Sifat Dajjal dan Kesombongan Para Penguasa

oleh -579 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Tamim ad-Dari adalah seorang pendeta Nasrani, kelahiran Palestina yang pernah terdampar di suatu pulau misterius, lalu pengalaman hidupnya dibenarkan oleh Rasulullah Saw. Tamim pernah berjumpa dengan Dajjal di pulau terpencil itu, karena kapal yang ditumpanginya karam dan terdampar setelah berhari-hari berjuang melawan keganasan alam, lantaran terombang-ambing ombak ganas di lautan lepas.

Pertemuan pertamanya dengan Rasulullah pada tahun 628 Masehi atau (9 Hijriyah), ketika ia memimpin sepuluh delegasi dari para anggota Bani ad-Dar, kemudian menyatakan dirinya masuk Islam, lalu tinggal di wilayah Madinah. Beberapa usulan yang disampaikan kepada Nabi, telah diterima dengan baik, terutama soal perlunya pemakaian lampu minyak di masjid Nabawi. Banyak kisah-kisah menarik dikemukakan Tamim, yang dikaitkan antara petuah Rasulullah yang sangat relevan dengan pesan-pesan esensial dari Kitab Injil.

Sebagai bentuk penghormatan kepada Tamim Ad-Dari atas kisah pertemuannya dengan Dajjal, Rasulullah bahkan naik ke atas mimbar Masjid Nabawi, menceritakan kembali kisah yang dituturkan Tamim, bahwa di saat ia bersama tigapuluh pelaut terhempas ombak dan badai selama berhari-hari, maka mereka telah kehilangan arah kompas. Mereka pun akhirnya terdampar di suatu pulau antah barantah, lalu mereka memenuhi rasa haus dan lapar setelah berhari-hari kekurangan pangan.

Tetapi ironisnya, tak ada seorang manusia pun yang tinggal di pulau tersebut, kecuali hanya makhluk berbulu tebal, hingga bulu-bulunya menutupi seluruh tubuhnya hingga ke bagian wajah dan ekor. “Makhluk apakah itu? Kita tak pernah menjumpai makhuk aneh itu di pulau mana pun?” tanya Tamim pada teman-temannya.

Semuanya hanya membisu dengan tubuh merinding. Tiba-tiba seekor dari makhluk itu mengangkat mukanya yang berbulu, “Aku adalah Jassasah,” katanya kepada para rombongan, “kalian masuklah menuju kuil tua di tengah pulau ini, karena ada seseorang yang ingin menyampaikan pesan kepada kalian.”

“Pesan apakah itu?”

“Pokoknya kalian masuk saja ke dalam kuil itu.”

Kemudian, mereka pun masuk ke tempat yang diisyaratkan tadi, sampai akhirnya di dalam kuil tua, mereka menyaksikan dengan mata-kepala sendiri, wujud manusia raksasa yang tubuhnya diikat dengan rantai besi yang sangat kuat. Tamim memberanikan diri untuk bertanya, “Siapakah Anda ini?”

Manusia raksasa itu justru balik bertanya, “Akan kuberitahukan pada kalian tentang siapa aku, tetapi sebelumnya aku mau bertanya terlebih dahulu, siapakah kalian ini?”

“Kami adalah kaum dan negeri Arab.”

“Lalu, apakah tujuan kalian datang ke sini?”

Salah seorang menceritakan kronologi perjalanan mereka hingga terdampar ke pulau terpencil itu, kemudian disampaikan pula pertemuan mereka dengan makhluk Jassasah yang dikira adalah makhluk gaib atau sejenis setan. Setelah mendengar beberapa saat, kemudian giliran Dajjal yang mengakui bahwa dirinya adalah “Al-Masikh” yang diutus Tuhan untuk menemui dan menggoda seluruh manusia di permukaan bumi, hingga tak seorang pun luput dari gangguan dan godaannya kelak, di saat Tuhan sudah mengizinkan lepas dari belenggu tersebut.

“Sekarang beritahu aku, apakah kebun-kebun kurma masih berbuah?”

“Tentu saja,” jawab Tamim singkat.

“Bagaimana dengan kebun kurma Baisan?”

“Baisan juga masih berbuah,” jawab salah seorang dari rombongan.

“Ketahuilah, dalam waktu dekat, kebun-kebun itu tak akan berbuah lagi.”

Mereka saling bersitatap, terheran-heran apa yang dimaksudkan Dajjal dengan ungkapan macam itu. Tak lama kemudian, Dajjal bertanya lagi, “Sekarang aku mau bertanya mengenai danau-danau, apakah masih ada airnya?”

“Ya, tentu saja.”

“Apakah Danau Tiberias masih ada airnya?”

“Ya.”

“Ketahuilah, dalam waktu dekat danau-danau itu akan mengering.”

Lagi-lagi mereka bingung, apakah yang dimaksud oleh Dajjal mengenai mengeringnya Danau Tiberias itu. Mengapa pula dari ribuan danau-danau besar di permukaan bumi, justru Danau Tiberias yang dia sampaikan kepada rombongan itu.

