Tahbisan Bukan Sekadar Jabatan: Refleksi di Tengah Sorotan Publik

oleh -108 Dilihat
Perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon Frater Stevanus Octaviano Purnama, OCSO (Foto: trappistrawaseneng.com
banner 468x60

Oleh: Yohanes Jaha Baka

Sakramen Tahbisan dalam Gereja Katolik bukan sekadar sebuah ritual keagamaan, melainkan sebuah paggilan hidup yang menuntut komitmen total. Dalam ajaran Gereja tahbisan menjadikan seseoang sebagai pelayan umat yang melanjutkan misi Yesus Kristus. Namun, ditengah perkembangan zaman yang semakin modern, makna tahbisan sering kali diuji oleh realitas kehidupan. Belakangan ini, tidak jarang kita melihat peristiwa yang melibatkan tokoh-tokoh tertahbis menjadi viral di media sosial, baik dalam konteks positif maupun negatif. Ada kisah imam yang menginspirasi karena pelayanan sederhana dan dekat dengan umat, tetapi ada juga kasus yang memicu kekecewaan publik karena tidak mencerminkan nilai yang diajarkan. Fenomena ini menunjukan bahwa tahbisan bukan hanya soal menerima kuasa rohani, tetapi juga tentang tanggung jawab moral yang besar di hadapan umat.

Salah satu isu yang cukup sering mencuat dan menjadi perhatian luas adalah pelanggaran terhadap kaul kemurnian atau selibat oleh sebagian kecil imam. Di berbagai negara, pernah muncul kasus imam yang menjalin hubungan tersembunyi, memiliki keluarga secara diam-diam, atau terlibat dalam skandal moral yang bertentangan dengan komitmen tahbisan. Kasus-kasus seperti ini bukan hanya melukai kepercayaan umat, tetapi juga mencoreng makna sakramen Tahbisan itu sendiri.

Di era digital, dimana informasi begitu cepat tersebar, peristiwa semacam ini dengan mudah menjadi viral dan memperbesar dampaknya, bahkan hingga mempengaruhi citra gereja secara keseluruhan. Namun demikian, penting untuk disadari bahwa kasus-kasus tersebut tidak mewakili seluruh imam. Banyak pelayan tertahbis yang tetap setia menjalankan panggilan mereka dengan penuh pengorbanan, hidup sederhana, dan melayani umat tanpa pamrih. Justru karena adanya perbedaan yang kontras ini, umat diajak untuk semakin bijak dalam menilai dan tidak menggeneralisasi.

Menurut saya, justru di era digital seperti sekarang, makna Sakramen Tahbisan mejadi semakin relevan. Dunia yang penuh dengan informasi dan perubahan cepat membutuhkan figur rohani yang mampu menjadi penuntun nilai, bukan hanya pengajar ajaran. Seorang yang ditahbiskan tidak cukup hanya pengajar ajaran. Seorang yang ditahbiskan tidak cukup hanya menjalankan tugas liturgi, tetapi juga harus menjadi teladan hidup dalam keseharian.

Ketika seorang imam gagal menjaga komitmennya, terutama dalam hal kesucian hidup, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi pribadi, tetapi juga kepercayaan umat terhadap nilai-nilai yang diajarkan Gereja. Selain itu, viralnya berbagai peristiwa terkait pelayan tertahbis seharusnya menjadi bahan refleksi, bukan hanya untuk para imam atau uskup, tetapi juga bagi seluruh umat. Gereja perlu semakin serius dalam pembinaan calon imam, pendampingan setelah tahbisan, serta keterbukaan dalam menghadapi masalah internal.

Transparasi dan kejujuran menjadi kunci agar kepercayaan umat tetap terjaga. Di sisi lain, umat juga memiliki peran penting untuk tidak hanya mengkritik, tetapi juga mendukung para imam dalam menjalani panggilan mereka. Tekanan hidup, tuntutan pelayanan, dan kesepian dalam menjalani hidup selibat adalah tantangan nyata yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, komunikasi yang saling mendukung sangat dibutuhkan agar para pelayan tertahbis tetap setia pada komitmennya.

Dengan demikian, Sakramen Tahbisan tetap memiliki makna yang sangat penting, tetapi juga menuntut kesadaran yang lebih besar akan tanggung jawab dan integrasi. Di tengah sorotan publik yang semakin terbuka, pelayan tertahbis ditantang untuk semakin setia pada panggilannya sebagai pelayan, bukan penguasa. Kasus-kasus penyimpangan, termasuk pelanggaran kaul kesucian, seharusnya tidak melemahkan iman umat, tetapi justru menjadi panggilan untuk pembaharuan, baik secara pribadi maupun dalam kehidupan Gereja secara keseluruhan.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.