Sisi Lain Ayatullah Ali Khamenei

oleh -1197 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Selama beberapa dekade sebelum reformasi Arab Saudi, ruang gerak kaum perempuan sangat dibatasi. Apalagi negeri Afghanistan di bawah kekuasaan rezim Taliban, sekolah-sekolah untuk kaum perempuan justru ditutup. Tetapi di Iran, di bawah kepemimpinan Ali Khamenei, perempuan telah diizinkan belajar hingga menjadi ilmuwan dengan reputasi global. Ketika Hashem Aghajari menyerang pemikiran para ulama dan dikenakan hukuman mati (2002), karena menganjurkan penafsiran Al-Quran secara independen, justru oleh Ali Khamenei diselamatkan, dan hanya dikenakan hukuman penjara.

Selain sebagai ulama dan negarawan, Ali Khamenei juga dikenal sebagai sastrawan dan pakar linguistik. Dalam pidato-pidato politiknya, tak segan ia menjunjung-tinggi bahasa Persia sebagai bahasa Islam yang progresif dan revolusioner. Kecintaan Khamenei terhadap sastra semakin kentara sejak ia belajar di Mashad. Ia sering menulis puisi dan prosa dengan nama-nama samaran, di antaranya yang cukup terkenal adalah “Amin”. Khamenai juga rajin mengunjungi lembaga-lembaga kebudayaan, menghadiri undangan pertemuan para sastrawan, bahkan berdiskusi dengan kalangan marxisme, juga menulis kritik-kritik sastra di media massa.

Ketika tekanan politik dari rezim Shah Iran begitu membelenggu kebebasannya, Ali Khamenei justru menemukan ruang aman dalam dunia sastra. Ia dikenal sebagai sosok yang mendorong penciptaan kata baru dalam bahasa nasional Persia, untuk menggantikan serapan bahasa asing yang tak ditemukan padanan katanya.

Sebagai ulama dan negarawan, Khamenei secara terbuka memuji dunia kesusastraan, namun di sisi lain ia juga melakukan sensor terhadap karya-karya sastra yang banyak dipengaruhi unsur Barat, yang kerap dipakai untuk menyerang kredibilitas dan stabilitas bangsa Iran. Baginya, dunia sastra semestinya membentuk arah dan orientasi yang mampu membangun wacana, serta memberi solusi bagi persoalan-persoalan penting d tengah masyarakat. Di sisi lain, dalam fase hidupnya, Khamenei pernah secara terang-terangan mengagumi Les Misérables sebagai “mukjizat dunia novel”. Karya prosa tersebut berkisah tentang seorang tokoh yang hidup dalam kesewenangan, kemudian bangkit dari luka-luka dan keterpurukan. Ia pernah merekomendasikan buku ini, bersama The Grapes of Wrath dan Uncle Tom’s Cabin sebagai cermin kritik sosial. Khamenei begitu percaya bahwa karya sastra dapat menggerakkan sejarah serta memajukan budaya dan peradaban suatu bangsa.

Sebenarnya, Ali Khamenei bukanlah sosok karismatik seperti pendahulunya Imam Ruhullah Khomeini. Tetapi, pidato-pidatonya yang revolusioner membuatnya dicurigai Rezim Shah yang sangat didukung Amerika Serikat. Khamenei pernah diisolasi dan dikurung selama berbulan-bulan, dalam ruangan gelap berukuran dua kali dua meter. Kesunyian dipakai sebagai alat penghukuman; cahaya sama sekali tak masuk, sehingga sang waktu menjadi kehilangan arti.

Dalam otobiografinya, Cell No.14, Khamenei menuturkan bagaimana petugas intelijen SAVAK di masa rezim Shah Iran, gemar memprovokasi tahanan dengan menghina dan mengejeknya, sampai kemudian terjadilah baku hantam dan penyiksaan. Dalam bukunya itu, ia juga mengakui dirinya sebagai salah satu pengagum pemikiran Soekarno, yang disebutnya sebagai “Ahmad Sukarno”, sang proklamator kemerdekaan RI yang dinilainya berhasil mempersatukan negeri-negeri Asia-Afrika melalui Konferensi Bandung (1955). Sebagaimana Soekarno, ia pun dikenal sebagai negarawan sekaligus intelektual yang menulis buku-buku tentang pergerakan kemerdekaan, sastra, hingga kajian-kajian Islam modern.

Ledakan bom

Pada hari Sabtu, 27 Juni 1981, Ali Khamenei datang ke masjid Abu Dzar untuk memberi tausiyah bagi para jamaah. Ketika sesi tanya-jawab, seorang pemuda maju ke depan sambil meletakkan tape recorder di atas meja bertuliskan, “Hadiah untuk Republik Islam”. Tausiyah terus berjalan selama beberapa menit ke dapan. Tak lama kemudian, terdengarlah suara mendesis dari arah tape recorder yang diletakkan pemuda tadi, lalu tiba-tiba terdengar suara ledakan keras di sekitar ruangan. Serangan itu dikaitkan dengan gerakan Mujahidin el-Haq, suatu kelompok radikalis muslim, yang saat itu memusuhi otoritas pemerintahan baru Iran.

