Pacaran sebagai Sakramentali Menuju Sakralitas Perkawinan

oleh -1028 Dilihat
Cover Album Foto Wedding Pemberkatan Pernikahan Sakramen Perkawinan Katolik dengan Paes Ageng Jogja Baju Rias Pengantin Adat Jawa Patricia+Martinus di Yogyakarta
banner 468x60

Oleh: Bryan Lobang Tang

Pacaran menjadi suatu hal yang menarik bagi kaum muda dewasa ini. Dalam masa ini anak mengalami suatu pertumbuhan baik secara fisik maupun psikologi. Di tengah perkembangan itu, modernitas menghadirkan suatu cara pendekatan baru dalam pacaran, yang awalnya pacaran yang bersifat formal dengan paham tradisional mengalami suatu transisi baru oleh karena pengaruh sekularisasi modern, orang tua yang dulunya berperan secara aktif kini hanya bersifat pasif bahkan dianggap tidak ada hubungannya dengan urusan privat anak. Baik paham tradisionalisme maupun modernisme, keduanya secara hakikat sepakat bahwa pacaran adalah sarana untuk menuju pada perkawinan.

Namun realitas menunjukkan sebaliknya, pacaran yang bersifat sebagai sarana justru berganti wajah menjadi tempat perkawinan ‘pertama’ sebelum perkawinan resmi baik secara adat, sipil maupun secara gerejawi. Maksudnya bahwa tidak ada lagi batas-batas dalam hubungan berpacaran sehingga perkawinana menjadi tidak begitu menarik lagi sebab hubungan intim laki-laki dan perempuan yang seharusnya berada dalam ranah perkawinan kini dilakukan dahulu sejak masa pacaran. Situasi ini melahirkan suatu dilematik dalam eksistensi manusia khususnya dalam membangun hubungan yang lebih serius tanpa kehilangan sakralitas dari perkawinan, sehingga dalam tulisan ini penulis ingin melihat pacaran dalam kacamata gereja katolik dengan menekankan aspek sakramen dalam melihat pacaran sebagai pra-sakramen atau sebagai sakramentali menuju sakralitas Perkawinan.

Pacaran: perjalanan menuju kepenuhan diri

Dalam kisah penciptaan, Hawa diciptakan Allah dari tulang rusuk Adam dengan tujuan sebagai penolong baginya (“Kej. 2 : 18”). Awalnya ciptaan itu bernama manusia, namun setelah Allah menciptakan perempuan, keduanya disebut sebagai laki-laki dan perempuan. Yang awalnya satu kini dibagi menjadi dua namun tetap menjadi satu yakni manusia. Peristiwa ini mau menggambarkan bahwa keduanya menjadi kepenuhan diri dari ciptaan Allah yang disebut manusia. Kepenuhan diri ini menjadi sempurna ketika adanya ketaatan kepada Allah. Ketidaktaatan yang dibuat manusia menjadikan kepenuhan dirinya itu tidak sempurna sehingga konsekuensinya dia diusir dari taman eden (“Kej. 3: 23”). Konteks biblis ini menjadi landasan yang memadai dalam berpacaran yang seharusnya, dimana pacaran menjadi sarana dalam perjalanan menuju kepenuhan diri.

Pacaran merupakan kebutuhan psikologis yang melekat dalam diri manusia dalam proses perkembangan dirinya. Dalam tiap zaman terdapat beragam cara atau pendekatan dalam berpacaran namun sesungguhnya hakikat dari pacaran itu tidak lebih tinggi dari perkawinan sehingga ada batas-batas dalam berpacaran. Dalam konteks saat ini, pacaran menjadi suatu privelese anak yang di dalamnya orang tua tidak memiliki otoritas sehingga di dalamnya anak merasa bahwa dia sudah dewasa. Hal ini berada di luar kendali orang tua sehingga di dalamnya anak harus benar-benar dewasa dalam mengurus hubungannya dengan lawan jenis. Maka pengetahuan yang cukup dan emosional yang matang harus menjadi sandaran bagi anak dalam menjalani masa pacaran ini, jika tidak anak akan terjerumus dalam hubungan yang tidak sehat.