“Lalu, bagaimana dengan mata air Zughar?”

“Apa yang kau maksudkan dengan menanyakan mata air itu?”

“Apakah mata-mata air seperti Zughar masih bisa mengairi pesawahan, hingga para petani masih mampu bercocok taman?”

Tak lama kemudian, salah seorang menjawab, “Ya, mata air Zughar masih mengalir, dan masyarakat masih bisa bercocok tanam.”

Semuanya terdiam dalam keadaan takut dan tegang, kemudian muncul pertanyaan terakhir dari Dajjal, menyoal sesuatu yang sangat prinsipil: “Sekarang, kabarkan padaku, tentang Nabi yang tak bisa baca tulis (ummi), apa yang sedang dia lakukan di sana?”

“Dia adalah Muhammad, kabarnya beliau bersama pengikutnya telah melakukan perjalanan dari Mekah menuju Yatsrib (Madinah), karena orang-orang Qurays memusuhi dan hendak membunuhnya.”

Dajjal kemudian menjelaskan secara terus-terang: “Ketahuilah, mereka yang mengikuti Muhammad akan selamat, karena apa-apa yang diajarkan beliau hanyalah kebaikan dan kebenaran semata. Saat ini, aku akan beritahukan pada kalian, jika Allah mengizinkan sekarang aku harus keluar dan terlepas dari belenggu ini, maka aku pun akan berbaur di tengah-tengah kalian, mengembara dari satu tempat ke tempat lain di seluruh permukaan bumi, selama empatpuluh hari, hingga tak ada satu kampung pun yang luput dari gangguan dan godaanku. Kecuali ada dua tempat yang terlindungi oleh para Malaikat yang tak bisa kutembus, yakni Mekah dan Yatsrib (Madinah).

Seketika Dajjal meronta-ronta dan mengamuk, hingga rombongan Tamim Ad-Dari segera hengkang dan berlari menuju pantai, seraya melompat ke atas kapal. Bagi mereka, pulau misterius itu begitu angker dan menyeramkan, dihuni oleh makhluk-makhluk kasatmata seakan berada di negeri dongeng yang mengerikan. Bahkan, mereka lebih memilih lautan dan hempasan badai, ketimbang berurusan dengan makhluk ganas yang sangat mengancam keselamatan hidup mereka.

Untuk itu, dalam bacaan tahiyyat akhir saat melaksanakan salat, kita disunahkan mengucap doa singkat: “Ya Allah, kami berlindung dari fitnah Dajjal al-Masikh. Wahai Tuhan Sang Pembolak-balik hati manusia, tetapkan hatiku dalam kebenaran agama-Mu.”

Ketika ditanyakan oleh salah seorang sahabat mengenai letak pulau terpencil di mana rombongan Tamim terdampar, Rasulullah menjawab bahwa posisinya antara lautan Syam dan Yaman, lalu Dajjal akan muncul dari arah timur (seraya tangan Rasul menunjuk ke arah timur). Cerita ini dikisahkan sebagai hadits sahih yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Bahkan, dituturkan secara fasih oleh Fatimah binti Muhammad. Suatu kisah menarik tentang ujian dan cobaan manusia di akhir zaman, ketika krisis ekonomi, kekurangan air dan pangan, kelak akan melanda umat manusia di muka bumi ini.

“Kita adalah anak-anak Ramadhan, karenanya tak usah takut dengan ancaman kelaparan. Dan kita adalah anak-anak Muharram (hijriyah), karenanya tak usah takut dengan ancaman kematian,” demikian pesan Ayatullah Ali Khamenei (sebelum wafat) yang disampaikan kepada bangsa Iran dan kaum muslimin sedunia. Secara eksplisit, beliau menegaskan bahwa perkara “kematian” hanyalah perpindahan saja dari alam duniawi, menuju alam ukhrawi yang dijanjikan Allah Swt.

Ketika ditawarkan kepada Ali Khamenei dan keluarganya agar segera menyelamatkan diri dan berlindung di dalam bunker yang disediakan Pasukan Garda Revolusi, justru beliau menjawab sambil tersenyum, “Sediakan dulu bunker-bunker untuk melindungi 90 juta rakyat Iran, barulah aku dan keluargaku bersedia untuk berlindung di dalam bunker itu.”

Inilah tipikal pemimpin yang kontras sekali dengan mental penguasa modern yang cenderung angkuh dan sombong. Mereka lebih mementingkan cari selamat sendiri, serta memprioritaskan urusan famili dan kroni-kroninya. Sementara, rakyat yang membiayai kebutuhan hidup mereka, dianggap urusan sampingan dan belakangan.

Penulis adalag Pengasuh Ponpes Tebuireng 09 (Nurul Falah), penulis buku Marwah Pesantren, juga penulis esai keislaman di berbagai media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.