Oleh: KH Ahmad Rafiuddin
Banyak orang menilai bahwa nilai kekayaan manusia di era milenial ini diukur dari baju yang dikenakan, rumah yang dimiliki, bahkan mobil yang dikendarai. Tetapi apakah mereka benar-benar memiliki dan menikmati semua kekayaan itu?
Nasib hidup manusia ditentukan, apakah ia dapat menguasai kekayaan ataukah kekayaan yang menguasai dan memperbudak hidupnya. Di sini, kita tidak bermaksud untuk membahas orang miskin atau memuliakan orang kaya, tetapi kekayaan hakikatnya hanyalah alat dan sarana, tergantung bagaimana kita memperlakukannya.
Menurut orang-orang bijak, sesungguhnya kekayaan manusia adalah ujian watak dan karakter. Ia bukanlah ukuran kesuksesan, tetapi hanya pelayan yang membantu mencapai tujuan agar lebih luhur dan mulia. Tetapi, dalam dunia yang cenderung materialistis, di mana nilai seseorang diukur dari apa yang dimilikinya, hendaknya setiap manusia kembali ke esensi tentang makna harta dan kekayaan yang sesungguhnya.
Kaum sufi dari zaman ke zaman, sangat memahami apa arti hidup “cukup”, mereka tidak menjadikan nilai kekayaan sebagai identitas dan harga diri. Kalaupun banyak kaum sufi yang hidup kaya-raya, namun kekayaan itu dapat dijadikan sarana untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Mereka memahami kualitas rasa syukur, serta tidak takut kehilangan apa-apa yang dimilikinya. Mereka juga mampu mengukur nilai diri, bukan dari jumlah, tetapi dari kemanfaatan mengelola harta yang dimilikinya. Mereka akan mudah puas dan merasa cukup, bahkan waktu dan energinya dimanfaatkan untuk kepentingan banyak orang, termasuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Bagi kaum sufi, manusia ideal adalah mereka yang berusaha memerdekakan diri dari ikatan kepemilikan, serta tidak merelakan kepuasan hatinya untuk sekadar menambah pundi-pundi. Bukan berarti mereka anti orang kaya, tapi mereka anti “bergantung” pada kekayaan. Selain untuk membantu sesama, kekayaan yang berkualitas juga akan dimanfaatkan untuk mendukung nilai-nilai pemberdayaan, memperluas ilmu pengetahuan, serta menciptakan perubahan yang positif. Di dunia sufi dikenal istilah zuhud atau hidup sederhana, meskipun kekayaannya melimpah.
Pepatah bijak menyatakan, bahwa orang yang minum dengan menggunakan cangkir plastik seolah-olah itu emas, akan lebih menikmati minuman dibandingkan orang yang menggunakan cangkir emas tapi seolah-olah plastik. Dengan membangun pola pikir seperti itu, manusia akan lebih rileks dan santai mengambil keputusan hidup, tak terlampau memikirkan apakah kendaraannya mewah atau tidak, juga tidak peduli apakah ponselnya bermerek atau tidak.
Jadi semua barang-barang mewah yang dimiliki, tidak akan pernah memuaskan pikiran orang yang tak pernah merasa puas. Sebab, pikiran yang tak puas itu selalu sibuk mengejar keinginan yang lebih, dan bukan sekadar mencari kebutuhan.
Kemewahan adalah sesuatu yang tak pernah membuat pemiliknya menjadi tenang. Seseorang yang memiliki tiga mobil mewah, tak ada jaminan hidupnya lebih tenang daripada orang yang memiliki mobil sederhana, tapi sungguh ironis ketika ia menginginkan lebih dan lebih, sementara yang sudah ada tak pernh membawa ketenangan.
Suatu hari, seorang penulis buku diwawancarai pada acara Podcast di kanal YouTube. Unggahan membanjir dan ribuan komentar menghiasi acara tersebut. Seusai wawancara, seorang wartawan mendekati penulis sambil bertanya, “Bagaimana perasaan Anda, ketika mendengar kabar bahwa pembawa acara mendapatkan ratusan juta rupiah dari penghasilan mewawancarai Anda, sementara Anda sendiri hanya menghasilkan sebagian saja dari royalti buku yang Anda tulis?”
Pertanyaan seperti itu dianggap lumrah karena treadmill hedonis dari kebanyakan orang media yang menyenangkan bagi orang yang standar ekonominya di bawah dirinya. Watak semacam itu menunjukkan gejala kebangkrutan, meskipun tidak secara finansial tetapi secara mental dan emosional.
Oleh karena itu, sang penulis menanggapi ucapan wartawan itu dengan santai dan tenang, “Saya tetap merasa bersyukur dengan penghasilan yang lebih sedikit dari dia?”
“Kok bisa begitu?” pancing sang wartawan.
“Karena saya merasa cukup, tetapi kebanyakan orang sibuk ingin mengejar lebih dan lebih…” (*)
Penulis adalah Penulis buku “Marwah Pesantren”, pengasuh Ponpes Tebuireng 09 di Rangkasbitung, Banten, juga menulis esai di berbagai media berani dan memikat









