Oleh: Angelina Charita Beke Watu
Tekanan akademik yang dialami mahasiswa semester akhir semakin mendapat sorotan. Lonjakan kasus stres, kecemasan, hingga depresi di kalangan mahasiswa menunjukkan bahwa penyelesaian tugas akhir bukan sekadar tantangan akademik, tetapi juga isu kesehatan mental yang mendesak.
Data terbaru American College Health Association (2024) menunjukkan bahwa 77 persen mahasiswa melaporkan stres berat, sementara 35 persen mengaku tekanan itu sudah mengganggu kinerja akademik mereka. Di Indonesia, laporan Kementerian Kesehatan RI 2023 memperlihatkan bahwa 1 dari 4 mahasiswa mengalami gejala depresi dan kecemasan, khususnya selama proses penyusunan skripsi. Angka-angka ini memberi sinyal jelas: mahasiswa semester akhir berada dalam situasi rentan.
Namun, banyak mahasiswa masih mengabaikan kondisi mental mereka. Budaya “harus kuat” dan tuntutan akademik sering membuat mahasiswa memprioritaskan tenggat daripada kesehatan sendiri. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi mental yang terganggu berkontribusi pada penurunan kemampuan konsentrasi, produktivitas, serta kapasitas mengambil keputusan yakni semua hal yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas akhir.
Praktisi psikologi pendidikan menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental bukan pilihan pelengkap, tetapi kebutuhan dasar. Aktivitas sederhana seperti olahraga ringan, istirahat teratur, hingga teknik pernapasan terbukti mampu membantu mengurangi stres. Studi University of Oxford (2023) bahkan mencatat bahwa latihan mindfulness rutin dapat menurunkan tingkat stres hingga 40 persen.
Selain itu, akses terhadap dukungan sosial terbukti memainkan peran penting. Layanan konseling kampus, keluarga, dan teman sebaya menjadi sumber bantuan yang dapat mengurangi beban emosional mahasiswa. Riset menunjukkan bahwa mahasiswa yang aktif mencari dukungan profesional memiliki tingkat keberhasilan akademik hampir 30 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang menghadapi tekanan sendirian.
Dengan meningkatnya temuan terkait gangguan kesehatan mental di jenjang perguruan tinggi, pakar menilai bahwa perguruan tinggi perlu lebih proaktif menyediakan layanan psikologis yang mudah dijangkau. Sementara itu, mahasiswa semester akhir diimbau untuk lebih peka membaca tanda-tanda stres berlebihan dan tidak ragu meminta bantuan.
Kesehatan mental kini menjadi isu strategis dalam dunia pendidikan tinggi. Di balik tuntutan akademik yang semakin berat, perhatian terhadap kesehatan mental perlu diberlakukan sebagai prioritas, bukan pengecualian. Jika tidak ditangani sejak dini, tekanan akademik berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang bagi mahasiswa—baik secara akademik maupun emosional.
Penulis adalah Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang







