Paus Leo XIV Memulai Zaman Damai dengan Tangan Terbuka

oleh -1891 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ermelinda Noh Wea

Terpilihnya Paus Leo XIV sebagai pemimpin Gereja Katolik sedunia membuka babak baru bagi umat Katolik dan masyarakat dunia yang haus akan kepemimpinan moral. Ia melangkah ke Takhta Santo Petrus di tengah dunia yang dilanda krisis kepercayaan, konflik, dan kerinduan akan harapan yang otentik. Sambutan perdananya, yang singkat namun kuat, memberi isyarat: ia datang bukan sebagai penguasa, melainkan gembala yang ingin membangun jembatan antarumat, antarmanusia, dan antara manusia dengan Allah.

Dalam kalimat pertamanya, Paus Leo memilih salam sederhana namun penuh makna: Damai menyertai kalian semua! Salam yang pernah diucapkan Kristus setelah kebangkitan itu kini menjadi semacam program kerja awal bagi kepausannya. Damai yang ia maksud bukanlah sekadar ketiadaan konflik, tetapi damai aktif yang menanggalkan senjata, membongkar sekat, dan mengulurkan tangan.

Ia tidak menggunakan jargon teologis rumit, melainkan menyapa hati umat dengan kehangatan dan kedekatan. Bahkan dalam bahasa Spanyol, ia menyampaikan salam khusus bagi umat di Keuskupan Chiclayo, Peru keuskupan tempatnya pernah melayani. Ini bukan sekadar gestur nostalgia, tetapi penegasan bahwa kepemimpinan dimulai dari pengalaman hidup bersama umat.

Warisan dari Paus Fransiskus jelas masih bergaung. Paus Leo XIV menyebut suara lemah tapi berani dari Fransiskus sebagai kenangan yang patut dihormati. Namun, ia tidak hanya melanjutkan, ia juga membentuk arah baru. Sebagai anggota Ordo Santo Agustinus, spiritualitasnya bercorak kontemplatif namun juga profetis. Kutipan klasik Agustinus “Bersama kalian aku seorang Kristen, untuk kalian aku seorang uskup” menggarisbawahi preferensinya terhadap model kepemimpinan yang bersifat kolektif, bukan hirarkis semata.

Dalam konteks ini, ajakan untuk “membangun jembatan” bukanlah metafora kosong. Dunia saat ini justru sangat membutuhkan pemimpin rohani yang mampu menyatukan: antara iman dan akal, antara tradisi dan keterbukaan, antara pusat dan pinggiran. Paus Leo XIV, dengan tangan terbuka seperti lengkung alun-alun Santo Petrus, tampaknya ingin menjadikan Gereja sebagai rumah yang tidak menutup pintu bagi siapa pun.

Tentu tantangan besar menanti. Isu-isu internal seperti pelecehan seksual dalam Gereja, peran perempuan, keterbukaan terhadap komunitas LGBT, hingga relasi antara Gereja dan sains masih menjadi perdebatan. Belum lagi tantangan global seperti perubahan iklim, migrasi paksa, ketimpangan sosial, dan polarisasi politik yang makin tajam.

Namun harapan itu nyata. Dalam gaya kepemimpinannya yang lembut tapi bersuara jelas, tampak bahwa Paus Leo tidak akan memulai revolusi dengan gebrakan, melainkan dengan konsistensi langkah kecil seperti doa Salam Maria yang ia ajak ucapkan bersama di akhir sambutannya. Langkah sederhana, tapi bermakna: dunia tidak sedang menunggu ide besar, melainkan keteladanan nyata.

Gereja Katolik kini memasuki era baru: era keterbukaan, perjalanan bersama (sinodalitas), dan pencarian makna di tengah zaman yang berubah cepat. Paus Leo XIV tampaknya sadar bahwa otoritas rohani bukanlah tentang kekuasaan, tetapi kesediaan untuk hadir, mendengarkan, dan membimbing.

Dan mungkin itulah yang paling dibutuhkan dunia hari ini: bukan pemimpin yang paling kuat, melainkan pemimpin yang paling mampu mengulurkan tangan. Paus Leo XIV bukan sekedar penerus Tahta Petrus ia hadir sebagai simbol kesatuan, suara belas kasih dan tanda bahwa gereja tetap hidup, bergerak, dan berani bermisi ke dunia.

Semoga gereja dibawah kepemimpinannya semakin mampu menjangkau yang terlupakan, menyembuhkan yang terluka dan menjadi cahaya harapan bagi seluruh umat manusia.. ***

Penulis adalah Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang Nagekeo

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.