Sebuah Tradisi Kehilangan Makna: Coret Mencoret Seragam Sekolah Seusai Lulus

oleh -148 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Asri Sarlota Malese

Coret mencoret baju seragam telah menjadi budaya karena sudah menjadi bagian/momen yang sudah pasti dinantikan oleh banyak pelajar bahwa ketika lulus nanti yang paling terkhir dilakukan adalah mencoret seragam sekolah sebagai bentuk rasa kebersamaan, keseruan serta menjadi simbol kebebasan setelah bertahun-tahun hidup di bawah aturan sekolah dan momen paling terkahir di masa sekolah dan menjadi wadah ekpresi persahabatan dan kenangan yang tertulis nyata di kain.

Pada umumnya hal ini dilakukan saat kelulusan SMA yang mana siswa-siswi mulai memiliki ide untuk menulis nama, gambar atau hal lainnya yang akan memberikan kenangan di baju, celana ataupun rok. Biasanya menggunakan spidol, pulpen, pilox dan alat coret lainnya.

Namun tradisi atau momen kebahagiaan yang dilakukan melalui coret mencoret ini malah menuai kritik yang negatif dari berbagai kalangan, karena mereka merasa semakin kesini semakin menimbulkan hal negatif.

Selebrasi coret mencoret baju sering kali menimbulkan keresahan bagi masyarakat karena dianggap mengganggu ketertiban di jalan raya dan kurang sopan mencoret atau merusak hal berharga yang selama ini digunakan selama berjuang 12 tahun di bangku pendidikan, dan juga hal ini termasuk cara perpisahan yang berlebihan karena bagi sebagian siswa-siswi, momen ini bisanya dijadikan sebagai sebuah acara untuk mengakhiri masa-masa sekolah.

Sehingga bagi mereka juga bisa melakukan selebrasi dengan cara yang salah: seperti mabuk-mabukan, party, bahkan kumpulan-kumpulan sampai larut malam. Jika dilihat lagi kini coret mencoret seragam bukan terlihat seperti suatu budaya lagi namun malah terlihat kehilangan makna kebersamaan atau persahabatan, mengapa?

Karena contohnya pada Mei 2026 yang diunggah oleh akun Instagram @kita_timur terlihat para siswa-siswi merayakan coret mencoret dengan gambaran vulgar yang tidak pantas dipamerkan secara terbuka melalui gambar di baju seragam. Sehingga hal ini menjadi hal yang sangat negatif atau melanggar norma kesusilaan.

Sekalipun coret mencoret baju ketika lulusan sekolah telah menjadi budaya bahkan fenomena yang selalu terjadi saat mendengarkan kelulusan. Namun dalam moment yang sama siswa-siswi bahkan mengekspresikan dengan cara yang kurang tepat sehingga dikritik karena dianggap telah melewati batas kewajaran dan mengesampingkan nilai-nilai yang telah diajarkan kepada mereka.

Momen ini bisa membawa pesan positif dan negatif bagi setiap siswa yang terlibat langsung. Namun malah cara-cara seperti ini malah kembali dipertanyakan lagi, bahwa apakah selama ini mereka hanya sekedar memenuhi bangku sekolah atau tidak terdidik dengan baik oleh tenaga pendidik maupun lingkungan sekitar?

Tidak semua tradisi layak dipertahankan tanpa evaluasi” dan “kelulusan harusnya jadi momen yang meninggalkan kesan baik, bukan justru membiasakan hal yang keliru”. Untuk itu rayakan dengan moment dan makna yang menunjukan siapa jati diri kita. Dan pastikan bahwa hal tersebut dapat menguntungkan diri kita sendiri dan orang lain.

Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.