Oleh: Eeng Nurhaeni
Sedang duduk-duduk santai bersama para sahabat Nabi, tiba-tiba muncul pertanyaan sederhana yang diajukan Rasulullah kepada para sahabat, “Kalian tahun enggak, siapa orang yang paling bangkrut (muflis) di hari kiamat nanti?”
Selama ini, sebagian besar sahabat mengidentikkan kata “bangkrut” dengan problem keuangan. Siapa yang kantongnya kempes, serta dagangannya tak laku di pasaran, itulah yang disebut bangkrut (muflis). Namun, pertanyaan yang diajukan Rasul tentu bernuansa religius, tidak semata-mata urusan duniawi semata. Kadang muncul juga pertanyaan yang disampaikan secara rileks, hingga tak urung para sahabat menjawabnya, “Orang bangkrut itu ya… mereka yang enggak punya duit sama sekali.”
“Bukan itu maksud saya,” sanggah Rasulullah.
Para sahabat menyadari, bahwa pertanyaan itu cenderung bermakna kias dan metaforis, bukan semata-mata harfiah belaka. Sebagian mereka menggeser duduknya, lalu bersiap-siap mendengar jawaban Rasulullah: “Seorang yang muflis sejati, atau yang benar-benar bangkrut dari umat-umatku, justru mereka yang rajin ibadahnya, melakukan salat, membayar zakat dan sedekah, puasa dan haji, seakan-akan sibuk mengejar pahala akhirat. Tetapi, ketika di hari kiamat nanti, saat ia merasa bangga dengan amal-amalnya, tahu-tahu muncul orang-orang yang pernah dia sakiti di masa lalu, direndahkan, bahkan dicaci-maki selama hidup di dunia ini. Kemudian, muncul lagi orang yang pernah dituduh bersalah lantaran hartanya ingin dikuasai, lalu muncul lagi orang yang pernah disakiti bahkan dibunuh (melalui tangan sendiri maupun lewat perantaraan orang lain). Setelah itu, pahala kebaikan si ahli ibadah itu, dibagi-bagikan untuk amal orang-orang yang pernah diperlakukan sewenang-wenang selama hidup di dunia. Sehingga, amal-amal ibadahnya menjadi habis dan ludes sama sekali.”
Para sahabat tertegun, masih serius memerhatikan wejangan dan petuah Rasulullah, dan lanjut beliau: “Setelah amal kebaikannya habis, lalu diambil pula dosa-dosa dan kesalahan orang-orang yang pernah dia sakiti, lalu ditimpakan menjadi tanggungan si ahli ibadah yang angkuh itu, sampai kemudian dia dihempaskan dan dicampakkan ke tungku api neraka.”
Yang membuat sebagian sahabat terheran-heran, justru ketika dosa-dosa orang yang disakiti itu dilimpahkan kepada ahli ibadah yang merasa suci itu. Di akhirat nanti, barangkali si Muflis itu akan memprotes keadilan Tuhan. Kalau saja pahala kebaikannya dilimpahkan kepada orang yang disakiti hingga dia bangkrut, itu masih bisa dipahami. Tetapi, kenapa juga dosa-dosa yang disakiti ditimpakan menjadi tanggungan yang menyakiti?
Tapi, apapun alasannya, pernyataan Rasulullah tetap valid dalam konteks ruang dan zaman. Begini masalahnya. Jika di suatu kampung di Indonesia, ada orang miskin dan melarat karena dituduh Fulan sebagai “PKI” atau “kafir”, lalu konsekuensinya dia dan anak-cucunya akan tersisih dari pergaulan, tak sempat berpendidikan atau mengenal agama dengan baik. Lalu, karena kebodohannya dia banyak melakukan dosa dan kesalahan. Itu artinya, terdapat siklus mata rantai, pada saat orang tersisih di tengah pergaulan masyarakat, tak terpelajar, bodoh, dan akibatnya dia banyak melakukan dosa dan maksiat.
Jadi, dosa dan kesalahan orang bodoh itu, pada awalnya disebabkan ulah si Fulan yang memfitnah dan mem-bully tadi. Entah motifnya karena ingin menguasai warisan, persaingan ekonomi, ataupun kedudukan jabatan dan politik kekuasaan.
