Peradaban Generasi Muda yang Retak: Habitus Tongkat Estafet Literasi di Flores Timur

oleh -376 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Fr. Yoseph Karol Wawo Kelen, SVD.

Paradigma Generasi Muda di Flores Timur sekarang adalah mencari sensasi dari paradigma kekinian yang menyesatkan. Mereka dibentuk dari kenikmatan zaman ini. Mereka tidak mampu mengendalikan kenikmatan yang sedang mengarahkan mereka pada nihilitas, sesuatu yang hanya dibuat saja tanpa ada makna. Mereka menciptakan gaya hidup dan kenyataan yang tidak sesuai dengan standar norma yang ada dalam masyarakat. Kenyataan ini terbukti ketika mereka menghidupi gaya kenikmatan tanpa dasar moral dan etis yang kuat. Lantas dipertanyakan, ‘generasi ini maunya apa’? Apa kontribusi mereka bagi masyarakat? Pola pikir apa yang dapat digunakan bagi masyarakat? Apakah generasi ini berguna bagi masyarakat atau tidak?

Berdasakan realitas ini, tindakan mereka bukan lagi menjadi kondisi dan kenyataan yang membangun, melainkan merusak dan membongkar tatanan dan norma-norma adat yang sudah berlaku turun-temurun. Mereka melakukan kreativitas yang tidak bermoral. Mereka terlibat dalam pergaulan bebas dan tindakannya menjadi kebiasaan lumrah yang diterima oleh masyarakat dan lingkungan sosial. Masalah yang paling kelihatan adalah mengonsumsi minuman keras secara berlebihan, pencitraan atau gaya hidup kebarat-baratan sehingga lupa menjadi diri sendiri. Segala bentuk nasihat, wejangan, dan petuah disepelekan dan ditertawakan sehingga mereka berpihak skeptif atau menolak masukan itu. Kebiasaan buruk dipandang dan dinikmati secara normal. Inilah gaya hidup kekinian generasi muda di Flores Timur. Kenyataan ini menciptakan keadaan masyarakat yang mewajarkan kebiasaan anak muda.

Arne Tiselius, cendakia kebangsaan Swiss, berpendapat bahwa manusia hidup di dunia di mana perbedaan antara yang benar dan yang salah tampak semakin kabur. Perpaduan antara yang benar dan salah jika terus dipelihara akan mengakibatkan tumbuhnya akar kesalahpahaman yang beruntun. Hal yang baik ditinggalkan atau disepelekan sedangkan yang salah dibenarkan lalu menjadi doktrin bersama. Ini merupakan potensi yang kaku dan tetap seperti ‘itu-itu’ saja di Flores Timur. Orientasi untuk melihat Lewotanah Flores Timur mencapai bonum commune hanya ada dalam benak oknum tertentu atau sebagian kecil generasi muda yang mengharapkan perubahan eksistensial. Sedangkan sebagian besar lainya hanya berpikir tentang hari ini dan esok. Flores Timur akan tidak berkembang oleh karena sikap apatis mereka. Akhirnya pola pikir itu melahirkan habitus atau kebiasaan yang bergerak dalam ruang dan waktu yang stagnan. Maka dalam tulisan ini saya memberi penekanan pada pengaruh habitus terhadap efektivitas literasi di Flores Timur.

Konsep Seminarium Scholae; Habitus dalam Regulativitas

Untuk melompat lebih jauh, saya menawarkan konsep Seminarium Scholae bagi perkembangan literasi di Flores Timur. Seminarium Scholae dari bahasa latin. Seminarium: artinya tempat pembenihan, sedangkan Scholae berarti sekolah. Secara umum dapat diparafrasekan bahwa; Sekolah adalah tempat pembenihan, tempat penyemaian para pelajar (generasi muda) untuk menjadi output unggul dan subur. Konsep ini berkaitan erat dengan pembentukan dasar dalam diri seorang pelajar oleh kebijakan sekolah dan pemerintah yang bersifat imperatif.
Konsep ini menekankan kepatuhan terhadap regulasi universal bagi mereka, berdasar kebijakan tegas dari instansi pendidikan. Regulasi setiap sekolah ditaati dan dijalani berdasarkan tuntutan supremasi hukum yang tegas. Aturan mesti dilaksanakan entah dalam keadaan sadar atau prasadar. Konsep ini sedikit memaksa para pelajar untuk selalu taat atas aturan yang berlaku.

