MUI Banten dan Kaderisasi Ulama

oleh -2294 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Muakhor Zakaria

Dalam bukunya “Jihad Pendidikan”, yang sedang hangat menjadi perbincangan publik, K.H. Bazari Syam (Ketua umum MUI Banten) menegaskan pentingnya pendidikan kader ulama, khususnya di ranah Banten. Beliau menyoal secara lugas, jika sebagian ulama menyatakan dirinya bermazhab Syafi’i atau berakidah ahlussunnah wal-jamaah, sudahkah mereka memperhatikan, setidaknya sejarah hidup Imam Syafi’i, atau Abu Hasan al-Asy’ari sebagai tokoh-tokoh utama Aswaja? Lebih lanjut, Bazari Syam menandaskan, “Jika pun sebagian mengaku bertarekat Naqsyabandiyah atau Qadiriyah, mampukah mereka mendalami filosofi dan pemikiran Abdul Qadir Al-Jailani, ataukah hanya sebatas amalan wiridnya, tanpa meneladani jejak-langkah sejarah hidupnya?”

Pernyataan yang krusial itu hendaknya menjadi pemikiran serius bagi sebagian ulama, karena menyentil persoalan prinsipil tentang kedewasaan iman kita. Termasuk hal multidimensional dalam diri kita, yakni kekuatan akal dan hati nurani. Menurut Bazari Syam, jika semua pemeluk agama memiliki mental dan karakter yang terbangun dari kekuatan religiusitas yang dewasa, maka kebhinekaan yang menyimpan potensi konflik dapat teratasi dengan sebaik-baiknya. Bahkan, ketegangan sosial-politik yang rawan, dapat pula diatasi dengan mekarnya jiwa persaudaraan berkat pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai kerukunan dan kemanusiaan.

Pemahaman agama di era milenial ini, harus ditingkatkan kepada fase “esoterik” yang tidak lagi dalam sekat-sekat pembatas, tetapi sudah menembus kepada atmosfir spiritual yang lebih menyejukkan kalbu. Ketika munculnya fatwa-fatwa pemuka agama yang cenderung mengarah ke arah “idiologisasi”, dalam status pembenaran suatu keyakinan yang dianggap final (taken for granted), maka pemuka agama perlu mengadakan proses rethinking, meninjau kembali pemahaman agama yang sudah mencapai fase pendewasaan tadi.

Untuk itu, doktrin pemikiran keagamaan yang bersifat aksiomatik-positivistik yang dianggap sakral, mengalami suatu perubahan nilai yang bersifat profan. Pensakralan yang bersifat truth claim (secara sepihak) yang berimplikasi pada sikap keagamaan yang lebih menganggap apa yang menjadi keyakinannya paling benar, akan mengalami pergeseran nilai kepada suatu pemahaman yang universal tentang makna dan hakikat agama itu sendiri.

Citra kerukunan

Perlu diakui bersama mengenai adanya kelompok-kelompok tertentu yang sering merusak citra kerukunan, dengan memelintir ayat-ayat Al-Quran yang mendukung kebenaran secara sepihak, dan pada dasarnya merupakan “pembenaran” atas penafsirannya sendiri. Sikap ini dirasa kurang elegan, jika sosok ulama yang notabene menggariskan nilai-nilai ukhuwah, tetapi di lapangan justru menebarkan doktrin di tengah masyarakat, yang justru merusak nama baik lembaga keulamaan itu sendiri.

“Keluhuran dan keagungan ajaran Islam, khususnya perihal kesalehan vertikal (hablumminallah) dalam hubungannya dengan kesalehan horisontal (hablumminannas) harus merasuk ke dalam jiwa para ulama, bahkan perlu ditingkatkan inovasinya melalui materi-materi kurikulum pendidikan di tingkat sekolah,” tandas Bazari Syam.

Proses pendewasaan ini meniscayakan pemekaran api empati dan cinta kasih, saling tenggang rasa di kalangan ulama atau pendeta yang berbeda suku, bahasa maupun budaya. Penghargaan nilai-nilai humanitas yang menepiskan sikap intoleran, perlu pula dibarengi keteladanan sang ulama agar mensinergikan apa-apa yang difatwakan, dengan apa-apa yang diperbuat (pola asuh). Bagaimanapun, kesalehan vertikal dan horisontal harus satu dan senyawa, bagaikan kebersamaan dalam pikiran dan tindakan.

Terkait dengan ini, Islam menghendaki kemaslahatan antar sesama, karena dalam kemaslahatan itu melahirkan prinsip keadilan dan ketakwaan. Konsep ukhuwah Islamiyah tak lepas dari koridor keseimbangan yang harmoni agar berjalannya keselarasan dan kesamarataan hidup yang saling menghormati dan menghargai. Untuk itu, melalui teladan yang bijak dari para ulama, tak ada tempat bagi mekarnya radikalisme dalam pikiran kaum muda yang sudah merasuk api empati dan cinta kasih di dalamnya.

