Sekolah sebagai Komunitas Literasi, Bukan Sekadar Tempat Transfer Pengetahuan

oleh -274 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Heri Isnaini

Pemandangan itu mungkin tidak asing. Bel berbunyi. Guru memasuki kelas. Siswa membuka buku. Materi disampaikan. Beberapa siswa mencatat. Sebagian lainnya diam sambil sesekali melihat jam. Ketika waktu pelajaran selesai, buku ditutup, kelas berakhir, dan semua kembali pada rutinitas masing-masing. Jika ditanya apa yang terjadi di kelas tersebut, jawabannya sederhana: “proses belajar mengajar.” Namun, jika ditanya apakah di sana telah tumbuh budaya belajar, jawabannya belum tentu.

Perbedaan antara keduanya sering kali luput dari perhatian. Belajar mengajar dapat berlangsung setiap hari, tetapi budaya belajar tidak selalu lahir dari proses itu. Seseorang dapat menerima banyak informasi tanpa benar-benar tumbuh sebagai pembelajar. Demikian pula sekolah dapat menyelesaikan seluruh target kurikulum tanpa berhasil membangun tradisi literasi yang hidup.
Di sinilah saya sering berpikir bahwa tantangan terbesar pendidikan kita bukan sekadar bagaimana menyampaikan pengetahuan, melainkan bagaimana menciptakan lingkungan yang membuat pengetahuan itu terus dicari, dipertanyakan, dan dikembangkan bersama. Sekolah ideal bukanlah pabrik yang memproduksi nilai rapor. Sekolah adalah komunitas belajar.

Dalam kajian pendidikan modern, terdapat konsep yang menarik, yaitu community of practice. Konsep ini berangkat dari pemahaman bahwa manusia belajar bukan hanya melalui instruksi formal, melainkan melalui keterlibatan dalam suatu komunitas yang memiliki tujuan, praktik, dan pengalaman bersama. Seseorang menjadi ahli bukan semata-mata karena mengikuti pelatihan, tetapi karena hidup di dalam lingkungan yang memungkinkan proses belajar berlangsung secara terus-menerus.

Jika konsep ini dibawa ke dunia sekolah, maka sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat guru mengajar dan siswa belajar. Sekolah harus menjadi ruang tempat seluruh warganya bertumbuh bersama sebagai pembaca, penulis, peneliti, dan pencari makna.
Sayangnya, dalam banyak kasus, literasi masih dipahami secara administratif. Ada pojok baca, ada program lima belas menit membaca, ada lomba menulis, ada dokumentasi kegiatan. Semua itu penting. Namun, literasi tidak tumbuh hanya karena program. Literasi tumbuh karena kebiasaan.

Saya teringat pada pengalaman berkunjung ke beberapa sekolah. Ada sekolah yang perpustakaannya megah, tetapi sepi. Rak-rak buku tertata rapi, tetapi jarang disentuh. Buku hadir sebagai pajangan. Di sekolah lain, perpustakaannya sederhana. Bahkan ruangannya tidak terlalu luas. Namun, hampir setiap jam istirahat selalu ada siswa yang datang untuk membaca atau berdiskusi. Guru-gurunya sering membicarakan buku yang baru dibaca. Tulisan siswa dipajang di berbagai sudut sekolah. Di sana, literasi terasa hidup. Perbedaannya bukan terletak pada bangunan atau fasilitas. Perbedaannya terletak pada budaya.

Budaya membaca tidak lahir dari kewajiban semata. Ia lahir ketika membaca menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Siswa membaca karena ingin mengetahui sesuatu. Guru membaca karena merasa perlu memperkaya diri. Kepala sekolah membaca karena memahami bahwa kepemimpinan intelektual tidak mungkin tumbuh tanpa kebiasaan belajar.

Hal yang sama berlaku pada budaya menulis. Banyak siswa menganggap menulis sebagai tugas sekolah. Mereka menulis karena diminta. Setelah tugas selesai, aktivitas menulis pun berhenti. Padahal menulis sejatinya adalah cara berpikir. Ketika seseorang menulis, ia sedang belajar mengorganisasi gagasan, mempertimbangkan argumen, dan menemukan makna atas pengalaman yang dijalaninya.

Sebab itu, sekolah yang sehat secara literasi bukanlah sekolah yang sesekali mengadakan lomba menulis. Sekolah yang sehat adalah sekolah yang memberi ruang bagi tulisan untuk hidup. Tulisan siswa dibaca. Tulisan guru dipublikasikan. Gagasan dipertukarkan. Diskusi berlangsung. Membaca dan menulis menjadi aktivitas yang wajar sebagaimana orang bercakap-cakap.

Dalam ekosistem seperti itu, guru memegang peran yang sangat penting. Kita sering meminta siswa membaca lebih banyak buku. Namun, pertanyaan yang jarang diajukan adalah “Buku apa yang sedang dibaca gurunya?” Kita mendorong siswa menulis. Namun, seberapa sering siswa melihat gurunya menulis? Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang dicontohkan. Seorang guru yang antusias membicarakan buku akan menularkan antusiasme yang sama. Seorang guru yang gemar menulis akan memperlihatkan bahwa menulis bukan sekadar tugas sekolah, melainkan bagian dari kehidupan intelektual.

Saya sering menemukan siswa yang tidak terlalu menyukai pelajaran bahasa Indonesia, tetapi berubah setelah bertemu guru yang mencintai sastra. Guru itu tidak hanya mengajarkan puisi. Ia membacakan puisi. Ia tidak hanya menjelaskan cerpen. Ia menceritakan pengalamannya membaca cerpen yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Melalui cara itu, siswa tidak sekadar mempelajari materi. Mereka melihat bagaimana literasi hidup dalam diri seseorang.

Barangkali di sinilah letak makna terdalam pendidikan. Pengetahuan memang penting. Kurikulum juga penting. Akan tetapi, jauh lebih penting dari semuanya adalah terciptanya lingkungan yang membuat belajar menjadi bagian dari kebudayaan sekolah.

Sekolah yang baik bukan sekolah yang hanya menghasilkan lulusan dengan nilai tinggi. Sekolah yang baik adalah sekolah yang menumbuhkan rasa ingin tahu. Sekolah yang membuat siswa merasa akrab dengan buku. Sekolah yang memberi ruang bagi gagasan untuk tumbuh. Sekolah yang menjadikan membaca sebagai kebutuhan dan menulis sebagai kebiasaan.

Ketika hal itu terjadi, sekolah tidak lagi sekadar menjadi tempat transfer pengetahuan. Ia menjelma menjadi komunitas literasi. Sebuah ruang tempat guru dan siswa sama-sama belajar, sama-sama bertanya, dan sama-sama bertumbuh. Dan mungkin, di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, sekolah semacam itulah yang paling kita butuhkan hari ini.

Penulis adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.