Perjalanan Penuh Tekad melalui Zuhud

oleh -2763 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Risalatul Hawasiyah

Langkah demi langkah disetiap satu tingkat dalam perjalanan merupakan proses yang pastinya melewati berbagai tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai suatu tujuan dalam proses tidak jauk dan kala gagal uralia dan pengorbanana dalam perjalanan yang tidak mudah namun setiap perjalanan harus dijadikan pelajaran untuk menjadi tangguh, tekun dan terus tetap melangkah menuju ridho Allah, Swt. Dengan perjalanan yang pasti  melewati satu demi satu langkah keberhasilan akan semakin dekat, karena beberhasilan tidak akan dicapai melainkan dengan usaha, doa dan tekad yang kuat.

Zuhud artinya menjauhi, menghindari, meninggalkan atau tidak menyukai, lebih tepatnya meninggalkan kecondongan terhadap kecintaan pada dunia dengan melepaskan hati dari pengaruh dunia, Maksudnya tidak kikir terhadap peminta dan tidak tersibukkan oleh kegiatan-kegiatan duniawi sehingga lupa pada Allah Swt. Namun zuhud juga bukan berarti harus mengosongkan tangan dari memiliki harta, akan tetapi tidak cinta dan hanya condong terhadap harta.  Pola hidup yang menjaga diri dari pengaruh harta atau masalah keduniawian (materi), atau tidak terlalu menyibukkan diri terhadap hal-hal yang bersifat materi, melainkan lebih memfokuskan pada kehidupan akhirat. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW: Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda :  “حب الدنيا راءس كل خَطِيئَة”     

Artinya : “Cinta pada dunia adalah sumber dari segala kesalahan.”(Abdullah bin Alwi, 1993: 40).

Secara dzohir, orang yang berlebihan mencintai dunia akan menghalalkan segala cara yang bertentangan dengan aturan agama. Sedangkan secara batin, akan mengakibatkan hati sesorang menjadi kotor sehingga jauh dari pandangan Allah.

Zuhud sebagai keadaan terlepas dari keinginan dan kesenangan duniawi, dan fokus mengejar akhirat untuk mencapai kedekatan dengan Allah dengan dasar konsep zuhud yang berakar pada Al-Quran dan Hadits, dan diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Zuhud diklasifikasikan ke dalam beberapa tingkatan, mulai dari tahap awal mengendalikan hawa nafsu hingga tingkatan tertinggi yang sama sekali mengabaikan urusan duniawi, dengan salah satu cirinya zahid (pertapa) antara lain tidak peduli terhadap pujian atau kritik, hanya fokus pada ibadah dan mengingat Allah, dan menganggap kehidupan dunia tidak berarti dibandingkan dengan akhirat.

Tingkatan pertama adalah tahap pra zuhud. Pada tahap ini seseorang hatinya masih cenderung kepada kelezatan dunia kemudian berusaha memerangi dan menghentikan segala hawa nafsunya terhadap semua keinginan terhadap dunia. Dan ini merupakan pangkal awal memasuki kezuhudan untuk menapak kepada derajat zuhud selanjutnya. Seseorang harus melatih dan memposisikan dirinya dalam ketaatan, dan melakukan berbagai macam riyadhoh (latihan-latihan) dan bersabar terhadap semua godaaan dan bisikan hati untuk tertarik pada dunia. Pada tahap ini seseorang harus mermbiasakan dirinya untuk memandang rendah dan hina terhadap semua kenikmatan dan kelezatan dunia (Abdullah Al Haddad, tth: 165).

Tingkatan kedua, yaitu seseorang yang sudah berada pada tingkatan zuhud dimana hatinya tidak tertarik lagi kepada kelezatan dunia, tetapi hatinya masih merasa takjub dengan kezuhudannya. Tidak tertarik kepada dunia karena ingin mendapat kelezatan dan kenikmatan yang lebih besar di akhirat. Berzuhud yang seperti ini menurut kaum sufi bukan merupakan tujuan zuhud yang sesungguhnya, dan dianggap masih memiliki kekurangan (Yahya ibn Hamzah, 1991 :442).

Tingkatan ketiga, yaitu berzuhud dengan sukarela dan zuhud dalam kezuhudannya. Ia bahkan sama sekali tidak memandang kezuhudannya. Karena di dalam dirinya tidak melihat bahwa ia telah meninggalkan sesuatu yang berharga, sebab ia tahu bahwa dunia bukanlah sesuatu yang berharga. Ia seperti orang yang meninggalkan tembikar untuk mengambil permata atau mutiara (Ahmad Farid, 1997: 66-77). Ia tidak memandang itu sebagai hasil kompensasi, tidak pula memandang bahwa dirinya telah meninggalkan sesuatu yang berharga.

Sungguh, bila disandingkan dengan Allah SWT dan kenikmatan akhirat, dunia lebih tidak berharga dan lebih buruk daripada tembikar disandingkan dengan mutiara dan permata. Inilah yang sempurna dalam kezuhudan. Inilah puncak zuhud yang hakiki. Dan zahid yang seperti ini aman dari bahaya keberpalingan pada dunia (Yahya ibn Hamzah, 1990: 442-443). Hatinya tertuju penuh dan hanya fokus kepada Allah.

Penulis adalah Mahasiswa aktif Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Ibrohimy Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.