Oleh: Vitalis Wolo
Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Kupang (MusPas) yang akan berlangsung pada 29 September hingga 3 Oktober 2025 adalah sebuah momentum bersejarah dalam kehidupan Gereja lokal di Nusa Tenggara Timur. MusPas bukanlah agenda rutin semata, melainkan tonggak yang menandai arah perjalanan Gereja menuju masa depan. Dalam perjalanannya, MusPas selalu dipahami sebagai ruang bersama untuk membaca tanda-tanda zaman, merenungkan kembali panggilan Gereja, serta memperbaharui diri dalam semangat Injil. Tahun ini, perhelatan tersebut memperoleh makna yang lebih dalam karena berlangsung di bawah kepemimpinan Uskup Agung baru, Mgr. Hironimus Pakaenoni, Pr, yang membawa motto biblis penuh daya: Pasce Oves Meas—“Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Motto itu bukan sekadar semboyan yang indah, melainkan sebuah mandat langsung dari Kristus kepada Petrus dan, melalui garis suksesi, kepada para gembala Gereja sepanjang sejarah. Bagi Keuskupan Agung Kupang, mandat ini menghadirkan panggilan yang sangat konkret: umat Allah yang dipercayakan harus digembalakan dengan kasih, kedekatan, dan keteladanan hidup. Pertanyaan yang perlu diajukan secara jujur adalah apakah umat sungguh merasakan kehadiran gembalanya dalam suka-duka kehidupan sehari-hari, dan sejauh mana para pemimpin Gereja setia berjalan bersama umat dalam segala keterbatasan.
Kupang memiliki posisi istimewa dalam peta Gereja Katolik di Nusa Tenggara Timur. Sebagai keuskupan metropolitan, Kupang bukan hanya rumah bagi umat di Timor Barat, Alor, Rote, dan Sabu, melainkan juga menjadi pemersatu bagi dua keuskupan sufragan: Atambua dan Weetebula. Karena itu, arah pastoral dari Kupang tidak dapat dianggap sebagai urusan internal belaka, melainkan menjadi tanda bagi seluruh NTT. Kupang dipanggil untuk tampil sebagai mercusuar yang tidak hanya menerangi dirinya sendiri, melainkan juga menyalurkan sinar harapan bagi keuskupan-keuskupan lain yang berziarah bersama dalam kesatuan iman.
Tugas sebagai mercusuar tentu menuntut keberanian untuk menyentuh persoalan-persoalan nyata yang dihadapi umat. Gereja tidak boleh berhenti pada wacana liturgi yang indah atau program pastoral yang rapi di atas kertas, melainkan mesti berani menyeberangi batas menuju denyut kehidupan umat. Kita menyaksikan maraknya migrasi tenaga kerja dari NTT yang rentan terjebak dalam perdagangan orang. Kita mendengar jeritan keluarga miskin yang terus terperangkap dalam lingkaran ketidakadilan sosial, sementara sumber daya alam terus dieksploitasi tanpa kendali. Kita melihat generasi muda yang berjuang keras menuntut ilmu di kota Kupang, tersebar di rumah kos dan penginapan, sering kali jauh dari perhatian dan pendampingan. Semua kenyataan ini menuntut sebuah Gereja yang hadir bukan hanya di altar, tetapi juga di lorong-lorong sempit dan jalanan berdebu tempat umat berjuang mempertahankan hidup.
Namun, kehadiran Gereja akan kehilangan daya ubahnya apabila para gembalanya sendiri terjebak dalam krisis keteladanan. Ada fenomena sebagian imam yang sibuk dengan kenyamanan pribadi, lebih mementingkan fasilitas daripada hidup sederhana bersama umat. Jika gembala kehilangan bau domba, bagaimana mungkin umat dapat mempercayai mereka? Paus Fransiskus pernah mengingatkan dengan tegas, “Para gembala harus mempunyai bau domba, artinya dekat dengan umat mereka” (Evangelii Gaudium, 24). MusPas harus berani menjadi ruang otokritik. Moto Pasce Oves Meas menuntut sebuah pembalikan arah: imam harus kembali tampil sebagai gembala sejati, sederhana, rendah hati, dan berani berjalan bersama umat. Kritik ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan, melainkan untuk menegaskan bahwa Gereja hanya akan dipercaya apabila pemimpinnya sungguh-sungguh memberi teladan hidup yang konsisten. Dunia yang semakin skeptis menuntut kesaksian nyata, bukan sekadar kata-kata manis.
