Spiritualitas Raden Ajeng Kartini

oleh -1892 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Pujiah Ketut Lestari

Kita mengenal pemikiran R.A. Kartini dalam bukunya, Door Duisternis Tot Licht yang terbit di negeri Belanda (1911). Dalam buku yang diterjemahkan Armijn Pane (Habis Gelap Terbitlah Terang) itu, Kartini memberikan pelajaran kepada kita tentang perspektifnya tentang ketuhanan: Sekarang kami berpegang teguh pada tangan-Nya. Kepada Dia tidak putus-putusnya kami arahkan pandangan kami. Dia akan mengemudikan kami, mempertimbangkan dengan penuh kasih sayang. Dan di situlah gelap menjadi terang, angin ribut menjadi angin sepoi-sepoi.

Di masa remajanya Kartini secara lugas mengakui bahwa keberadaannya sebagai seorang muslimah, tak terlepas dari peran dan kedudukan orang tuanya sebagai penganut agama Islam. Saat itu, ia belum mampu memahami Islam secara kritis dan kontekstual. Orang tuanya menyediakan guru yang memberikan pengajaran tentang Alquran, namun kemudian Kartini merasa keberatan karena yang diajarkan sang guru hanya harfiah dan lateral semata. Kartini sempat ngambek, dan selama beberapa waktu ia tak mau mengaji seandainya sang guru tak mau menerangkan apa maksud dari kalimat-kalimat yang dibacakan sang guru dalam bahasa Arab.

Emansipasi dan tumbuhnya kesadaran pada diri Kartini, jika dihubungkan dalam konteks keindonesiaan saat ini tetaplah relevan. Pemerintah Indonesia – khususnya departemen keagamaan – perlu menyeleksi ribuan guru-guru ngaji yang bukan hanya fasih mengaji dan menghafal Alquran (textbook thinking), tetapi juga harus pandai mengkaji dan menafsirkannya dengan baik.

Kartini mengakui bahwa dirinya mulai memahami pandangan agama dengan sikap kritis, ketika ia mulai tumbuh dewasa, dan pernah menyepi dan menyendiri dari keramaian. Setelah melewati pergulatan batin selama bertahun-tahun, Kartini menemukan satu kesadaran baru yang sebenarnya sangat paralel dengan jiwa seorang pendeta maupun sufi. Hal ini dapat dibuktikan dari goresan penanya berikut ini: “Lama benar dan jauh benar kami mencari. Kami tidak tahu bahwa apa yang kami cari begitu dekat dengan kami, selalu di sekeliling kami, dan ada pada kami. Yang kami cari ada di dalam diri kami.”

Sejak saat itu, ia menempuh jalan pencerahan dan menemukan perspektif baru mengenai hakikat ketuhanan (tauhid). Untuk itu, tidaklah cukup memaknai peringatan Hari Kartini dengan semata-mata berpakaian kebaya dan baju adat yang disimbolisasi sebagai penghormatan atas jasa-jasa pahlawan dan kaum perempuan. Akan tetapi, bagaimana kita mengimplementasikan gagasan dan pemikirannya dalam konteks kekinian dan keindonesiaan.

Kartini tak lain merupakan sosok avantgardis yang diakui kehebatannya oleh banyak kalangan, dari sastrawan, pendidik, hingga negarawan. Dialah simbol pergerakan wanita Indonesia yang sanggup menghadapi kolonialisme dan kesewenangan penjajah dengan kekuatan pena, tanpa harus mengangkat bedil, parang, maupun bambu runcing. Tak ayal, presiden pertama Indonesia Soekarno, melalui Kepres Nomor 108 Tahun 1964, menetapkan Raden Ajeng Kartini sebagai pahlawan nasional, sekaligus menetapkan hari lahirnya (21 April 1879) sebagai hari besar untuk memperingati jasa kepahlawanannya.