Khamenei sempat menjalani perawatan selama berbulan-bulan, karena paru-paru dan pita suaranya harus dioperasi. Lengan kanannya lumpuh permanen, hingga dapat dipahami, jika ia selalu memberi salam dengan melambaikan tangan kirinya. Sementara, tangan kanannya terselip ke dalam jubah, dan suaranya pun terdengar pelan dan serak ketika ia berceramah.

Sebagai ulama, Khamenei dikenal sangat zuhud dan sederhana. Ia berhasil merangkul semua faksi di Iran, hingga tak membuat salah satu dari mereka lebih menonjol dari yang lain. Ia menjadikan politik sebagai alat stabilitas dan keamanan bagi rakyatnya, dan bukan semata-mata alat bagi politik kekuasaan. Seringkali ia membaca dan memutuskan masalah umat melalui fatwa, suatu keputusan yang kadang dinilai kontroversial, tetapi cukup progresif dalam perspektif sosial politik. Misalnya di tahun 1999, Ali Khamenei mengeluarkan fatwa yang membolehkan donor sperma, ovum, atau ibu pengganti, dalam terapi kesuburan. Ini adalah respon dari umat yang bertanya tentang bagaimana solusi kehalalan jika seseorang mandul yang ingin memiliki anak. Sebuah terobosan berani dan berbeda dari fatwa Assisted Reproductive Technology (ART) yang dikeluarkan Universitas Al-Azhar, Cairo, sejak era 1980-an. Fatwa Al-Azhar hanya membolehkan teknologi seperti bayi tabung selama tidak melibatkan donor pihak ketiga.

Ketika ada riset stem cell menemukan potensi donor organ untuk penyakit serius, Khamenei memberikan izin dan fatwa bahwa riset tersebut ditujukan demi kebutuhan penyelamatan manusia di dunia medis, dan bukan untuk membuat manusia baru. Ketika seorang ulama Syiah Rafidlah dari Kuwait, Yasser al-Habib, menghina dan merayakan kematian Aisyah, justru Khamenei mengeluarkan fatwa yang melarang penghinaan terhadap para sahabat beserta istri-istri Nabi (2010). “Menghina istri-istri Nabi harus dihindari. Bagaimana pun, para istri Nabi adalah orang-orang suci dan terhormat. Bagi siapa yang berani menghina salah satu dari mereka, berarti dia telah menghina Rasulullah. Saya dengan tegas menyatakan hal tersebut sebagai tindakan ofensif,” kata Ali Khamenei.

Terkait isu sektarian dan khilafiyah, Khamenei juga berperan sebagai ulama dan negarawan yang menekankan persatuan dan kesatuan nasional. Sementara, kiprahnya dalam persatuan umat Islam, ia termasuk salah seorang tokoh yang menandatangani perjanjian di Amman. Banyak fatwa progresif dinilai sebagai aksi langsung pimpinan mazhab Syiah, untuk meredakan perbedaan hukum, sosial, dan politik antara komunitas Sunni dan Syiah, yang oleh Barat sering digunakan bahan bakar dan adu domba yang menimbulkan kekerasan sektarian.

Saat pertemuan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina pada Agustus 2005, pemerintah Iran juga mengutip fatwa yang telah dikeluarkan Khamenei, bahwa hukum Islam melarang untuk memproduksi, menimbun, hingga menggunakan senjata nuklir. Fatwa haram senjata nuklir merupakan respon langsung terhadap kekhawatiran kerusakan lingkungan. “Senjata pemusnah massal merupakan ancaman bagi kemanusiaan dan hukumnya haram,” demikian tegas Ali Khamenei.

Menengahi liberalisme

Tentu ada saja segolongan kaum liberalis ekstrim yang tampaknya sulit dikendalikan. Misalnya, mereka menghendaki Iran berkiblat ke dunia Barat dengan menampilkan para perempuan Iran di pantai Laut Kaspia di bawah rezim Shah Iran yang pro-Amerika. Mereka menampakkan foto dan gambar perempuan seronok berpakaian bikini sebelum era revolusi dulu. Gambar-gambar tak senonoh itu kerap dipakai sebagai bukti zaman yang dianggap “merdeka” bagi kaum perempuan Iran.

Sebagai Supreme Leader, figur tunggal yang berdiri di atas semua golongan, tentu saja Khamenei adalah sosok yang banyak dikritik dalam isu Hak Asasi Manusia (HAM). Kekerasan terhadap perempuan menjadi isu sentral sejak era 1980-an, ketika hijab diwajibkan bagi perempuan Iran di tempat-tempat umum. Kematian Mahsa Amini (2022) dijadikan alat propaganda dunia Barat, ketika disebarluaskan desas-desus bahwa kematiannya seolah dikarenakan ulah seorang polisi moral di Teheran.

