Menelisik Tradisi Mesianik

oleh -858 Dilihat
cross on star burst
banner 468x60

Oleh: Aquilio Jeane Windy Putra

Tradisi mesianik merupakan tema yang sangat penting dalam Kitab Suci, secara khusus mengenai hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Istilah Mesias sendiri berasal dari kata bahasa Ibrani māšîaḥ yang berarti “yang diurapi”. Secara umum, istilah “yang diurapi” merujuk pada seseorang yang dimandatkan atau menerima mandat, pihak atau agen yang diutus, mesias figur eskatologis yang akan datang pada akhir zaman, dan seseorang yang mempunyai peran sebagai pembebas.

Sementara itu, dalam tradisi Perjanjian Lama istilah “yang diurapi” pada pada awalnya menunjukan gelar fungsional dari para raja, para imam dan para nabi yang menerima pengurapan juga. Tetapi makna dari mesias akhirnya berubah. Dari figur atau sosok historis menjadi figur eskatologis yang menjadi lambang kerinduan atau pengharapan. Hal ini terjadi ketika sistem kerajaan hancur, bangsa Israel dijajah, sehingga Israel kehilangan simbol politik dan religiusnya. Kemudian, Perjanjian Baru menafsirkan ulang tradisi ini sehingga komunitas Gereja Perdana percaya dan mengimani bahwa Yesus dari Nazaret adalah “yang diurapi”, Kristus, Mesias yang dinantikan.

Melalui tulisan sederhana ini, penulis hendak menguraikan mengenai perkembangan dan hubungan tradisi mesianik dalam Perjanjian Lama hingga pada Perjanjian Baru, serta kebaruan konsep Mesias. Penulis juga berharap bahwa goresan sederhana ini dapat menemai para pembaca yang budiman dalam memaknai masa Paskah ini.

Konsep Mesianitas Yesus antara PL dan PB

Jembatan dalam memahami mesianitas antara perjanjian lama (PL) dan perjanjian baru (PB) adalah tiga konsep yang melekat pada mesias yaitu imam, nabi dan raja. Konsep mesias rupanya ada dalam Perjanjian Lama dan mempunyai hubungan erat dengan Yesus. Hubungan ini disebut tipologis mesias karena selain Yesus, ada tokoh Perjanjian Lama yang mempunyai ciri atau tipe mesianik, seperti Adam, Melkisedek, Musa dan Daud. Mereka juga memiliki ketiga fungsi sekaligus, misalnya Musa tidak hanya sebagai nabi, tapi sebagai imam (pengantara antara Allah dan orang Israel) dan raja untuk memimpin mereka keluar dari Mesir (Kreider, 2019, hlm.1). Adapun fungsi dari jabatan tersebut adalah sebagai berikut.

Nabi

Nabi adalah orang yang berbicara atas nama Allah kepada umat-Nya dan juga kepada orang yang tidak percaya. Ciri kenabian ini juga terdapat dalam diri Musa; bahkan, Musa menjadi standar bagi para nabi lainnya karena nubuat dan Perjanjian Lama memperoleh norma atau acuannya melalui kehidupan Musa. Hubungan Musa antara dengan Yesus terdapat dalam tugas mereka sebagai orang yang berbicara atas nama Allah. Bahwasannya, Allah akan berbicara melalui Anak-Nya (Ibr. 1:1-2) (Kreider, 2019, hlm. 2).

Imam

Imam mempunyai tugas sebagai pengantara antara Allah dan manusia. Ia mengantara berkat Allah kepada ciptaan. Dalam Ul.28:1-11 dijelaskan bahwa melalui imam, Tuhan berjanji memberkati umat, binatang dan tanah bangsa Israel. Imam pertama adalah Melkisedek yang imamatnya jauh beberapa generasi sebelum imamat Lewi. Hubungan Yesus dengan imamat dalam Perjanjian Lama dapat dilihat dalam mazmur Daud, bahwa Mesias akan menjadi imam untuk selama-lamanya menurut imamat Melkisedek (Mzm. 110) (Kreider, 2019, hlm.3).