Di samping sebagai figur pahlawan nasional, Kartini tergolong pelopor dan inspirator wanita yang mengambil tempat tersendiri dalam sanubari rakyat Indonesia, terutama mengenai ide dan gagasan besarnya yang mampu menggerakkan dan menggelorakan perjuangan kaumnya dari kebodohan dan keterbelakangan. Dengan keberanian dan pengorbanannya yang tulus, ia pun sanggup menggugah kaumnya dari segala diskriminasi dan pandangan primordialisme. Untuk itu, seorang sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer, sebagai prosais satu-satunya yang beberapa kali masuk dalam jajaran nobel di bidang kesusastraan, pernah mengabadikan kebesarannya melalui karya sastra (novel) yang berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”.

Selang beberapa rahun setelah wafatnya, para pemerhati pendidikan di wilayah Nusantara ikut-serta mengikuti jejak-langkahnya mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dengan nama “Kartini”, misalnya Yayasan Kartini di Semarang (1912), kemudian menyusul di daerah Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan seterusnya. Memasuki abad milenium ini, keabadian namanya tertoteh dengan tinta emas melalui ribuan nama-nama jalan, sekolah dan lembaga pendidikan, hingga nama rumah sakit yang mengabadikan Kartini sebagai tokoh sentral pergerakan kaum wanita Indonesia.

Cita-cita dan perjuangan Kartini di bidang literasi dan pendidikan, tertuang secara apik dalam goresan-goresan penanya, terutama dalam surat-surat yang ditujukan kepada sahabat dekatnya, M.C.E. Ovink Soer (1900), perihal keinginan Kartini agar memperoleh pendidikan guru di Negeri Belanda, yang akan dijadikan bekal untuk tugas mendidik dan mengajar anak-anak bumiputra.

Cita-cita itu dianggap terlalu visioner bagi perempuan Nusantara pada zamannya. Kartini akhirnya memutuskan untuk menjadi “penyendiri” dan pemikir dalam kesunyian. Di satu sisi, ia mempertanyakan hakikat kodrat sebagai wanita yang diberikan Tuhan, namun di sisi lain ia percaya keadilan Tuhan yang memiliki sifat egaliter dan tanpa pilih kasih. Cita-cita yang mulia agar dirinya dianugerahi petunjuk, sehingga memeroleh jalan lapang hingga menjadi pendidik yang baik, itulah yang menjadi pangkal utama dari goresan-goresan penanya, sampai kemudian ia menyebutnya dengan “jalan kebebasan sejati”.

Bagi Kartini, istilah “jalan kekebasan sejati” dapat dikonotasikan sebagai jalan menuju Tuhan yang memiliki relevansi dan korelasi yang saling berhubungan. Dalam salah satu tulisannya, ia menegaskan dengan bahasa yang lugas: Siapa yang sesungguhnya mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada suatu apapun, ia sebenar-benarnya telah bebas.

Ketika ia menghadapi hari-hari yang dianggapnya “jalan buntu” yang tidak menyenangkan, di situlah Kartini menemukan jalan religiositas dan pencerahan yang sejati. Ini berkaitan dengan aktivitas gen dorman dalam ilmu neurosains, bahwa ketika Kartini terpapar emosi yang sangat mendalam, ia membiarkan dirinya terhanyut dalam emosi yang membuatnya merasa tak berdaya di hadapan “Yang Maha Agung”. Ketika seorang Kartini merasa tak berdaya, bersedih dan menangis, maka terjadi pembersihan hati nurani, sehingga tak ada lagi tempat untuk membenci dan mendendam.

Suatu kali ia pun melayangkan surat kepada sahabatnya E.C. Abendanon (1902), lalu menyampaikan pengalamannya pernah berjumpa dengan seorang nenek tua yang memberinya nasihat, serta besenandung di hadapannya: “Habis malam datanglah cahaya, habis topan datanglah reda, habis juang datanglah mulia, habis duka datanglah suka.”

Nenek tua itu memberikan wejangan tentang pentingnya berpuasa, menyendiri (uzlah) dan menghindari hiruk-pikuk keramaian duniawi. Kartini melakukan semua yang dianjurkan nenek tua itu, hingga ia berkesimpulan bahwa hakikat puasa bukan hanya menahan lapar dan nafsu, tetapi juga dapat melahirkan kemenangan rohani atas jasmani Pada fase ini semakin muncul kemandiran dan semangat religiositasnya, sehingga kemaslahatan Kartini tampil ke permukaan, sementara keakuannya hanyut ke dalam.