Di sinilah tema MusPas tahun ini menemukan bobotnya. “Umat Keuskupan Agung Kupang Peziarah Harapan Menuju Indonesia Emas” mengandung makna ganda. Pertama, Gereja dipanggil untuk terus menjadi peziarah yang berjalan dalam iman, meninggalkan cara lama yang kurang relevan dan melangkah dengan semangat pembaruan. Kedua, Gereja harus menyadari dirinya sebagai bagian dari ziarah besar bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Umat beriman di Keuskupan Agung Kupang tidak boleh berjalan sendirian, melainkan ikut serta menyumbangkan tenaganya bagi peradaban bangsa. Pertanyaannya, apa sumbangan nyata Gereja Keuskupan Agung Kupang bagi Indonesia Emas? Jawaban yang mungkin adalah keberanian untuk berpihak pada mereka yang lemah: nelayan di pesisir, petani di pedalaman, buruh migran yang berjuang di tanah rantau, mahasiswa yang berdiam di kos-kosan, dan keluarga miskin yang berjuang di tengah ketidakpastian kota.
Dalam konteks Tahun Yubelium 2025 yang bertema Peziarahan Harapan, MusPas di Kupang mendapat warna yang semakin kaya. Pertobatan yang dituntut bukan hanya dalam level pribadi, melainkan juga dalam tataran struktural dan pastoral. Gereja dipanggil untuk menata ulang strategi pelayanannya sehingga sungguh menghadirkan harapan bagi umat kecil. Paus Fransiskus telah mengingatkan bahwa Gereja harus selalu tampil sebagai “Gereja yang miskin untuk orang miskin,” yang berani meninggalkan kemewahan demi kesetiaan kepada Injil. Bahaya terbesar MusPas adalah apabila ia berhenti sebagai seremoni yang meriah, menghasilkan dokumen yang rapi, tetapi tidak mengubah kehidupan nyata umat. Padahal, Gereja ditantang untuk menghadirkan Injil sebagai kabar gembira yang dirasakan, bukan sekadar didengar.
Kupang sebagai metropolitan memikul tanggung jawab moral yang lebih besar. Ia harus menjadi teladan kesederhanaan, keberanian profetis, dan kesetiaan untuk menggembalakan umat. Bila Kupang mampu tampil sebagai Gereja yang dekat dengan umat, yang berpihak kepada kaum miskin dan tertindas, maka pengaruhnya akan menjalar ke seluruh NTT. Sebaliknya, bila Kupang terjebak dalam formalitas dan kenyamanan elitis, maka jangan heran bila umat semakin menjauh dan Gereja kehilangan daya tariknya. Dalam Evangelii Gaudium, Paus Fransiskus menegaskan bahwa lebih baik Gereja “memar, terluka, dan kotor karena keluar ke jalan-jalan” daripada terkurung dalam kenyamanan yang steril. Kutipan ini seakan menjadi cermin bagi kita di Kupang: apakah kita berani menjadi Gereja yang keluar, ataukah tetap bertahan dalam zona nyaman yang jauh dari jeritan umat?
Dari Naimata, catatan ini ditulis sebagai suara seorang umat sederhana yang menitipkan harapan kepada para peserta MusPas. Semoga MusPas Keuskupan Agung Kupang sungguh menjadi titik balik, bukan sekadar forum seremonial. Semoga para gembala kita berani mendengarkan suara umat, berani melakukan otokritik, dan berani menata ulang arah pastoral dengan semangat Injil. Dalam Tahun Yubelium ini, Gereja Keuskupan Agung Kupang dipanggil menjadi peziarah harapan yang menggembalakan dengan kasih, kesederhanaan, dan keberanian, sebagaimana Kristus sendiri menghendakinya.
Penulis adalah Umat Stasi Santu Fransiskus Xaverius – Naimata