Menurut Aristoteles, mereka yang mengerti aturan dengan baik akan melakukan dengan baik dan tuntas. Pandangan ini dipertegas lagi oleh Alfred North Whitehead bahwa melalui proses pemberlakuan aturan, mereka mengalami penemuan makna dan membuahkan hasil dari makna dengan kualitas yang tinggi dan bermutu. Mereka dituntut untuk mengikuti aturan dan menemukan makna dari aturan yang dibuat.

Hal-hal yang membedakan konsep ini dari model literasi sekarang terdapat pada pemberlakuan aturan yang merata. Di Flores Timur, militansi untuk berliterasi hanya ada dan nampak pada sekolah-sekolah tertentu. Sedangkan, sekolah lainnya sangat arogansif melihat literasi sebagai kebutuhan intelektual yang paling pokok.

Oleh karena itu, pemerintah harus menekankan aturan yang bersifat eksplisit, sehingga aturan literasi dapat diwujudkan secara merata di semua sekolah. Literasi yang dimaksud menjadi kebijakan umum bagi setiap jenjang pendidikan. Bila ini diwujudkan berarti, pemerintah sedang merekonstruksi literasi tidak jelas sebelumnya. Nilai universal dan keadilan dalam regulasitivitas ini dapat membawa literasi ke dalam habitus baru yang berkualitas.

Kalau aturan dipertegas dalam proses Pendidikan karakter maka, otomatis terbentuk habitus yang dapat menertibkan para pelajar. Menurut Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, habitus adalah pola pikir, persepsi dan tindakan yang membentuk individu bertindak. Habitus yang dimaksud merupakan sitem disposisi yang tahan lama namun dapat berubah. Artinya habitus tidak statis, melainkan dapat beradaptasi seiring perubahan lingkungan. Meskipun ada keterlambatan perubahan karena habitus bersifat mengakar. Habitus tidak berjalan sendiri dalam proses pengembangan karakter. Habitus memerlukan aturan sebagai arah, sekaligus pembentuk fisik habitus dalam mencapai kesepahaman bersama. Aturan yang terus-menerus dibiasakan akan menciptakan habitus baru.

Dalam konsep Seminarium Scholae yang ditawarkan, habitus dan aturan adalah senjata untuk membunuh pola pikir struktural literasi di Flores Timur. Habitus baru dalam regulasitivitas yang maksimal akan membawa pola pikir literasi ideal. Perubahan sosial akibat transformasi pola pikir oleh habitus dan aturan, memberi pengaruh menyeluruh dan mengalir dimana-mana. Hal ini bersifat menyeluruh karena tuntutan aturan dan habitus yang terus-menerus menghujan. habitus yang mandarah-daging tersebut, tanpa disadari membentuk doktrin habitus yang menggenerasi. Niscaya, habitus baru akan menjadi nilai dan norma permanen dan terus berlangsung.

Actio praktis; keterlibatan birokrasi setelah habitus terbentuk, pemerintah terkhususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga Dinas Perpusatakaan dan Kearsipan Daerah Flores Timur mengalami proses tindakan inovatif yang diterapkan dalam habitus baru. Pemerintah terus melestarikan sistem literasi dalam sistem habitus yang sedang berlangsung. Pemerintah memiliki tanggungjaawab moral dalam melakukan social control secara rutin setelah aturan tersebut dilegalkan, agar tak terjadi ngestuck ditengah proses implementasi. Selanjutnya, Pemerintah menyediakan sarana dan prasarana, media, dan hal-hal lainnya sebagai pendukung literasi di sekolah maupun di lingkungan sosial. Penyediaan tersebut harus berkualitas dengan kadar kuantitas yang tinggi agar bertahan lebih lama dan bermutu bagi perkembangan literasi. Pemerintah membuka ruang pengaktualisasian para pelajar, seperti mengadakan perlombaan di setiap sekolah, mengakomodasi hal-hal berkaitan dengan literasi, dan segala inovasi lainnya untuk mendukung lompatan jauh literasi di Flores Timur.