Dalam Ensiklik Paus Benediktus XVI, Deus Caritas Est, hubungan antara laki-laki dan perempuan harus berlandaskan pada ‘Kasih’. Menghadapi kritik dari Friedrich Nietzsche, bahwa agama kristiani telah memberi minum racun kepada Eros; ia memang tidak mati karenanya, tetapi menjadi cacat. Menanggapi ini Paus menklasifikasi cinta menjadi tiga bagian yakni eros (cinta hasrat), agape (cinta pengorbanan) dan philia (cinta persahabatan). Ketiganya ada di dalam diri manusia sehingga dibutuhkan suatu pengendalian diri atasnya sehingga eros akan menjadi luhur ketika ditenpatkan pada saat yang tepat.(Kasih, 2022, pp. 9–10) Dalam gereja, eros itu akan memiliki nilai ilahinya ketika diangkat dalam jenjang sakramen yakni melalui perkawinan.

Maka dari itu kritik Friedrich Nietzsche ini dapat dibantah bahwa manusia tidak menjadi ‘cacat’, melainkan eros itu diangkat ke tatanan yang lebih tinggi yakni ke yang ilahi melalui perkawinan. Maka pacaran harus menjadi sarana untuk mewujudkan diri dengan batas-batas tertentu demi nilai yang lebih tinggi yakni nilai ilahi tanpa mengabaikan nilai yang bersifat manusiawi atau kepenuhan diri baik jasmani maupun rohani.

Pacaran sebagai sakramentali menuju sakralitas perkawinan

Sakramentali adalah istilah yang dipakai dalam gereja katolik yang berarti tanda atau sarana yang membawa manusia kepada rahmat yang lebih besar. Sakramentali mempunyai makna yang dalam yakni hal-hal biasa yang menjadi sarana untuk berelasi dengan Tuhan, dan mengingatkan akan rahmat Allah. Pacaran dapat menjadi sakramentali ketika hubungan itu dimaknai sebagai sarana menuju sakralitas perkawinan. Pacaran sebagai tempat pemenuhan kebutuhan psikologis diangkat martabatnya ke jenjang yang lebih tinggi ketika diarahkan pada sakralitas sakramen perkawinan.

Pacaran harus dilandaskan kepada cinta agape namun das sein-nya berbanding terbalik dimana didasarkan pada cinta eros sehingga tidak heran hubungan yang dibangun tidak benar-benar serius. Keseriusan hubungan itu akan bertahan ketika laki-laki dan perempuan diarahkan kepada tujuan yang lebih tinggi yakni sakramen perkawinan. Maka Paus Benediktus XVI menyerukan bahwa demikian menjadi nyata bahwa Eros membutuhkan pengendalian, pembersihan, untuk memberi kepada manusia bukan kenikmatan sesaat, melainkan prarasa kehidupan yang tinggi – kebahagiaan yang kita rindukan. Hal ini bukan berarti menyangkal cinta eros melainkan mengendalikannya dan membawanya kepada martabat yang lebih tinggi yakni keilahian melalui sakramen perkawinan.

Dengan cara pandang ini, laki-laki ataupun perempuan bukan lagi sebagai objek melainkan dilihat sebagai subjek yang sama, maka hubungan intim diluar pernikahan akan dapat dihindarkan. Selain pemahaman yang cukup tentang pacaran diperlukan batas-batas tertentu dalam pacaran sebab dengan begitu hubungan itu dapat dijaga sakralitasnya untuk sampai pada hubungan yang lebih serius yakni perkawinan. Maka dengan begitu pacaran harus menjadi sakramentali yang menghantar pada sakralitas perkawinan sebab dengan begitu manusia dapat mewujudkan dirinya secara penuh sebagai ciptaan yang saling melengkapi.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.