Perbincangan Rasulullah dan para sahabat yang agak panjang di atas, telah diriwayatkan secara sahih (qawiy) oleh Imam Muslim dalam kumpulan hadis-hadis Nabi (nomor 2581). Untuk itu, berhati-hatilah bagi para pemimpin, apapun profesi Anda, baik di tingkat pusat maupun daerah, hingga pada tingkatan pemimpin rumah tangga. Sebab, adakalanya seseorang yang merasa dirinya berhasil dan sukses, lalu seenaknya merendahkan dan mendiskreditkan keluarga dan saudaranya sendiri. Bahkan, tega berprilaku buruk terhadap tetangganya dengan jalan pamer harta dan kekayaan, riya, merasa diri unggul dan kesombongan.
Hadis tersebut sangat selaras dengan kisah Barsisha, yakni seorang pemuka agama yang rajin dan tekun beribadah, bahkan merasa bangga lantaran banyak murid dan santrinya. Namun, dapat dipastikan, pemimpin yang mati secara “su’ul khatimah” itu telah mengalami kebangkrutan oleh ulah perbuatan, ego, dan keangkuhan dirinya sendiri.
Karenanya, akan sulit menyangkal kebenaran, ketika berduyun-duyun secara bergantian, orang-orang yang pernah difitnah dan dibicarakan keburukannya (ghibah) selama hidup di dunia. Kemudian, dosa-dosa mereka dilimpahkan kepada sang ahli ibadah yang pandai berghibah dan memfitnah tersebut.
Nasib penderita bangkrut (muflis) dalam pengertian Rasulullah mengandung makna filosofis, karena tidak semata-mata bernuansa fisikal dan material belaka. Tetapi, menyangkut kebangkrutan rohani dan spiritual yang banyak dialami bangsa kita dan masyarakat dunia, yang tak mau menyelaraskan diri dengan vibrasi positif dan hukum-hukum semesta (sunnatullah).
Di era milenial ini, kita menyaksikan betapa banyak orang merasa sukses, setelah berhasil menipu, dan mengkhianati orang lain, baik secara kias maupun harfiah. Betapa banyak orang belajar agama dan mistisisme, namun justru dimanfaatkan untuk memperalat dan mengelabui orang lain (secara spiritual). Tidak jarang yang merasa dirinya orang suci dan Waliullah, padahal sejatinya sikap menipu melalui jalur mistik itu tak ubahnya seorang atheis yang tak percaya penglihatan dan pemantauan Allah, bahwa hakikatnya Dia Maha Dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher.
Adakalanya mereka membanggakan kata “kasyaf” atau “mukasyafah”, namun ketika tidak selaras dengan sikap jujur kepada diri sendiri, hal tersebut sangat identik dengan membohongi dan membelakangi Tuhan itu sendiri. Dan dengan demikian, dia telah berperan selaku “Wali Syaithan” dan bukan sesuai dugaan dan prasangkanya sebagai “Wali Allah”.
Seperti itulah yang dialami oleh Barsisha yang merasa dapat memperalat dan memanipulasi Tuhan, bahwa dia secara sengaja dan terus-menerus mengumbar dosa dan kesombongan, lalu berjanji pada dirinya, bahwa kelak sebelum ajal menjemputnya, ia akan bertobat dengan sebenar-benarnya tobat.
Itulah orang yang gemar memaksa dan mengatur-ngatur Tuhan, hingga merasa yakin dengan banyaknya ibadah lantas akan dijamin masuk surga. Namun ternyata, hanya Allah Yang Maha Berkehendak, dan hanya rencana Allah yang pada akhirnya pasti berlaku. Seberapa hebat pun manusia punya agenda dan rencana yang canggih. (*)
Penulis adalah Pengasuh Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten, menulis esai dan opini di berbagai media nasional, di antaranya Kompas, Republika, Media Indonesia, NU Online, Bangka Pos, tokoh.id, majalahelipsis, alif.id, ruangsastra.com, dan lain-lain