Hasratnya untuk mendidik kaum wanita Indonesia semakin kuat, meskipun ia gagal menempuh jalur pendidikan tinggi di negeri Belanda. Kegagalan itu diekspresikan dengan kemauan keras untuk membangun lembaga pendidikan. Pihak kolonial Belanda semakin membaca adanya gelagat mengkhawatirkan bagi tumbuhnya kesadaran dan emansipasi wanita bumiputra.

Berkat kegigihan dan cita-citanya, Kartini terus mencari celah-celah bagaikan air mengalir di dataran yang rendah, hingga sulit dibendung oleh kekuatan apapun. Pada tahun 1903 Kartini berhasil membuka sekolah untuk anak-anak priayi Jawa di daerah Jepara. Sekolah Kartini ini kemudian tercatat sebagai sekolah bagi anak-anak gadis Jawa yang pertama kali didirikan sejak sekuasa-kuasanya pemerintah Hindia Belanda.

Kepada sahabat penanya Abendanon, Kartini pernah mengakui bahwa efek menyendiri dalam kesunyian, dan mendekatkan diri pada Tuhan, dapat mengangkat derajat manusia pada kekayaan ilmu dan hikmah, serta mampu berpikir secara jernih dan mendalam. Hal ini kurang banyak disentuh oleh pakar pendidikan maupun intelektual barat pada zamannya. Padahal, seperti yang dijelaskannya secara gamlang, sebelum pertemuannya dengan nenek tua itu, seringkali ia melakukan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang. Tetapi kini, sikap kritis dan jiwa sosialnya tumbuh, seperti terungkap dalam pengakuannya: “Selama ini saya berada dalam pandangan umum tentang bagaimana seharusnya berlaku di dunia. Bahkan saya beragama sebagaimana nenek-moyang saya beragama.”

Namun, setelah ia menyepi dan menghindar dari kebisingan, ia mendapat banyak manfaat pencerahan, sehingga ia merasa mampu bertindak berdasarkan keyakinan pribadi serta pemikiran yang matang.

Tulisan-tulisan Kartini kemudian mengalir dengan kualitas sastra dan religiositas yang semakin tinggi. Sampai-sampai para pemikir, sastrawan dan negarawan sekelas Soekarno dan H.B. Jassin, menuangkan gagasan dan pemikirannya yang brillian untuk membedah pandangan hidup dan jejek-langkah Kartini yang sangat visioner dalam memandang Islam dan Nusantara ke depan.

Pada fase ini, banyak intelektual Barat yang luput mengenai pemahaman Islam Kartini yang sangat visioner, dan sebenarnya itulah jalan terjal dan berliku, hingga sampai ke tingkat pemahaman sufistik. Dalam salah satu surat yang dilayangkan kepada Abendanon, sahabat eropanya, ia kemudian mengkritik sikap kolonialisme yang cenderung skeptis dalam memahami konsep keadilan. Seakan para penentang dan pejuang pribumi tak lain dari pemberontakan anti agama dan anti Tuhan, yang cenderung mengusik kepamanan. Dengan tegas dan lugas Kartini menulis: “Tuhan kami ialah hati sanubari kami. Neraka dan surga kami ialah hati sanubari kami. Kalau kami berbuat salah, kami dihukum oleh hati sanubari kami. Kalau kami berbuat baik, kami diberkahi oleh hati sanubari kami.”

Oleh karena itu, kita bisa memahami ketika sastrawan sekelas H.B. Jassin dan Sutan Takdir Alisyahbana, menjuluki Kartini sebagai perempuan yang terlahir sebelum zamannya. Ia seorang avantgardis, yang berani menggunakan pemahamannya sendiri, dengan memakai bahasa Indonesia yang sederhana. Tulisannya memang mengandung kosa-kata yang sangat terbatas, namun meluncur sedemikian fasih dalam memaknai pendidikan hingga terminologi Islam di Nusantara. Demikian pula kecerdasan spiritualnya yang melintasi batas-batas pemahaman agama yang bersifat lateral dan tekstual semata. ***

Penulis adalah Pegiat Organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.