Dari hasil-hasil aktualisasi para pelajar, pemerintah dengan bangga memberikan apresiasi kepada para pelajar dengan menerbitkan (publikasi) tulisan-tulisan, ide, dan bentuk-bentuk yang dihasilkan oleh mereka. Godfrey Harold Hardy, seorang matematikawan terkemuka, memiliki pandangan yang mendalam tentang apresiasi. Menurutnya, apresiasi adalah proses penilaian dan penghargaan terhadap sesuatu, baik itu karya seni maupun pekerjaan yang telah dilakukan oleh seseorang. Tindakan apresiasi dari pemerintah akan meningkatkan motivasi dan menciptakan harmoni dalam diri setiap para pelajar di Flores Timur. Rasa untuk mendapatkan apresiasi akan selalu menggelegar dalam diri para pelajar.

Sebagaimana dalam teori Abraham Maslow, seorang psikolog dan filsuf, manusia membutuhkan self-esteem dan esteem from others sebagai penguatan akan dirinya untuk terus berkembang dan mengaktualisasikan dirinya. Apresiasi bukan dimaknai sebagai popularitas diri melainkan sebagai motivasi untuk terus berinovasi dan berkreasi.

Bilamana habitus dan regulasi mengenai literasi telah kokoh. Pola pikir ideal yang didambakan akan terpelihara dengan baik. Generasi baru literasi Flores Timur akan terus berkelanjutan dan mengakar spiral bersama habitus baru. Bergerak pada titik awal mula, lalu berkembang membesar ke segala arah. Tingkatan lanjutan yang harus dibuat pemerintah adalah filterisasi stage.

Pemerintah kemudian menjaring para pelajar yang memiliki potensi unggul dan ‘kemampuan yang harus diasah’. Mereka diberikan pendampingan lebih lanjut untuk belajar dan mengemban pendidikan pada kualitas sekolah yang unggul. Setelah menyelesaikan pendidikan dan mendapat banyak keterampilan juga pengetahuan, mereka diwajibkan untuk mendedikasikan diri mereka di Lewotanah Flores Timur. Kebijakan ini membentuk keberlangsungan yang terus-menerus dan berpengaruh positif bagi pengkaderisasian pelajar Flores Timur yang intelektualis. Pola ini akan berkembang dalam setiap generasi.

Wajah Baru Literasi di Flores Timur

Steven Pressfield, seorang penulis asal Amerika, mengungkapkan bahwa perubahan mungkin tidak cepat dan tidak selalu mudah. Tapi dengan waktu dan usaha, hampir semua kebiasaan bisa dibentuk kembali. Perubahan pola pikir struktural perlahan dikendalikan oleh habitus dan akhirnya mengalami tranformasi ke arah pola pikir yang ideal. Perubahan tidak secara langsung dan serta-merta mengalami kegesitan, tetapi dalam langkah-langkah kecil untuk melompat lebih jauh dengan tongkat estafet habitus dalam regulasitivitas.

Para pelajar perlu menanamkan adigium substansial dari Mahatma Gandhi, tokoh penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Ia mengajarkan bahwa masa depan tergantung pada apa yang anda lakukan hari ini. cogito ergo sum oleh Rene Descartes, menekankankan subjektifitas bagi setiap individu. Artinya, dapat dipahami oleh para pelajar supaya tidak diperbudak dari segala bentuk kenikmatatan zaman; melainkan dengan berpikir bijak. Para pelajar dapat membunuh pola pikir yang non-etis dan menghidupi pola pikir kritis serta reflektif mendalam.

Selain itu, Strategi habitus dalam regulasitivitas dari konsep seminarium scolae yang sudah hadir dapat diterima dan dihayati secara sadar. Saya percaya, wajah literasi dalam paradigma humanisme baru di Flores Timur menjadi sangat produktif menuju masa depan yang cerah. ***

Penulis lahir di Lewoleba, 5 Juni 2007, dan dibesarkan oleh orang tua di Lewotanah Flores Timur tepatnya di Desa Lewoloba. Kegemarannya menulis tulisan sastra dan ilmiah, tumbuh sejak bersekolah di Seminari San Dominggo Hokeng. Salah satu naskah teaternya berjudul ‘’mu’re’’, penah dipentaskan pada acara Pameran Kebudayaan Flores Timur 2024 di Kantor Bupati Flores Timur. Pada usianya yang ke-18 ini, Ia sedang dalam proses penulisan buku kumpulan puisi pertamanya dengan judul “celana punya Tuhan”. Kini ia aktif dan menjadi Ketua Sastra Kotak Sampah SVD Nenuk, Atambua.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.