Sikap Pemimpin Menghadapi Kritik 

oleh -1564 Dilihat
banner 468x60

Oleh K.H. Achmad Faisal Hadziq

Kritik terhadap pemimpin kadang dianggap sebagai serangan pribadi. Padahal, jika dihadapi dengan tenang, legawa dan tak terbawa emosi, ia akan mengundang hikmah reflektif yang dapat mencerahkan pemikiran. Suatu kritik dan evaluasi, hendaknya tidak mesti dilawan atau dihindari, tetapi untuk dipelajari dan dimanfaatkan sebagai alat ukur bagi pertumbuhan.

Para pemimpin di level apapun, harus sanggup mengubah sudut pandangnya terhadap kritik. Mereka harus memandang kritik sebagai himpunan data tentang bagaimana sang pemimpin dipersepsikan. Bahkan, kritik yang kasar sekalipun, hendaknya dijadikan petunjuk penting untuk melangkah secara optimal di masa depan.

Orang yang jiwanya tabah dan kuat, ia akan pendai memilah-milah, tak merasa perlu untuk membalas segala hal. Seorang pemimpin yang baik akan cermat memisahkan emosi pribadi dengan fakta yang ada. Ketika ia menghadapi saran atau kritik, ia akan pandai menyoal apakah itu sesuatu yang benar, hingga tak perlu fokus pada persoalan, apakah kritik itu menyakitkan atau tidak. Ia akan berusaha mengelola emosi, sehingga dapat mengganti reaksi negatif dengan respons yang lebih bijak.

Kiai Rifa’i Arief, ketika mendirikan pesantren Rumah Literasi (Daar el-Qolam), selalu siap menghadapi beragam kritik. Kadang dituduh sebagai pendidikan kebarat-baratan, kadang juga diserang seakan-akan mau memindahkan Mekah di daerah Banten. Pihak NU ortodoks menuduhnya sebagai antek Muhammadiyah, begitu pun sebaliknya.

Namun, Kiai Rifa’i tak merasa perlu untuk merespons kritik secara instan. Beliau akan mengambil jeda serta memberi kesempatan bagi logika untuk berbicara. Beliau menyadari bahwa kekuatan terbesar adalah kendali atas diri sendiri, bukan kemenangan atas argumen yang disampaikan orang lain. Kendali diri dan ketakwaan, tak ubahnya suatu proses pembersihan pikiran dari kekacauan emosi.

Tidak jarang di era medsos yang sarat distraksi dan sensasi saat ini, seorang pemimpin dan pejabat birokrasi menolak kritik bukan karena isinya salah, tetapi karena cara penyampaiannya yang dianggap menyakitkan. Untuk itu, hendaknya kita mnyadari agar senantiasa fokus pada esensi, bukan pada ekspresi. Dengan fokus pada esensi permasalahan yang dibahas, pikiran kita akan lebih obyektif dalam menilai sesuatu.

Para prinsipnya, kritik adalah cermin yang dapat menjadi alat terbaik untuk refleksi diri. Kadang kita terburu-buru menolak, tanpa sempat mengambil pelajaran tersembunyi di balik suatu komentar pedas. Padahal, kritik bisa datang dari siapa pun, kapan pun, dan kadang dalam bentuknya yang nyelekit dan menyakitkan.

Di sisi lain, kritik mesti dianggap sebagai ujian mental yang paling nyata di era medsos ini. Ia dapat menjadi uji ketahanan batin, hingga kesabaran dan ketekunan semakin terasah. Tak perlu membalas dengan serangan yang defensif. Kalau perlu, sikap diam dan istiqomah justru akan membawa maslahat hingga menjadi jawaban yang paling kuat.

Ketahuilah, bahwa kritik akan selalu ada, tetapi kita harus menentukan pilihan agar menjadi lebih bijak karenanya, bukan menjerumuskan diri ke dalam kenistaan, atau frustasi dalam keterpurukan. Untuk itu, menghadapi kritik bukan soal menjadi dingin atau acuh, tetapi tentang mengembangkan kontrol atas semangat kinerja kita.

Apa yang orang lain katakan tentang diri kita, seringkali bukan hakikat diri kita yang sebenarnya. Ia hanya sebagai cobaan hidup yang disodorkan Tuhan untuk menguji kualitas kesabaran kita. Karena itu, reaksi dan sikap kita terhadap kritik, itulah hakikat diri kita yang sebenarnya. (*)

Penulis adalah Akademisi dan Pengasuh Pondok Pesantren La Tansa 2 di Rangkasbitung, Lebak, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.