Pesantren lansia

Sehubungan dengan gagasan kaderisasi ulama, ketua MUI Banten juga menggagas pentingnya mendirikan pesantren manula (lansia). Menurut Bazari Syam, akhir-akhir ini banyak pakar motivator yang berasumsi seakan-akan faktor kesuksesan manusia adalah mengoptimalkan kekuatan yang ada pada dirinya sebagai makhluk yang berpikir multidimensional. “Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, tetapi saya ingin menegaskan bahwa pendapat itu belum optimal. Karena faktor utama yang membuat seseorang hidup sukses sekaligus mulia, tak lain adalah peranan doa dan restu dari orang tua juga,” demikian jelas Bazari Syam.

MUI Banten berupaya menciptakan wadah dan sarana yang memadai, agar generasi Banten masa kini sanggup berkhidmat dan menghormati orang tuanya, mengantarkan mereka ke masa-masa akhir hayatnya agar mencapai derajat husnul khatimah. “Kami menghargai yayasan manapun yang punya kepekaan dan kepedulian untuk membimbing dan merawat orang-orang tua, yang seringkali kita sebut sebagai “Panti Jompo”. Meskipun, ada persepsi miring dari sebagian masyarakat yang menilai panti jompo seakan tempat menitipkan orang tua, hingga terkesan adanya pelepasan tanggungjawab dari pihak anak kepada orang tuanya sendiri. Kita harus meninjau persepsi tersebut melalui perspektif berbeda, karena boleh jadi faktor kesibukan anak di era post-industrial ini. Boleh jadi ingin menempatkan orang tua yang lebih nyaman agar dirawat oleh mereka yang punya tingkat kesabaran (patience) yang tinggi,” ujar Bazari Syam.

MUI mencoba menangkap pesan dari gagasan dan wacana yang berkembang di tengah masyarakat. MUI juga berikhtiar untuk bergerak dalam koridor kebenaran dan kebaikan bersama, daripada sibuk melemparkan tanggungjawab tanpa melibatkan diri secara aktif untuk mencari format terbaik bagi dunia pendidikan, khususnya bagi generasi orang tua kita.

Menurut Bazari Syam, dengan adanya pesantren lansia, kita akan mencoba mengajak para orang tua yang sudah uzur, serta mendidik dan mengarahkan mereka agar berada dalam koridor kebaikan untuk menyikapi masa-masa akhir hayatnya. Dengan ini, kita mengenang hadits Rasulullah, ketika beberapa hari sebelum wafatnya memberikan peringatan kepada para sahabat: “Hendaknya dari umat-umatku mengakhiri masa hidupnya dalam keadaan berbaik sangka (husnudzon) kepada Tuhan.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Hendaknya bagi kaum muslimin memahami hakikat kematian dengan penuh ketenangan, kedewasaan serta bertaburan cinta kasih Tuhan. Kita akan mengusahakan adanya pendampingan dan bimbingan dari para pengasuh yang mumpuni, bahwa semua manusia punya cita-cita untuk mencapai tujuan terbaik bagi masadepannya, bahkan saat-saat terakhir menjelang kematiannya.  “Tak ada kepercayaan agama manapun, baik samawi maupun ardli, yang menganjurkan sikap permusuhan atau memperuncing masalah antara generasi anak dan orang tua,” ujar Bazari Syam.

Rasulullah, ketika ditanya oleh seorang nenek-nenek tua renta, apakah Allah itu berada di atas langit? Jawaban Rasul justru mengiyakan pendapat sang nenek tersebut. Karena bagi Rasul, tidak dimungkinkan untuk berkonfrontasi dengan keyakinan sang nenek mengenai teologi ketuhanan. Hal tersebut adalah wilayah pemikiran yang membutuhkan ilmu dan wawasan yang barangkali terbatas oleh jangkauan pemikiran generasi orang tua.

Sedalam apapun jurang perbedaan antara anak dan orang-tua, Islam tetap menganjurkan keseimbangan yang saling menghargai dan menghormati. Perbedaan paham dengan orang tua tidak boleh didramatisir sedemikian rupa, hingga mengalami peruncingan yang tak mungkin ditoleransi. Biarpun kita mengetahui bahwa perjalanan hidup yang menjadi anutan mereka berseberangan dengan nash-nash agama, rupanya tetap kita harus memperlakukan mereka dengan baik dalam kehidupan dunia, sedangkan di akhirat mutlak dalam ketentuan dan kekuasaan Sang Pencipta (Luqman: 15).

Bazari Syam selaku ketua MUI Banten mengakhiri penjelasannya, bahwa kesuksesan yang dicapai manusia pada hakikatnya belum bisa dikatakan “sukses” manakala ia tidak mengantarkan manusia kepada derajat kebahagiaan dan kemuliaan. Sebab, kemuliaan seseorang dijamin baginya kebahagiaan hidup, sedangkan parameter kesuksesan duniawi hanyalah urusan ambisi dan obsesi, di saat Tuhan memberikan izin-Nya untuk mencapai tingkat kesuksesan tersebut.

Tetapi persoalannya, apakah izin Tuhan sudah meliputi ridho-Nya? Apakah kesuksesan itu mengantarkan manusia pada hidup bahagia dan menentramkan, baik di dunia maupun di akhirat? Bukankah yang menjadi tujuan utama dari kesuksesan manusia modern, agar mengantarkan mereka kepada tingkat kebahagiaan hidup? ***  

Penulis adalah Pengasuh pesantren Thariqul Akhor, Rangkasbitung, Lebak, juga menulis esai dan prosa di berbagai media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.