Riwayat Kurban dari Zaman ke Zaman

oleh -1806 Dilihat
This template can be used for writing Hadith, Quran verses and creating Islamic social media posts
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Seorang filsuf Yunani, Socrates dikenal sebagai bapak pencerahan (aufklaerung) yang sama-sama memiliki kepopuleran dengan Nabi Ibrahim, khususnya dalam merelatifkan mitos-mitos yang dikehendaki para dewata. Keduanya berani mengkreasikan perimbangan politik yang bersifat profan, dengan mitos-mitios leluhur yang dianggap sakti dan keramat.

Kisah-kisah seputar pengorbanan anak Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam kitab-kitab suci, adalah upaya merelatifkan mitos lama tentang pengorbanan darah manusia untuk menyenangkan para dewata. Kemudian, terjadilah transformasi mengenai bentuk ritual dan benda persembahan. Namun pada prinsipnya, apapun jenis barang yang dikorbankan tak lain merupakan ekspresi dari semangat religiusitas yang telah menjadi kepercayaan dan keyakinan bersama. Dengan demikian, Nabi Ibrahim yang memiliki kedaulatan sebagai manusia yang berikhtiar dan mencari jalan terbaik, mempersoalkan bentuk-bentuk kurban yang tidak manusiawi, lalu merancang pengaturannya agar lebih beradab dan berperikemanusiaan.

Demikian pula dengan Socrates yang pernah membangun pemikiran transformasional, serta menggugat peradaban yang mengendalikan penguasa Yunani, dengan segala kepercayaan pada kehendak dan kesewenangan Dewa Zeus. Bagi Socrates, hakikat hidup manusia itu indah dan agung. Manusia tidak boleh begitu saja tunduk dan menyerah kepada selera dan kesewenangan para dewata, yang diidentikkan dengan gejala alam bawah sadar. Dunia fana harus dikreasi menjadi bagus, sedangkan waktu harus dijadikan rentangan kisah manusia, serta sejarah kehidupan yang lebih mulia.

Riwayat kurban

Secara antropologis, ritual kurban merupakan bentuk persembahan manusia kepada sesuatu yang dianggap sakral dan memiliki kekuatan dahsyat yang berada di luar diri manusia. Melalui kurban, manusia berharap mendapat perlindungan dan keselamatan dari sesuatu yang dianggap sakral tersebut. Para antropolog menunjukkan beberapa ritual yang mengorbankan manusia (manusia yang dikorbankan). Misalnya, di Meksiko terdapat suku Aztec yang memuja matahari. Untuk memohon perlindungan kepada Dewa Matahari, mereka melakukan ritual kurban yang mempersembahkan jantung dan darah manusia. Di Tenochtitlan yang berada di jantung ibukota Aztec, terdapat juga upacara persembahan (ritual Aztek), yakni upacara meminta hujan kepada dewa hujan dan petir yang bernama Tlaloc. Ritual ini mengorbankan anak-anak sebagai tumbal untuk dipersembahkan kepada dewa Tlaloc yang haus darah anak-anak.

Pada masyarakat Viking di Eropa Timur, persembahan dilakukan dengan menyumbangkan tokoh agama. Korban dilakukan kepada dewa perang yang bernama Odion agar mendapat kemenangan dalam mempertahankan negeri. Masyarakat Mesir kuno, juga mengurbanan gadis cantik yang dibuang ke sungai Nil sebagai persembahan terhadap Dewi Nil agar tidak murka. Karena kalau sang dewi murka akan dapat menyebabkan banjir dan bencana alam lainnya. Demikian pula di masa Jahiliyah Arab, terdapat Dewa Hubal, Latta, Manat, bahkan Dewi Uzza yang paling dikenal sebagai haus darah.

Bentuk kurban manusia, kemudian mengalami transformasi ketika masuk ajaran agama. Kehadiran agama tidak menghilangkan tradisi dan semangat berkurban, tetapi mengubah format ritual dan benda yang dikorbankan, dari manusia menjadi hewan, makanan atau buah-buahan, serta hasil-hasil pertanian.

Untuk menjaga semangat berkurban dan meningkatkan kesadaran manusia agar berani berkurban, muncul beberapa narasi agama yang menjelaskan keutamaan manusia yang mau berkurban. Hal ini bisa dilihat dalam beberapa naskah dan kitab suci agama. Misalanya, dalam naskah “Sotasoma” karya Empu Tantular. Dikisahkan dalam perjalanan hidupnya, Guru Sotasoma melihat seekor harimau betina yang hendak memangsa anaknya karena kelaparan. Kemudan, ia menyerahkan dirinya untuk dimakan harimau sebagai pengganti anaknya yang akan dimakan. Tetapi, setelah harimau itu menerkam dan memangsa Sotasoma, akhirnya ia menyesal sejadi-jadinya. Tak lama kemudian, datanglah Bathara Indra yang berusaha menghidupkan kembali Sotasoma, sampai akhirnya harimau itu tunduk menjadi murid dan pengikut setia Sotasoma.

Narasi Islam

Dalam ajaran Islam, tercantum riwayat kurban di dalam Al-Quran, khususnya ketika doa anak Nabi Adam saling berselisih (surat al-Maidah: 27-28). Dikisahkan bahwa Qabil merasa cemburu dan irihati kepada adiknya Habil, yang bersedia mempersembahkan kurban dengan keimanan dan ketakwaan, sementara kakaknya, Qabil telah ditolak oleh Tuhan. Beberapa abad kemudian, ritual kurban kembali diperintahkan Allah melalui Nabi Ibrahim. Perintah kurban kali ini menuntut sesuatu yang paling dicintai untuk dikorbankan, yaitu putera yang sangat dicintainya. Kehendak Nabi Ibrahim sebagai ikhtiar manusia, dihadapkan dengan ketentuan dan takdir Tuhan, kini mengalami pergeseran nilai, bahwa manusia dapat berperan secara berdaulat untuk menentukan nasib hidupnya, bahkan “memaksa” Tuhan agar mengubah takdir dan ketentuan-Nya.

Lalu, apa yang terjadi kemudian? Allah nampaknya membenarkan apa-apa yang menjadi gugatan Nabi Ibrahim yang dipikirkan secara rasional, sampai kemudian anak yang dicintainya dihilangkan dengan seekor domba gemuk. Di sini, dapat terlihat adanya transformasi ritual kurban, sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Semakin sempurna suatu sistem keyakinan dan semakin beradab pada suatu masyarakat, maka pelaksanaan ritual kurban akan semakin beradab dan manusiawi.

Oleh karena itu, pengertian “kurban” semakin dimaknai dengan solidaritas kemanusiaan, dengan mengupayakan mengorbankan harta-benda yang kita miliki, namun demi kepentingan orang banyak. Untuk itu, sikap egoisme untuk kepentingan pribadi maupun kelompok, ormas, partai, harus dikorbankan demi kepentingan yang lebih luas dan lebih luhur, yakni kepentingan bangsa, NKRI, dan kepentingan semua manusia tanpa batas. ***

Penulis adalah Pengasuh ponpes Nurul Falah (Tebuireng 09), Rangkasbitung, Lebak, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.