Menimbang Masa Depan Nikel Menuju Perubahan Baterai yang Ramah Lingkungan

oleh -1596 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yoga Duwarto

Indonesia dengan program hilirisasi dimana industri nikel sebagai bahan utama produksi baterai untuk kendaraan listrik, dan melihat pada perkembangan tehnologi untuk efesiensi energi yang semakin berkembang pesat dengan munculnya berbagai alternatif baru. Demikian juga kemajuan tehnologi baterai untuk memenuhi keperluan masa depan kendaraan listrik sebagai moda transportasi yang mulai meninggalkan penggunaan energi fosil menjadi listrik.

Penggunaan nikel dalam industri memproduksi baterai terlihat akan semakin terdesak dengan adanya perkembangan teknologi baru yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Nikel telah menjadi salah satu bahan kunci dalam memproduksi baterai jenis lithium-ion (Li-ion), terutama dalam komposisi katoda seperti Nickel-Manganese-Cobalt (NMC) dan Nickel-Cobalt-Aluminum (NCA). Namun sejalan dengan berkembangnya teknologi baru, penggunaan bahan baterai dengan bahan nikel mulai dipertanyakan.

Mengingat bahwa nikel memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, nikel termasuk jenis logam yang termasuk relatif langka. Menurut United States Geological Survey (USGS), cadangan nikel global diperkirakan mencapai 90 juta ton pada tahun 2022. Sehingga fluktuasi harga nikel mempengaruhi biaya produksi baterai secara signifikan. Sebagaimana tahun 2021, harga nikel melonjak hingga 50 persen karena permintaan yang tinggi dari industri kendaraan listrik.

Selain daripada itu, proses ekstraksi nikel sering kali dikaitkan dengan dampak lingkungan yang cukup serius. Oleh karena penambangan nikel dapat menyebabkan pencemaran tanah dan air serta kerusakan ekosistem lokal. Laporan dari Environmental Science & Technology menunjukkan bahwa penambangan nikel berkontribusi menghasilkan limbah beracun yang berpotensi merusak lingkungan.

Atas dasar dari masalah ini kemudian beberapa alternatif baru yang muncul untuk mengurangi dampak negatifnya. Kemudian keberadaan Lithium Iron Phosphate (LFP) telah dilihat menjadi alternatif populer dalam industri baterai.

Baterai LFP atau dikenal Lithium-Posfat tidak lagi menggunakan nikel dan juga menawarkan beberapa keunggulan lain. Dari sisi keamanan adalah salah satu keuntungan utama baterai LFP karena lebih stabil dan tidak mudah terbakar jika dibandingkan dengan baterai berbasis nikel.

Kemudian biaya produksi baterai LFP disebutkan lebih rendah karena bahan bakunya lebih melimpah. Menurut Bloomberg, biaya baterai LFP per kWh bisa mencapai $100, sementara baterai jenis NMC bisa mencapai $150 per kWh.

Pada pasaran global untuk pemakaian baterai LFP diperkirakan akan tumbuh pesat. Nilai pasar global baterai LFP mencapai $12,5 miliar pada tahun 2022 dan diperkirakan berkembang mencapai $52,7 miliar pada tahun 2030.

Kemudian juga alternatif lain yaitu perkembangan baterai Solid-State menawarkan kepadatan energi yang lebih tinggi serta waktu pengisian yang lebih cepat dan tanpa menggunakan elektrolit cair.

Beberapa perusahaan besar seperti Toyota, Jepang dan Volkswagen, Jerman terlihat mengembangkan teknologi ini. Baterai Solid-State juga tidak memerlukan nikel dan juga memiliki potensi untuk meningkatkan jarak tempuh kendaraan listrik serta efisiensi energi.

Indonesia memiliki cadangan nikel yang cukup besar, dengan total cadangan bijih nikel mencapai 5,325,790,841 ton. Dan persentase cadangan nikel Indonesia terhadap cadangan nikel global diperkirakan sebesar 6 persen. Adapun wilayah timur Indonesia, terutama di Sulawesi, masih menyimpan potensi cadangan nikel yang cukup besar.

Dengan adanya perkembangan teknologi alternatif baru yaitu Lithium Iron Phosphate (LFP) dan Baterai Solid-State, maka industri baterai semakin bergantung kepada teknologi yang lebih ramah lingkungan dan efisien.

Pada pasar baterai solid-state diperkirakan akan mencapai $5 miliar pada tahun 2024, juga menunjukkan akan arah masa depan yang semakin berorientasi pada keberlanjutan dan lingkungan. Oleh karena itu, produsen baterai di Indonesia juga harus siap mengadaptasi teknologi baru untuk tetap relevan di era yang semakin berubah ini.

Meskipun sekarang bahan nikel masih menjadi komponen penting dan relevan dalam banyak jenis baterai, namun tren menuju teknologi yang lebih berkelanjutan menunjukkan bahwa masa depan industri baterai mungkin tidak lagi bergantung pada nikel. Alternatif baru seperti baterai LFP dan baterai solid-state telah menunjukkan akan berpotensi besar menggantikan penggunaan nikel, atau dalam baterai lithium-ion.

Oleh karena itu, perlu untuk diketahui oleh para produsen baterai Nikel harus siap mengadaptasi teknologi baru untuk bisa tetap relevan di era yang semakin berubah ini. Pemanfaatan dan pengembangan lebih lanjut dari industri baterai nikel harus terus diupayakan untuk bisa berkembang mengingat Indonesia termasuk negara dengan kekayaan nikel cukup dominan dalam laju penggunaan kendaraan listrik.

Selasa, 22 Oktober 2024

Penulis adalah Peneliti dan Pemerhati Kebijakan Publik

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.