Meski ditekan dan dihujat karena dianggap mengesahkan adanya pelanggaran HAM, Ali Khamenei tidak mengendurkan aturannya. Bagi pemerintah Iran, kebebasan berpakaian tidak selalu identik dengan kemajuan dan perkembangan. Padahal, Shah Iran ketika berkuasa, justru ia memiliki banyak istri, bahkan merendahkan nalar kaum wanita. Ia pernah menyatakan dalam suatu wawancara, bahwa peran wanita Iran, “tidak memiliki kemampuan kognitif sebagaimana kaum pria.”

Bahkan, di bawah Shah Iran kaum perempuan tidak memiliki akses pendidikan yang merata; hanya dianjurkan mengambil pendidikan jurusan akademik yang rendah; serta akses ke perguruan tinggi yang sangat terbatas. Hanya kelompok elit yang tinggal di perkotaan dibolehkan mendapatkan akses terhadap pendidikan tinggi. Modernitas hanya hadir sebagai hiasan kota, tetapi belum sepenuhnya diakses oleh mayoritas masyarakat. Sementara itu, Khamenei kerap melontarkan ungkapan yang progresif dalam pidatonya, bahwa angkatan muda Iran harus tekun menuntut ilmu, serta menggapai sains modern, tak terkecuali kaum perempuan.

Di dunia kampus dan laboratorium, statistik menunjukkan perubahan drastis. Perempuan Iran kini mencakup lebih dari 60 persen mahasiswa strata satu dan sekitar 70 persen lulusan STEM. Mereka menonjol di bidang kedokteran, matematika, teknik, hingga nanoteknologi. Lebih dari 130 peneliti perempuan Iran masuk dalam jajaran panaliti yang paling banyak dirujuk di dunia keilmuan. Inilah keunikan dan keunggulan Iran sebagai tanah tumpah darah dari bangsa Persia, yang telah melahirkan para ilmuan seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Biruni, Abdul Jabbar, juga para perawi hadits seperti Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, hingga para sufi, ahli makrifat dan cendekiawan muslim sekelas Al-Ghazali, Al-Razi, Al-Farabi, hingga Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Semua orang-orang hebat itu telah lahir dari tanah Iran (Persia).

Dalam bukunya Cell No.14, Ali Khamenei juga sangat toleran kepada seorang pemuda yang dijumpainya saat ia dimasukkan ke dalam sel isolasi. Pemuda itu terkapar di lantai karena sudah berhari-hari tidak makan. Khamenei menawarkan roti kepadanya agar segara dimakan, tetapi pemuda itu menolaknya. Dalam keadaan lemah tak berdaya, Khamenei menyuapkan roti ke mulutnya, dan ia pun mengunyah dan menelannya pelan-pelan.

Beberapa jam kemudian, pemuda itu pulih dan bangkit dalam posisi duduk, lalu berkata dengan tegas, “Anda yang memberi saya roti, ya? Mungkin Anda tahu bahwa saya ini seorang marxis dan penganut komunis. Saya menduga, niat baik Anda menyuapi saya roti, agar saya bisa masuk Islam, begitu kan?”

Ali Khamanei menanggapi pemuda itu dengan menyatakan, bahwa nasib mereka berdua adalah sama, dalam posisi tertindas. Orang-orang tertindas dan diperlakukan tidak adil berada dalam posisi yang sama, dan kita harus berjuang agar merdeka dari segala bentuk penindasan, terlepas siapa pun korbannya, dan siapa pun pihak yang menindasnya.

Dalam bukunya itu, Khamenei memberi contoh tentang genuinitas Soekarno yang dapat mempersatukan berbagai aliran, mazhab, bahkan Islam dan ideologi sosialisme ke dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia. Baginya, Soekarno telah berani melawan hegemoni Barat dengan memperjuangkan kesatuan nasion, hingga sanggup menyelenggarakan Konferensi Bandung, guna mempersatukan kekuatan negeri-negeri Asia-Afrika (1955), yang saat itu masih di bawah bayang-bayang penjajahan Barat. “Saya muslim dan Anda seorang Marxis, tetapi kita bisa bersatu untuk berjuang bersama, demi menegakkan prinsip keadilan dan kemakmuran bangsa kita,” demikian ujar Ali Khamenei. (*)

Penulis adalah Pengasuh pondok pesantren Tebuireng 09 (Nurul Falah) di Rangkasbitung, Banten, juga aktif menulis opini untuk harian Radat NTT, Koran Solopos, Radar Jember, Tribunnews.com, janang.id, Majalah Tebuireng dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.