephen B. Bevans dan Luka Sosial di Balik Ritual Adat Sumba

oleh -164 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Didimus Wungo

Budaya adalah salah satu aspek yang tidak pernah terpisahkan dari kehidupan Masyarakat, bahkan dapat dikatakan sebagai suatu tradisi atau kebiasaan yang sudah mengakar dalam pola hidup masyarakat setempat. Sumba menjadi salah satu ruang budaya yang hingga saat ini masih menjaga hubungan erat antara Manusia, leluhur (Marapu), dan kehidupan spiritual. Dalam pandangan masyarakat Sumba, adat bukan sekedar simbol masa lalu yang dipertontonkan dalam festival budaya ataupun destinasi wisata. Adat selalu hidup dalam kesadaran masyarakat, ia hadir dalam cara masyarakat memaknai kematian, kehormatan, bahkan dalam cara manusia memandang dirinya. Karena itu, membicarakan Sumba tidak cukup hanya dari sisi budaya. Sumba perlu dibicarakan sebagai ruang spiritualitas yang terus bergerak di tengah perubahan zaman. Di beberapa kampung di Sumba, kematian tidak pernah dipandang sebagai akhir yang sunyi. Kematian adalah peristiwa sosial dan spiritual yang melibatkan seluruh anggota komunitas. Gong dibunyikan, keluarga besar berkumpul, hewan-hewan disiapkan, dan ritual adat dijalankan dengan penuh penghormatan. Dalam konteks inilah praktik pembantaian hewan tetap bertahan sampai hari ini. Kerbau, sapi, babi, bukan lagi sekedar hewan ternak, tetapi kehadiran mereka mengandung makna simbolik yang sangat mendalam dalam kehidupan masyarakat.

Bagi sebagian besar masyarakat Sumba, terutama mereka yang masih dipengaruhi oleh pandangan hidup Marapu, pengorbanan hewan dalam upacara kematian dipahami sebagai penghormatan terakhir kepada orang yang sudah meninggal dan bentuk keterhubungan dengan leluhur. Tradisi ini lahir dari keyakinan bahwa kehidupan manusia tidak berhenti ketika tubuh dikuburkan. Ada relasi yang tetap hidup antar manusia, leluhur, dan Yang Ilahi. Namun persoalan makin jauh lebih kompleks ketika tradisi ini tetap dijalankan oleh masyarakat Kristen, baik Protestan maupun Katolik. Praktik pembantaian hewan tetap dilakukan secara besar-besaran meskipun masyarakat telah lama menjadi bagian dari Gereja. Situasi ini memperlihatkan bahwa agama tidak serta-merta menghapus kesadaran budaya masyarakat. Orang Sumba tetap merasa dirinya sebagai bagian dari warisan leluhur yang harus dihormati.

Disinilah pendekatan teologi kontekstual Stephan B. Bevans menjadi sangat relevan. Bevans menolak cara berteologi yang memisahkan iman dari pengalaman hidup manusia. Menurutnya, teologi harus lahir dari konteks nyata masyarakat. Iman harus berbicara dari pengalaman manusia, budaya lokal, sejarah, dan juga realitas sosial tempat manusia hidup. Karena itu budaya tidak bisa langsung dicurigai sebagai salah satu ancaman bagi agama. Budaya justru menjadi wadah tempat manusia mengalami makna hidup dan kehadiran Allah. Pendekatan ini penting untuk membaca realitas yang terjadi di Sumba saat ini. Selama bertahun-tahun masyarakat sering dipaksa memilih antara adat atau agama. Ada anggapan yang muncul bahwa menjadi Religius berarti harus meninggalkan tradisi leluhur. Akibatnya, budaya lokal sering dipandang sebagai sesuatu yang gelap, kuno, dan bertentangan dengan iman. Cara berpikir seperti ini akan mudah melahirkan keterputusan identitas dalam masyarakat. Padahal bagi orang Sumba, adat bukan sekedar ritual, tetapi adat adalah cara hidup. Adat mengatur hubungan keluarga, solidaritas sosial dan relasi dengan komunitas. Maka ketika diserang secara sepihak, masyarakat merasa identitasnya sedang dihancurkan.

Stephan B. Bevans justru menawarkan pendekatan yang lebih manusiawi. Ia melihat bahwa Allah juga bekerja dalam kebudayaan manusia. Pengalaman hidup masyarakat lokal tidak boleh diabaikan dengan membangun refleksi iman. Dalam situasi yang terjadi di Sumba saat ini, berarti bahwa Gereja perlu belajar mendengar pengalaman budaya masyarakat sebelum memberikan penilaian moral terhadap tradisi yang hidup di tengah mereka. Tetapi pendekatan Bevans tidak berhenti pada penghormatan budaya semata. Teologi Kontekstual juga menuntut keberanian untuk membaca realitas sosial secara kritis. Disinilah persoalan budaya Sumba perlu dibicarakan secara terbuka. Sebab praktik pengorbanan hewan dalam upacara kematian perlahan tidak lagi hanya berbicara tentang spiritualitas dan penghormatan leluhur, tetapi tradisi ini juga mulai terjebak dalam persoalan status sosial dan tekanan adat. Dalam banyak kasus, jumlah hewan yang dipotong sering dijadikan ukuran kehormatan keluarga. Semakin besar jumlah hewan yang dibantai, semakin tinggi pula penghargaan sosial yang diterima. Akhirnya, masyarakat hidup dalam tekanan untuk menjaga gengsi adat. Tidak sedikit keluarga yang terpaksa menjual tanah, pergi merantau, bahkan hidup dalam utang bertahun-tahun hanya demi memenuhi tuntutan sosial tersebut.

