Menganalisis Kehidupan Musailamah Al-Kadzab

oleh -135 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Dr. Mu’min Roup, MA

Sejarawan berbeda pendapat tentang nama “Musailamah”, yang dulunya pernah dipanggil Abu Harun atau Maslamah bin Habib. Ia dilahirkan di Desa Jibliyah di wilayah Najd, masih sekitar pedalaman Arab Saudi. Ia dikaruniai umur yang lebih tua dari Nabi Muhammad, hingga memandang dirinya seakan-akan lebih mulia ketimbang Rasulullah. Beberapa sejarawan menulis usia Musailamah hingga mencapai 150 tahun. Sedangkan, Muhammad Rasulullah hanya mencapai 63 tahun.

Musailamah memiliki kepribadian tangguh, posturnya tinggi dan badan kekar (strong personality). Dia dikenal sebagai penyair yang pandai berorasi, hingga memiliki pengaruh di kalangan suku dan kabilahnya (Bani Hanifah). Tutur katanya kadang lembut namun penuh tipu muslihat, hingga kerap ia menjuluki dirinya sebagai Rahman al-Yamamah.

Saat Musailamah mengumumkan kenabiannya, Rasulullah masih berada di Kota Mekah. Ia mengutus beberapa penyair untuk mencermati kedalaman Al-Quran, sampai kemudian ia memodifikasi bahasa Al-Quran, lalu mengumumkan kepada para jamaahnya, seakan-akan itu adalah hasil kreasi dan ciptaanya sendiri.

Sebelum mengaku sebagai nabi, Musailamah dikenal sebagai cendekiawan yang berpengalaman. Ia bersahabat dengan orang-orang dari berbagai macam profesi, juga rajin berkirim surat kepada para penguasa dan raja-raja Arab supaya mereka mengakui kerasulannya. Surat yang dikirim kepada Nabi Muhammad di Kota Mekah adalah sebagai berikut:

“Dari Musailamah rasulullah kepada Muhammad rasulullah. Keselamatan atasmu, amma ba’du: Sungguh aku juga telah diutus sebagai Rasul seperti halnya dirimu. Untuk itu, aku memiliki kewenangan di wilayah kekuasaanku, sedangkan Anda berkuasa di wilayah Qurays dan sekitarnya. Meskipun, suku Qurays termasuk masyarakat yang melampaui batas.”

Perhatikan pola bahasa yang dipakai oleh Musailamah, seakan mengandung sindiran kepada suku Qurays sebagai leluhur Nabi Muhammad yang pernah menolak dan memusuhi kerasulan Nabi secara sengit. Bahkan, Musailamah juga berani mengklaim bahwa Nabi Muhammad termasuk bagian dari masyarakat yang “melampaui batas”, sampai kemudian jamaah Musailamah menuduh Nabi sebagai “serakah” yang berambisi ingin menguasai seluruh Jazirah Arab.

Pola bahasa yang dipakai Musailamah cukup memikat hati para pengikutnya. Ia menyebut ajarannya sebagai “pencerahan” sehingga muncul adanya kerancuan dari ajaran Sunnah dan teladan Rasul, bersama wahyu Ilahi yang mengiringi perjalanan hidup Rasulullah. Metode dakwah Rasulullah dengan berkirim surat kepada rara-raja dan penguasa di sekitar Kota Mekah, telah dipraktekkan oleh Musailamah.

Seruan dakwah tersebut disampaikan untuk kepala suku dan raja-raja Arab, termasuk para raja dari kalangan Bani Hanifah sendiri. Musailamah sebagai salah seorang tokoh yang memiliki banyak pengikut, pernah menjumpai Rasulullah sewaktu berada di Madinah, lalu menyepakati Muhammad sebagai penguasa setempat. Namun kemudian, ia memprovokasi pengikutnya agar berbagi kekuasaan dengan Rasulullah.

Pada masa itu, kabilah Bani Hanifah sangat tersohor di kalangan para kabilah di jazirah Arab. Masyarakatnya menghendaki agar kekuasaan dilimpahkan kepada pemimpinnya (Musailamah) setelah Rasulullah wafat kelak. Namun kemudian, Rasulullah menegaskan bahwa hakikat kepemimpinan adalah amanat yang dianugerahkan Allah bagi hamba-hamba yang dicintai-Nya. Berikut ini Rasulullah memberi tanggapan atas kekuasaan Musailamah yang sangat ambisius untuk menduduki jabatan kepemimpinan:

Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk, amma ba’du: Sungguh bumi ini kepunyaan Allah, yang diwariskan kepada siapa yang dihendaki dari hamba-hamba-Nya. Adapun hasil akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Setelah membaca surat itu, tiba-tiba Musailamah murka, hingga kemudian membunuh Hubaib bin Zaid yang diutus sebagai kurir yang mengantarkan surat tersebut.

