Sejarah Luka dalam Novel Pikiran Orang Indonesia

oleh -1848 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

Tulisan ini tidak bermaksud mengajak Anda bernostalgia pada masa lalu, namun hanya sekedar mengingatkan betapa pentingnya memikirkan masa lalu untuk menampilkan masa depan yang lebih baik. Apa kekurangan dan kesalahan kita di masa lalu? Jalan apa yang mestinya kita lakukan untuk kebaikan masa depan?

Menurut penulis novel Pikiran Orang Indonesia , Hafis Azhari, jika suatu bangsa tak mau mengadakan refleksi tentang masa lalunya, niscaya mereka akan terjebak untuk terus mengulangi kesalahan yang sama, menjalani hidup tanpa arah, dan pada akhirnya merusak karakter kita sebagai bangsa merdeka dan berdaulat.

Melalui jalan perenungan dan refleksi diri, suatu bangsa akan menemukan jati dirinya. Perlu ditegaskan di sini, bahwa jati diri suatu bangsa harus terbentuk melalui kebiasaan, pengalaman, dan kesadaran diri. Ironisnya, sejak zaman Orde Baru, kebanyakan orang Indonesia hidup dalam tempurung mesin otomatis. Bangun tidur, makan, bekerja, berebut untuk menaiki jabatan, seolah tanpa pernah bertanya, apakah saya sedang menjalani hidup yang benar dan layak untuk dijalani?

Beberapa sahabat saya, sering menampik jika diajak membicarakan masa lalunya, dengan alasan penuh luka, rasa malu, dan kegagalan yang menyakitkan. Padahal, dengan refleksi diri serta melihat kembali perjalanan hidup kita, baik keberhasilan, kegagalan bahkan keterpurukan sekalipun, maka sangat terbuka peluang untuk memperbaiki diri, hingga tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan bijak.

Novel POI telah menyuguhkan secara gamlang narasi-narasi asli mengenai perjalanan hidup sang tokoh (Aris) yang pernah terpuruk karena salah dalam mengambil keputusan, sehingga ia mengadakan introspeksi diri tentang apa yang harus dilakukan demi perbaikan masa depan.

Upaya perbaikan

Tokoh Aris justru berbeda dengan sahabat persahabatan (Arif) yang hidup hanya mengikuti arus, meskipun setelah menyadari bahwa arus itu akan memikat dan mencelakakan dirinya sendiri. Sementara Aris, berusaha untuk memutar haluan, mencari jalur alternatif guna melihat kembali tindakan, pikiran, dan perasaannya, kemudian mampu menilai apakah hidup yang dijalaninya selaras dengan nilai-nilai yang diyakini sebagai seorang religius?

Aris menyadari bahwa refleksi diri akan menjadikannya lebih bijaksana dan jujur pada diri sendiri. Ia berusaha memperbaiki kesalahan dan kekeliruan, bahkan berupaya merawat hal-hal baik yang sudah ada. Sebaliknya, tokoh-tokoh lain dalam POI tak mengubahnya kebanyakan masyarakat hiper modern yang kehilangan tradisi muhasabah dan introspeksi diri, hingga mereka membiasakan hidup cepat dan produktif, namun seringkali mengabaikan kualitas dan kedalaman makna.

Akibatnya, lagi-lagi mereka terjebak dalam siklus dan mata rantai kekurangan dan kegagalan, sampai kemudian terhenyak menyoal diri sendiri, apakah ini tujuan hidup manusia di muka bumi ini?

Jika menengok kembali tokoh-tokoh dalam novel POI, ketidakmauan sesungguhnya untuk mengadakan refleksi dan introspeksi diri, tidak hanya merugikan individu, tetapi juga masyarakat luas. Orang-orang yang tidak pernah berpikir cenderung berpikir reaktif, impulsif, dan mudah terbawa arus. Sebaliknya, masyarakat yang penuh dengan individu yang reflektif akan lebih stabil, penuh empati, serta memiliki visi yang jelas untuk menatap masa depan.

“Jangankan suatu bangsa, bahkan suatu lembaga atau perusahaan yang tidak menanggapi hal-hal prioritas, malah sibuk bereaksi terhadap hal-hal yang tidak prinsipil, cepat atau lama akan mudah terjatuh dalam kebangkrutan dan keterpurukan,” demikian tegas Hafis Azhari.

Peran penguasa

Para elit politik dan penguasa negeri ini memiliki tanggung jawab besar untuk memulai dan memberikan teladan, seraya memikirkan kembali, kekeliruan dan kesalahan apa yang telah dilakukan bangsa ini di masa lalu? Jika pernah terjadi kekisruhan politik dan amuk massa yang menimbulkan banyak luka pada sebagian bangsa, lalu berada di pihak mana semua unsur masyarakat pernah terlibat?

Apakah Anda menjadi pelaku sejarah yang menimbulkan luka seperti tokoh Arif dan kawan-kawan, ataukah hanya berpangku tangan saja, karena rasa takut untuk membela yang benar? Ataukah justru apatis dan tak peduli, yang berarti berpihak pada ketidakadilan dan kesewenangan? Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman tragis tersebut?

Novel POI telah memberikan rumusan tentang hakikat luka pada suatu bangsa. Menurut penulisnya, jika seorang penguasa berani membunuh rakyatnya sendiri (dosa besar), maka dosa-dosa lainnya, seperti korupsi, kolusi, nepotisme akan mudah sekali dia lakukan. Novel itu seolah mengajak kita semua untuk meluangkan waktu, melihat kembali kehidupan kita, demi menyelamatkan karakter bangsa dari kehancuran dan keterpurukan, serta membangun kehidupan baru yang lebih terarah dan bermakna.

Akhir-akhir ini, banyak orang Indonesia yang takut mengingat masa lalu, karena merasa akan membuka luka lama. Padahal, luka-luka masa lalu bukanlah untuk ditangisi, melainkan untuk dipahami dan diambil hikmahnya. Dengan memikirkan masa lalu, kita dapat mengambil keputusan yang lebih sadar, hingga dapat merancang masa depan dengan matang dan terarah, serta dengan karakter bangsa yang tangguh, jujur, dan berintegritas.

Jika suatu bangsa berjalan tanpa prinsip kebenaran dan keadilan, dengan sendirinya mereka sedang melangkah tanpa arah dan tujuan yang jelas. Padahal, watak dan karakter bangsa harus dibangun dari hasil berpikir, merenung, serta keberanian menengok masa lalu demi perbaikan dan kedewasaan di masa yang akan datang.

Dengan demikian, perlu dicermati apa yang ditegaskan Hafis Azhari mengenai novelnya Pikiran Orang Indonesia : bukankah segala kekisruhan dan kenyataan sejarah hari ini, akibat dari ketidakmauan untuk berpikir kritis, serta menolak untuk menengok ke masa lalu?

Lalu, seberapa banyak lagi luka-luka yang akan ditorehkan bangsa ini, akibat dari ketidaksanggupan untuk muhasabah dan introspeksi diri? (*)

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), Pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Serang, Banten, juga aktif menulis prosa dan esai di harian Kompas, Koran Tempo, Republika dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.