Raja

Pada umumnya raja menguasai wilayah atau bangsa. Raja identik dengan kepemimpinan menggunakan tangan besi dan bersarungkan pedang karena mempertahankan wilayahnya dan berguna mengusir penjajah. Dalam Perjanjian Lama, Melkisedek adalah raja pertama dalam kisah Kitab Suci (Kej. 14:18), Saul adalah raja pertama Israel dan Daud adalah raja dimana Allah berkenan (2 Sam. 7:16). Dalam hubungan dengan Yesus, Kaiser mencatat bahwa penggunaan istilah mesias dalam Perjanjian Lama mengacu pada mesias (seorang yang diurapi) yang datang di masa depan dan dari keturunan Daud (bdk. 1 Sam. 2:10, 35) (Kreider, 2019, hlm.3-4).

Kebaruan Mesianitas: Mesias yang menderita

Kebaruan mesianik dalam diri Yesus sudah ada sebelum ia lahir dari Sang Perawan. Sebab kedatangan-Nya sudah diramalkan oleh para nabi dan disampaikan secara tersirat oleh Gabriel kepada Maria, bahwa Ia adalah Anak Allah, Allah yang menyertai umat-Nya dan menggenapi janji sebagai imam, nabi dan raja sampai kekal. Perlu diketahui bahwa meskipun tokoh Musa, Melkisedek dan Daud mempunyai tiga tugas ini, tetapi Yesus lebih besar Musa sang nabi agung (Ibr. 1:5-14). Yesus adalah imam besar yang Agung karena ia tidak berdosa (Ibr. 4:5) dan Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai korban pelunas dosa dan korban keselamatan. Kurban yang Ia persembahkan terjadi hanya sekali dan untuk selama-lamanya (Ibr. 10:10-12). Ia juga lebih besar dari pada Melkisedek karena Ia adalah Anak Allah dan imamat-Nya jauh lebih unggul dan sempurna (Ibr. 7:1-22) (Kreider, 2019, hlm.11-12).

Model kemesiasan Yesus adalah mesias eskatologis bukan mesias politis atau duniawi yang bisa menyelamatkan bangsa Israel dari penjajahan Romawi. Ia tidak memerintah dengan tangan besi atau bersarungkan pedang seperti layaknya Daud, bapa leluhurnya atau seperti harapan orang Israel pada saat itu. Tetapi mesias dengan cinta kasih. Ia adalah Mesias yang menderita, wafat, dan bangkit.

Dalam tipologi mesianik (kisah Adam, Melkisedek, Musa, dan Daud) menunjuk pada kedatangan Imanuel, yang adalah Adam terakhir, Imam seperti Melkisedek, Nabi seperti Musa, dan Anak Daud karena Ia adalah Anak Manusia sekaligus Anak Allah. Pada akhirnya, nabi-nabi yang ada sebelum Yesus hanyalah tipe atau bayangan mesias yang akan menggenapinya secara sempurna dan lengkap ketika Allah sendiri yang berinkarnasi menjadi manusia (Kreider, 2019, hlm.12-13).

Catatan akhir

Tradisi mesianik yang sudah kita lihat bersama menampilkan perkembangan konsep mesias dalam Perjanjian Lama hingga pada Perjanjian Baru. Dari figur mesias historis menjadi figur eskatologis. Harapan bangsa Israel akan figur mesias yang akan datang pada akhir zaman terpenuhi dalam diri Yesus. Yesus bukan datang sebagai mesias politik dengan tangan besi atau senjata yang membebaskan manusia dari belenggu kekuasaan, tetapi mesias yang menderita, mengorbankan diri, membebaskan manusia dari belenggu dosa dan kematian, serta membawa keselamatan universal bagi semua orang.

Dengan demikian, memahami perkembangan konsep mesias, kita semua diajak untuk berharap akan kedatangan mesias dan memaknai penantian akan kedatangan-Nya dengan hati yang terbuka.

Sumber bacaan: Kreider, Glenn R. “Jesus the Messiah as Prophet, Priest, and King.” Bibliotheca Sacra 176, no. 702 (April-Juni 2019): 1-13.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.