Sampah Menumpuk, Kesadaran Masih Tipis: Refleksi Pengelolaan Lingkungan di Kota Kupang

oleh -373 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Dominikus Sabambam

Kota Kupang setiap hari menghadapi realitas yang sama: sampah menumpuk di berbagai sudut kota, sementara kesadaran masyarakat untuk mengelolanya masih sangat minim. Data menunjukkan bahwa Kupang menghasilkan sekitar 200–250 ton sampah per hari, sebuah angka yang jauh melampaui kapasitas pengelolaan yang tersedia. Ketiadaan sistem pengelolaan sampah yang terpadu dan berkelanjutan menjadikan masalah ini semakin kompleks dan mengancam kesehatan lingkungan serta kehidupan warga kota.

Banyak warga masih menganggap sampah sebagai urusan pemerintah semata. Tradisi membuang sampah di sungai atau pinggir jalan masih biasa terjadi. Program bak sampah dan pengomposan belum mendapat partisipasi memadai. Plastik sekali pakai masih mendominasi, sementara alternatif ramah lingkungan hampir tidak digunakan.

Lebih parahnya, tidak ada sistem pemilahan sampah organik dan anorganik yang diterapkan secara konsisten di tingkat masyarakat. Sampah plastik, sisa makanan, dan bahan berbahaya dibuang bersamaan, menyulitkan proses daur ulang dan pengolahan. Situasi ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan hanya pada kapasitas infrastruktur, tetapi juga pada kesadaran dan perilaku masyarakat.

Sebenarnya masyarakatlah yang menjadi penopang utama dalam masalah pembuangan sampah. Masyarakat bisa saja memiliki ide untuk menggali lubang atau jika memiliki sumur yang rusak bisa dijadikan tempat pembuangan sampah dan di bakar tiap hari.

Kesadaran lainnya yaitu jangan malas pusing ketika melihat sampah di jalan atau melihat siapapun dia dan apapun jabatanya ketika dia masih membuang sampah sembarangan maka kita wajib mengingatkan satu sama lain, tidak perlu memikirkan perasaan dan lainnya karena ini menyangkut kenyamanan kehidupan kita dan kebersihan lingkungan serta daerah kita di Kota Kupang.

Sebagai kota pendidikan, Kupang seharusnya menjadikan sekolah sebagai pusat perubahan. Namun, kurikulum pendidikan lingkungan belum integratif secara sistematis. Anak belajar teori sampah tanpa praktik nyata seperti memilah, membuat kompos, atau mengurangi plastik.

Pemerintah perlu kebijakan lebih proaktif: wajib memilah sampah, sanksi bagi pembuang sampah salah tempat, insentif untuk aktif bank sampah, penyediaan tempat sampah terpisah di area publik, dan kampanye lingkungan masif.

Sampah di Kupang adalah masalah kolektif. Setiap warga yang memilah sampah, setiap sekolah yang mengajarkan pengelolaan, setiap bisnis yang mengurangi plastik—semua bagian dari solusi. Mari berubah sekarang: Kupang bersih dan sehat bisa dicapai jika kita semua mau bergerak. Kesadaran lingkungan yang tumbuh = Kupang yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Perubahan tidak harus besar sejak awal. Mulai dari kecil: bawa tas belanja sendiri, pilah sampah organik dan anorganik, ikut program bank sampah. Dari langkah kecil itu, Kupang bisa berubah. Memiliki ide kecil dalam hal menegur sesama soal membuang sampah saja sudah sangat berarti dalam menjaga kebersihan.

Mari bersama berkata: “Sampah bukan urusan pemerintah saja, tapi tanggung jawab kita semua.” Dari masalah inilah membangkitkan kesadaran kita semua khususnya kita yang berpendidikan. Mewujudkan Kota KASIH dengan menjadikan kebersihan adalah bagian dari iman.

Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.