Ironisnya, masyarakat seringkali tidak berani menolak karena takut dianggap tidak menghormati leluhur atau tidak menghargai keluarga. Pada titik ini, adat perlahan berubah menjadi tekanan sosial yang membungkam kebebasan masyarakat sendiri. Orang tidak lagi menjalankan tradisi sepenuhnya karena kesadaran spiritual, tetapi karena rasa takut terhadap penilaian publik. Persoalan ini menunjukkan bahwa budaya juga bisa mengalami krisis makna. Tradisi yang awalnya lahir untuk menjaga solidaritas kini berubah menjadi beban yang melemahkan kehidupan masyarakat. Ketika penghormatan kepada orang meninggal harus dibayar dengan penderitaan ekonomi keluarga yang ditinggalkan, maka ada sesuatu yang sangat perlu direfleksikan secara lebih etis dan manusiawi. Disinilah Gereja seharusnya mengambil peran penting. Gereja tidak cukup hanya sekedar hadir untuk memberkati ritual adat, terapi juga perlu membantu masyarakat dalam membaca ulang makna tradisi secara kritis. Gereja harus berani menyuarakan keadilan sosial, martabat manusia, dan penderitaan masyarakat kecil yang seringkali tersembunyi di balik kemegahan upacara adat.

Sangat disayangkan, Gereja-gereja di Sumba sering berada dalam posisi yang serba sulit. Di satu pihak, Gereja ingin menghormati budaya lokal agar tidak dianggap memusuhi adat. Tetapi di pihak lain, Gereja juga sering kehilangan keberanian untuk berbicara tentang dampak sosial dari praktik budaya yang mulai memberatkan masyarakat. Akibatnya Gereja terkadang hanya memilih diam dan menjadi penonton di tengah tekanan sosial yang sedang dialami umatnya sendiri. Praktik-praktik budaya berlebihan yang terjadi di Sumba, berarti bahwa Gereja perlu membangun ruang dialog yang jujur dengan masyarakat adat. Bukan dialog yang langsung mulai dengan penghasilan, melainkan dialog yang lahir dari kesediaan untuk mendengar dan merefleksikan pengalaman bersama. Gereja harus membantu masyarakat membedakan antara nilai budaya yang menjaga kehidupan dan praktik sosial yang justru melahirkan penderitaan.

Yang menarik, masyarakat Sumba sebenarnya memiliki nilai-nilai budaya yang sangat kuat dalam membangun kehidupan bersama. Solidaritas keluarga dan penghargaan terhadap sejarah leluhur merupakan keyakinan budaya yang sangat penting untuk diterapkan di zaman sekarang, karena dunia modern saat ini justru sedang kehilangan banyak nilai seperti itu. Maka dari itu, budaya Sumba tidak layak dipandang secara dangkal sebagai simbol keterbelakangan. Di dalam budaya itu terdapat falsafah hidup yang menempatkan manusia sebagai bagian dari komunitas, sejarah, dan alam semesta. Orang Sumba memahami bahwa manusia tidak pernah hidup sendiri, ada tanggung jawab moral terhadap keluarga, leluhur dan lingkungan sosialnya. Tetapi budaya juga tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang suci dan tidak bisa dikritik. Budaya harus tetap bergerak seiring dengan perkembangan zaman, sebab budaya yang berhenti merefleksikan dirinya sendiri perlahan akan berubah menjadi kekuasaan sosial yang menekankan masyarakatnya.

Stephen B. Bevans memberikan jalan penting untuk menghadapi situasi yang terjadi di Sumba saat ini. Ia mengajarkan bahwa Allah hadir dalam sejarah hidup manusia, dalam pengalaman budaya, juga dalam pergulatan sosial masyarakat. Iman tidak boleh dipisahkan dari realitas hidup manusia sehari-hari, teologi harus lahir dari tangisan masyarakat, dari kecemasan keluarga yang terlilit utang adat, dan dari pergulatan identitas masyarakat Sumba yang hidup diantara Agama dan Budaya. Mungkin disitulah masa depan Sumba sedang dipertaruhkan. Bukan pada seberapa megah ritual adat yang dijalankan, tetapi seberapa jauh masyarakat mampu menjaga nilai kemanusiaan dibalik tradisi itu sendiri.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, NTT

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.