Perihal Zuhud yang Diteladani Gus Dur

oleh -2830 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Irawaty Nusa

Dalam buku “Marwah Pesantren” (Ahmad Rafiuddin 2024), disampaikan secara lugas, bahwa terminologi takwa tak bisa menjadi monopoli bangsa dan agama tertentu, karena Tuhan menjanjikan bahwa ukuran kemenangan hamba-hamba-Nya dalam menjalani “perlombaan” kehidupan ini, adalah mereka yang paling bagus kualitas ketakwaannya.

Hidup bertakwa terkait erat dengan syarat-syarat yang memenuhinya, di antaranya sabar, syukur dan dengan itu seseorang memiliki gaya hidup yang zuhud (sederhana).

Tipologi seorang yang zuhud, ia telah selesai dengan dirinya, tidak lagi memerlukan kemegahan dan kemewahan duniawi, karena ia sangat memahami kefanaan dan kesementaraannya. Suatu kali, Gus Dur pernah berceramah, bahwa Tuhan Maha Adil untuk membagi-bagi keperluan hidup sesuai dengan kebutuhan manusia, di manapun dan kapan pun. Bahkan, di dalam Al-Quran dinyatakan, setiap binatang melata di kedalaman bumi sekalipun sudah diatur rizkinya oleh Allah Swt.

Konsep kesederhanaan itu diterapkan dalam kehidupan santri di lingkungan pesantren. Bahkan, di pesantren sains (Trensains) yang didirikan Sholahuddin Wahid juga diterapkan konsep kesederhanaan sebagaimana motto hidup di pesantren-pesantren modern, seperti Gontor, Gintung hingga Nurul Falah (Rangkasbitung) yang dipimpin oleh K.H. Ahmad Rafiuddin.

Pada umumnya, pesantren modern juga menerapkan konsep kedisiplinan dari lembaga pendidikan Aligarh, bahkan tidak ragu-ragu mengadopsi sistem kehidupan santri yang sederhana dari lembaga pendidikan Hindu Santiniketan di India. Dalam prinsip kesederhanaan yang diajarkan Gus Dur bapak pluralis kita, bahwa seorang hamba perlu memahami dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tuhan Maha Tahu keinginan dan kebutuhan kita, bahkan lebih tahu dari diri kita sendiri. Maka, terminologi syukur nampaknya berbeda dengan inginnya kita, karena ingin itu belum tentu diberi, tetapi jika manusia bersyukur, Tuhan sudah menjamin, akan menambah terus kenikmatan hidup kita.

Kalau kita sudah membulatkan keyakinan, bahwa tiada kekuasaan lain selain kekuasaan Allah Yang Maha Kaya, Maha Bijaksana dan Maha Memberi, lalu memperbanyak syukur kepada-Nya, maka berterimakasihlah kepada orang-orang yang memberi jalan kemudahan hidup, terutama guru, orang tua, saudara-kerabat, sahabat dan lain-lain. Untuk itu, kiranya tepat jika dianalogikan, bahwa mensyukuri yang besar itu identik dengan mensyukuri yang kecil, sebagaimana mensyukuri Tuhan identik dengan mensyukuri manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Dari sisi keilmuan, seringkali kita menemukan seseorang yang bersikeras mempertahankan ego dan keangkuhan intelektual. Padahal, siapakah diri kita ini, kalau tidak diberi setetes ilmu oleh Tuhan? Keangkuhan intelektual kadang juga menghinggapi sebagian kiai, pendeta maupun “ahli kitab”, bahwa dirinya sudah menguasai segalanya. Tetapi, siapakah diri kita ini jika Tuhan tidak memberi setetes ilmu-Nya kepada kita? Siapakah diri kita ini, jika Tuhan tidak memberi sedikit nikmat kemuliaan dalam hidup kita?

Terkait dengan itu, Kiai Rafiuddin menegaskan dalam buku Marwah Pesantren: “Mudah saja bagi Tuhan membikin hamba-Nya lupa atau pikun (Alzheimer), writer’s block, hingga kebingungan memilih kata-kata yang berseliweran di otak untuk dituangkan ke dalam karya tulis. Atau bahkan, kata-kata itu mampet, kaku dan baku, atau bahkan hilang melayang entah ke mana. Bukankah mudah bagi Tuhan untuk membolak-balik hati kita, bahkan untuk mencabut kepopuleran seseorang hanya karena mengucapkan satu patah kata, “goblok!”.

Ilmu pengetahuan yang diperoleh (melalui wasilah guru), pada hakikatnya adalah petunjuk dari Tuhan. Sedangkan ilmu sebanyak apapun, bila tanpa disertai hidayah, hal tersebut hanya akan merusak kedekatan kita dengan Allah. Bukankah kita pernah mendengar ilmu yang bermuara pada “juggernaut”, perihal penemuan teknologi super canggih, tetapi dalam perjalanan waktu, teknologi hebat itu justru menjerumuskan penciptanya, dan meluluh-lantakkan peradaban manusia.

Hanya Tuhan yang berwenang memberi kekuasaan, dan Tuhan pula yang berhak mencabutnya kembali. Oleh karena itu, tegas Kiai Rafiuddin, “Hakikat ilmu yang merupakan pemberian (anugerah) Tuhan, harus selalu disyukuri. Dan, sekecil apapun pemberian, hanya akan terasa kenikmatannya bila disertai rasa syukur. Sebaliknya, sebanyak dan sebesar apapun pemberian Tuhan, sama sekali tak terasa kenikmatannya jika tidak disyukuri.”

Dalam konsep zuhud yang sering dikumandangkan Gus Dur, bahwa rizki itu tidak dentik dengan perkara uang, kekuasaan dan popularitas. Tetapi, uang dan popularitas hanyalah salah satu sarana ketimbang anugerah yang tak tampak, seperti sehat walafiat, keluarga bahagia, kenaikan derajat, tertutupnya aib, kemuliaan hidup, tercapainya keinginan dan harapan, dan lain-lain.

Jadi, jika hidup kita mementingkan kesenangan yang fana, seberapa lama makanan lezat itu melewati lidah dan kerongkongan kita? Seberapa lama kenikmatan hubungan cinta bisa memenuhi hasrat biologis manusia? Atau, jikapun kita bersikeras mempertahankan keangkuhan, popularitas dan kekayaan duniawi, seberapa lama kita bisa bertahan hidup di dunia ini? Bukankah hidup manusia itu dibatasi oleh kekhilafan, lupa, sakit, bahkan tak kuasa membendung datangnya ajal kematian?

Untuk itu, di awal tahun baru 2025 ini, selayaknya kita bermuhasabah, introspeksi dan bercermin diri. Apakah kita akan tergolong hamba-hamba Tuhan yang konsisten menjaga kualitas keimanan kita, ataukah hanya akan menjadi buih-buih yang mudah terhempas oleh pasang surutnya ombak di lautan? (*)

Penulis adalah peneliti dan pengamat pendidikan di lingkungan pesantren

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.