Reinterpretasi Makna Pendidikan di Dalam Pakaian Adat Kulit Kayu Suku Kabola-Kabupaten Alor

oleh -1683 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Bryan L Tang

Tujuan pendidikan saat ini kembali dipertanyaakan ketika moralitas tidak dianggap lagi sebagai pedoman hidup di dalam masyarakat. Di tengah dominasi teknologi saat ini nilai-nilai moral dikaburkan oleh karena informasi di dalam gadget. Metode pendidikan pun berubah, perubahan ini disesuaikan dengan roh zaman saat ini, seperti proklamasi dialektika hegel. Maka untuk itu dibutuhkan suatu pendekatan baru dalam pendidikan saat ini, dimana meskipun caranya berubah tapi substansi dari pendidikan itu tetap dipertahankan. Maka dengan membaca makna pakaian adat suku kabola-kabupaten Alor, penulis mencoba mencari apa substansi dari pendidikan itu.

Krisis Ekologis Sebagai Representasi Kegagalan Pendidikan

Ditengah kemajuan pengetahuan dan teknologi, alam dianggap sebagai objek pemuas kebutuhan manusia sebagai makhluk yang berpikir seperti proklamasi De Cartes dalam cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Dampak dari perubahan ini menghasilkan budaya baru yaitu antroposentrisme, manusia menjadi pusat segalanya, yang merusak tatanan kosmis. Eksistensi manusia saat ini perlahan-lahan mengabaikan entitas lain yang sebenarnya menunjang kehidupannya, tanpa tumbuhan manusia mati, tanpa bumi ini manusia akan mati. Eksistensi manusia bergantung pada entitas lain di dalam tatanan kosmis.

Pendidikan yang semulanya berawal dari kebudayaan perlahan-lahan diabaikan dan dinomorduakan oleh karena adanya pendidikan formal saat ini oleh karena tuntutan zaman dimana pragmatisme menjadi landasan dari sebuah pendidikan. Dunia saat ini lebih mementingkan gelar akademisi dan mengabaikan karakter dari diri seseorang, mau jadi apa setelah sarjana nanti, ijasah menjadi tanda tanpa makna yang dihidupi dalam hidup. Fenomena ini tampak dari jejak pengangguran yang makin tinggi dan kesadaran akan lingkungan hidup yang sangat rendah. Pendidikan yang awalnya ditujukan kepada kebijaksanaan dalam hidup yang bersifat internal tergantikan oleh tugas-tugas formal yang bersifat eksternal. Maka tidak heran krisis lingkungan hidup menjadi wajah yang kelihatan dari krisis spiritualitas dari diri manusia saat ini, menjadi wajah dari kegagalan pendidikan saat ini yang kehilangan maknanya dan menjadi krisis kemanusiaan dalam diri manusia.

Tuntutan dunia saat ini menjadikan manusia sperti robot yang sudah diprogramkan untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu dan mengabaikan substansi dari pendidikan itu yakni untuk mencari kebijaksanaan hidup bukan untuk mencari uang ataupun kebutuhan material lainnya. Maka dari itu Paus Fransiskus menyerukan seruan pertobatan ekologis dengan menempatkan St. Fransiskus sebagai model pribadi yang ekologis. Pribadi Fransiskus menjadi representan dari makna pendidikan yang sesungguhnya, dimana alam tidak dilihat sebagai obejk melainkan subjek yang sama seperti manusia sehingga alam di sapa sebagai saudara/i. Pendidikan harus memberi makna bagi kehidupan manusia dimana relasinya dengan Pencipta, alam, sesama dan dirinya sendiri terjalin secara harmonis. Integralitas dari pendidikan adalah tujuan dari pendidikan.

Reinterpretasi Makna Pakaian Adat Kulit Kayu Suku Kabola-Kabupaten Alor

Alor dikenal karena keberagaman identitas formalnya dalam suatu agama, dan juga keberagaman budayanya. Meskipun begitu hubungan geneologi menjadi tali yang mengikat mereka menjadi satu masyarakat. Geneologi menjadi landasan dalam kehidupan mereka sehingga tidak heran dalam satu keluarga terdapat beragam agama yang dipeluk oleh tiap anggota keluarga. Di tengah kemajuan saat ini tidak heran orang mulai mengkhawatirkan keberadaan kebudayaan termasuk peninggaln-peninggalan kebudayaan berupa material maupun spirit di dalamnya. Jika ditelaah terdapat makna yang amat mendalam dari pakaian adat kulit kayu di dalam suku kabola kabupaten Alor.

Pakaiaan adat ini menjadi hal yang menarik, jika ditelaah secara psikologis, pakaiaan itu menutup kemaluaan seseorang yang menjadi representasi dari seluruh dirinya sebagai bentuk awal dari kesadaran akan martabatnya sebagai seorang manusia. Dalam tatanan ekologis, alam yaitu kulit kayu yang digunakan oleh manusia menjadi sahabat yang selalu menolong manusia dan menjadi bagian integral dari diri manusia. Eksistensi alam membantu manusia menemukan esensinya sebagai makhluk yang luhur. Hal ini sesuai dengan ajaran Santu Agustinus tentang privatio boni dan emanasi, segala sesuatu diciptakan baik, sehingga alam pun menjadi entitas lain yang menghantarkan manusia kepada terang yaitu Pencipta.

Pakaiaan adat kulit kayu yang menjadi tanda awal kesadaran manusia akan martabatnya secara tidak langsung adalah teks dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan itu harus melahirkan kesadaran akan martabat manusia tanpa mengabaikan entitas lain sebab semuanya memiliki nilai di dalam dirinya sendiri. Alam adalah subjek lain yang di dalam dirinya sendiri manusia tidak dapat memahaminya secara tuntas (nomena) sebab yang ditangkap adalah apa yang ditampakan (fenomena). Pendidikan saat ini yang bersifat pragmatis dan teknokratis harus dimaknai dengan berbasiskan moralitas yang dapat digali dari kebudayaan setempat.

Pendidikan akan menemukan maknanya ketika diarahkan kepada keharmonisan antara manusia dengan Pencipta, dengan alam dan dengan sesama, maka secara jelas pendidikan yang menghantar kepada antroposentrisme harus dihindari. Manusia pada hakikatnya tidak dapat hidup tanpa kehadiran entitas lain sehingga pakaiaan adat kulit kayu suku Kabola Kabupaten Alor dapat menjadi teks yang menggambarkan tujuan dari pendidikan manusia. Mengakihiri ini penulis mengutip ungkapan di depan kuil Delphi di Yunani: “kenalilah dirimu sendiri, dan jangan berlebihan!”.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.