Kematian Hubaib bin Zaid dijadikan momentum dan kesempatan untuk memanipulasi surat jawaban Rasulullah, seakan-akan telah merestui kekuasaan Musailamah di tengah masyakarat Yamamah (Bani Hanifah) dan sekitarnya. Tabiat dan karakter orang-orang yang “gila kekuasaan” di wilayah Arab, membuat Rasulullah pernah mensinyalir, bahwa kelak sepeninggal beliau, akan ada sebagian masyarakat yang keluar dari garis Islam secepat anak panah yang keluar dari busurnya.

Itulah tipologi penguasa seperti Musailamah, yang nekat merancang surat rekomendasi khusus yang dianggap “sakti”, seakan Rasulullah telah memberinya wasiat dan mandat untuk berbagi kekuasaan dengannya. Kini, ia mengklaim dirinya bukan semata penguasa daerah, melainkan Nabi bagi kalangan Bani Hanifah. Sikapnya yang obsesif terhadap kekuasaan itulah yang membuat Rasulullah pernah menjulukinya ”Al-Kadzab”.

Musailamah akhirnya mendeklarasikan kenabiannya secara sepihak di tengah-tengah Bani Hanifah. Menurut At-Thabari dalam kitab “Ar-Rusul wal-Muluk”, Nabi Muhammad pernah mengutus Rijal Ibnu Unfuwah agar memberikan pelajaran mengenai Islam di kalangan Bani Hanifah. Padahal, Ibnu Unfuwah tergolong cerdas dan cendekia di kalangan para sahabat Nabi, namun kemudian ia disuap dan terprovokasi oleh ajaran-ajaran Musailamah, sampai kemudian ia pun mengakui kenabian Musailamah.

Sikap Obsesif

Setelah klaim kenabiannya diterima di tengah kaumnya, rasa percaya diri Musailamah kian bertambah. Semakin menjadi-jadilah sikap fanatik dan kesesatannya, hingga ia berani mengklaim wilayah Yamamah (Bani Hanifah) sebagai pusat kiblat di samping Ka’bah di Masjidil Haram.

Sebagian penduduk Yamamah sangat mengagumi sajak-sajak yang dikarang Musailamah, seakan menjadi tandingan bagi wahyu ilahi dan ayat-ayat Al-Quran. Mereka begitu fanatik dan bangga diri, bahwa putera daerahnya ada yang diangkat menjadi Rasul, sebagaimana putera dari keluarga Mudhar (Bani Hasyim). Jadi, pengakuan kenabian terhadap Musailamah sangat dipengaruhi oleh klan dan fanatisme kabilah.

Untuk mengukuhkan posisinya, Musailamah menikahi seorang wanita dari Bani Tamim, suatu kabilah besar di Jazirah Arab. Wanita itu bernama Sajah binti Harits at-Tamimiyah. Bahkan, wanita ini pun mengklaim dirinya sebagai utusan yang menerima wahyu Tuhan, hingga bersatulah dua kelompok dari kabilah besar, yang mengusung fanatisme kesukuan, sampai kemudian kekuatan ini berani menentang kekhalifahan Abu Bakar di Madinah.

Ketika Rasulullah wafat di usia 63 tahun, Musailamah terus memproklamirkan kekuasaannya. Ia berhasil memukul mundur pasukan yang dikirim Abu Bakar as-Shiddiq, di bawah pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal. Namun, ketika Ikrimah akan membawa pasukannya menuju Madinah, ia meminta nasihat dari Khalifah Abu Bakar, sampai kemudian Sang Khalifah mengirim surat, agar Ikrimah tetap optimistis dan bertahan di medan perang. Jangan kembali ke Madinah yang dapat menurunkan semangat dan moral pasukannya, tetapi tunggulah di tempat sampai pasukan Khalid bin Walid segera bergabung bersama mereka.

Di Yamamah, Musailimah mendengar kabar akan datangnya pasukan Khalid, hingga ia pun memberi motivasi kepada para pasukannya di daerah Aqriba. Seorang putera Musailamah yang diangkat menjadi panglima, Syurahbil bin Musailamah ikut menyemangati pasukan ayahnya dengan kata-kata:

“Bertempurlah untuk membela keluarga, anak-anak dan istri-istri kalian!”

Dengan jumlah pasukan yang sangat besar, sekitar 100.000 orang, Musailamah dan anaknya tampil dengan penuh percaya diri, sedangkan pasukan muslimin hanya berjumlah 12.000 personil, dengan bendera kaum Muhajirin di tangan Abu Hudzaifah, sedangkan bendera kaum Anshar dipegang oleh Tsabit bin Qais. Di awal pertempuran itu, pasukan Musailamah merangsek dan memorak-porandakan pasukan kaum muslimin, hingga mereka berhasil berhadap-hadapan dengan Khalid bin Walid. Banyak penghafal Al-Quran yang gugur di medan tempur, bahkan mereka nyaris membunuh istri Khalid bin Walid, sehingga pasukan muslimin menurun secara moril.

Melihat situasi yang amat mengkhawatirkan, saudara Umar bin Khattab, Zaid bin Khattab berteriak lantang: “Wahai para pasukan tempur, buanglah kerisauan kalian! Hadapi musuh dan terus melangkah maju! Allah menyaksikan apa-apa yang terbersit dalam hati kalian, yang kelak akan dibuka secara terang-terangan di hadapan kalian semua!”

