Renungan Malam Seribu Bulan

oleh -1342 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Eeng Nurhaeni

Kita diperintahkan untuk berbaik sangka kepada Tuhan, sepahit apapun derita hidup yang sedang kita alami. Karena kesempitan hidup tidak selamanya, begitu juga kelapangan hidup tidak selamanya kita jalani. Kita diperintahkan agar konsisten, istiqomah, jangan putus asa dari rahmat dan kasih sayang Tuhan, meskipun tengah dirundung gelimang cobaan dan ujian berat.

Apalagi tiga hari sebelum wafatnya, Rasulullah masih sempat memberi tausiyah kepada para sahabat. Menurut bukti Jabir bin Abdillah, ketika itu Nabi berpesan, “Janganlah di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.” (HR Muslim dan Ahmad).

Jika kita renungkan dengan seksama, sebenarnya tidak ada takdir Allah yang sia-sia tanpa hikmah dan rahasia indah. Nalar dan imajinasi kita belum cukup untuk menduga secara tepat apa yang akan terjadi dan menimpa hidup kita. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk terus berdoa, meminta, memasrahkan urusan hidup dengan cara meningkatkan pengabdian kita kepada Tuhan.

Selalu ada waktu kita memperoleh kenikmatan sebagaimana adanya waktu kita mendapatkan musikbah. Satu hal yang harus kita yakini, sebagaimana Allah berkuasa memberikan kejutan berupa musikbah, sungguh Allah juga berkuasa memberikan kejutan kenikmatan hidup dalam waktu sekejap.

Dia Yang menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup, sudah pasti sangat bertenaga untuk membahagiakan hati yang sedang pilu. Sangat mudah bagi-Nya untuk menyelesaikan urusan hidup yang tak kunjung usai.

Ada ungkapan yang sangat religius, bahwa sesuatu yang terbaik menurut kita, belum tentu yang terbaik menurut Allah. Dapat juga diartikan, bahwa sesuatu yang benar menurut kita belum tentu benar menurut Allah. Kita sering mendengar petuah sakti dari para ulama maupun pendeta, ketika dimintai nasehat oleh muridnya, yakni “hendaknya kita bersabar dalam menghadapi cobaan dan ujian ini”.

Sabar adalah kata yang ringan diucapkan tetapi kepentingannya sungguh luar biasa. Hingga Tuhan sendiri menekankan bahwa sabar adalah kata kunci terbaik. Seringkali orang mengeluhkan sesuatu bahwa dia sudah berusaha seoptimal mungkin, sudah rajin beribadah dan berdoa, tapi kenapa nasibku seperti ini? Apa kesalahan saya, Pak Kiai?

Pertanyaan “apa kesalahan saya” mengindikasikan bahwa manusia mempunyai sifat-sifat “sok tahu” atau merasa dirinya tahu segalanya. Merasa dirinya bersih dan suci, lalu Tuhan disalah-salahkan, karena Dia belum mengabulkan doa-doanya.

Justru gugatan seperti itu muncul karena orang itu belum mahir mengidentifikasi masalah dalam dirinya. Padahal, Rasulullah menyarankan betapa sibuknya kita untuk membaca diri, bermuhasabah, karena hidup manusia sarat dengan berbagai kekurangan dan kekhilafan yang dilakukannya.

Tak bisa dipungkiri bahwa hidup manusia sangat dilumuri dosa dan kesalahan. Banyak hal yang membuat kita, disadari atau tidak, memiliki andil tersendiri dalam penyelenggaraan ketimpangan dan kerusakan tatanan kosmos yang diamanatkan Tuhan agar kita (selaku kahlifah) merawat dan melestarikannya.

Setiap hidup manusia pasti mengalami berbagai masalah, cobaan, kesempitan, diguncang beragam problema dan prahara. Yang membedakannya adalah, bagaimana orang itu bersabar ketika menghadapi masalah dalam hidupnya.

Ada orang yang mengambil sikap dengan tetap tersenyum, namun tidak sedikit yang melampiaskan dengan mengumbar amarah, bahkan memfitnah, memprovokasi, dan mencaci-maki orang lain.

Meski begitu, mereka kelihatannya mempunyai banyak amal, berlimpah harta kekayaannya, namun belum tentu kedamaian hati dan kedamaian. Ketahuilah, bahwa hal itu hanya melihat kasatmata manusia. Belum identik dalam penilaian dan pandangan di mata Allah Swt.

Kita tampak bersih dan terhormat, hakikatnya karena Allah masih menutupi aib dan kesalahan kita. Coba kalau kita menjauh dari-Nya, siapa yang mampu menjaga dokumen rahasia amal-amal kita, siapa yang mampu menyimpan rekam jejak jejak manusia, jika Tuhan menghendaki jejak kaki itu segera terbuka secara transparan.

Jika Tuhan berkehendak salah satu aib dan kesalahan kita viral ke tengah masyarakat, siapa yang berkuasa untuk menutupinya. Dan jika pun kita mendapat anugerah kehormatan dan kemuliaan, siapa pula yang mampu menahan dan menjegalnya.

“Beruntunglah orang yang mahir mengembangkan dirinya, daripada sibuk mengorek-ngorek kesalahan orang lain.” Hadits Nabi ini sangat filosofis dan sangat dalam maknanya. Oleh karena itu, jika kita ingin mengklasifikasikan manusia bertakwa, salah satu syaratnya, kita harus pandai mengidentifikasi diri.

Bukan sibuk mengkalkulasi aib dan kesalahan orang, lalu merasa berhak untuk mengklaim bahwa dirinya lebih tinggi derajatnya dibandingkan orang lain.

Di malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan ini, mari kita bersimpuh dan memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan, hingga kita tergolong sebagai hamba-hamba yang meraih derajat ketakwaan di sisi-Nya: “Tuhanku, sungguh Engkau Maha Pemaaf, dan mencintai hamba-hamba-Mu yang pemaaf, untuk itu maafkanlah aku….” (*)

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.