Kemudian Zaid berperang tanpa rasa takut dan gentar. Sampai ia berhadap-hadapan dengan Rijal Ibnu Unfuwah, sosok yang pernah mengkhianati amanat Rasulullah. Pedang keduanya saling hantam. Ibnu Unfuwah merangsek maju, ingin menebas batang leher Zaid, namun kemudian Zaid berhasil menghindar seraya membalas dan menghantamkan pedangnya hingga sang lawan terjerembab dan jatuh terhuyung-huyung dari kudanya. Kematian Ibnu Unfuwah kontan menurunkan moral pasukan Musailamah.

Kecamuk Perang Yamamah kian memanas. Deru derap langkah pasukan berpacu dengan kuda-kuda. Teriakan pengobar semangat, amarah, dan jeritan luka menggema di mana-mana. Di kaki, tangan, dan kepala, jasad-jasad terhempas ke bumi berpisah dengan nyawanya. Itulah pemandangan yang terjadi dalam peperangan. Gemerincing dan denting-denting pedang saling menghantam. Desir suara anak panah dan tombak membelah angin. Bagi yang lemah mental akan tergoyahkan. Bagi yang salah niat, akan terasa berat bebannya, meskipun berjuang dengan mengatasnamakan jihad.

Tewasnya Musailamah

Musailimah dan para ajudannya terpojok dan lari menuju suatu kebun kurma yang berpagar tinggi. Kebun sempit itu berjubel oleh sekitar 6.000 pasukan Musailamah yang terbirit-birit menyelamatkan diri. Pasukan Khalid bin Walid mengejar mereka, namun tak mampu memasuki kebun yang berpagar kokoh tersebut. Seketika itu, muncullah usulan nekat dari Al-Barra bin Malik, “Lindungi seluruh tubuhku dengan baju besi, lalu angkat beramai-ramai hingga aku mencapai ketinggian tembok itu, kemudian aku akan melompat untuk segera membuka pintu gerbang dari dalam!”

Sebagian menolak usulan Al-Barra. Mereka khawatir akan keselamatannya. Namun, karena keberanian dan kecerdikannya, serta ketangguhannya dalam bela-diri, usulan itu diterima sang komandan. Setelah ia melompati tembok, Al-Barra sanggup menumpaskan 15 orang yang menjaga pintu gerbang, hingga ia pun berhasil membukanya. Lalu, kebun kurma yang awalnya menjadi benteng pertahanan pengikut Musailimah, kini menjadi kebun kematian bagi pasukannya, bahkan kematian bagi dirinya sendiri. Dalam pertempuran itu, banyak penghafal Quran di kalangan sahabat Nabi yang gugur, di antaranya Salim bin Abu Hudzaifah, juga Zaid bin Khattab, saudara Khalifah Umar bin Khattab.

Sebelum merangsek ke medan tempur, Wahsyi bin Harb mengelus-elus tombaknya, seakan berikrar pada dirinya, “Kalau dengan tombak ini dulu saya hujamkan ke tubuh paman dan sahabat terbaik Rasulullah di Perang Uhud (Hamzah), maka dengan tombak ini saya harus berhasil membunuh penjahat dan musuh Rasulullah yang paling tangguh.” Dengan tekad baja, Wahsyi menyerang Musailamah yang sedang berhadapan dengan Abu Dujanah bin Khirasyah, lalu menghujamkan tombak itu tepat di dada Musailamah hingga jatuh terjerembab dari kudanya.

Tewasnya Musailimah seketika meruntuhkan moral pengikutnya, hingga ribuan pasukan yang tersisa, menyatakan menyerah sambil melemparkan senjatanya. Dalam pertempuran Yamamah itu, diperkirakan tidak kurang dari 21.000 pasukan Musailamah tewas, sedangkan pasukan Khalid bin Walid diperkirakan mencapai 1.200 pasukan. Peristiwa ini selaras dengan prediksi Rasulullah tentang kota kelahiran Musailamah (Najd), dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari: “Di Najd itu tempatnya segala pemberontakan dan fitnah. Dari sana kelak akan lahir para pengikut setan.”

Setelah perang usai, Abu Bakar mengundang Bani Hanifah dan bekas pengikut Musailamah menuju Kota Madinah (Kitab Al-Bidayah Wannihayah oleh Ibnu Katsir). Mereka diminta bercerita tentang kenabian Musailimah. Abu Bakar juga bertanya tentang sajak dan puisi yang pernah ditulis Musailimah, sampai kemudian ia terheran-heran sambil geleng-geleng kepala: “Saya tak habis pikir, bagaimana kalian menganggap kata-kata semacam ini bersumber dari Tuhan? Bagaimana ribuan orang bisa terhipnotis dan tertipu oleh ilusi yang dibuat-buat Musailamah?” ***

Penulis adalah Peneliti dan Dosen di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, penulis prosa dan esai di berbagai media nasional luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.