Melihat Wajah Pendidikan melalui Aktivitas Membaca dan Menulis

oleh -180 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Fransiskus Xaverius Ahoinnai

Pendidikan adalah proses sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi diri seseorang melalui pembelajaran, baik secara formal, nonformal, maupun informal, sehingga individu mampu memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang berguna dalam kehidupan. Pendidikan tidak hanya tentang memperoleh nilai atau gelar, tetapi juga tentang membentuk cara berpikir, sikap dan karakter yang baik. Bagi saya, pendidikan yang baik adalah yang mampu memberi peluang hidup yang lebih luas bagi setiap pelajar, agar mampu mengambil keputusan dengan bijak, serta berkontribusi secara positif dalam masyarakat. Oleh karena itu, Pendidikan seharusnya tidak dianggap sebagai kewajiban semata melainkan sebagai kebutuhan yang harus terus dikembangkan sepanjang hayat.

Salah satu instrumen untuk mewujudkan pendidikan adalah membaca. Membaca adalah kebiasaan sederhana yang memiliki dampak besar dalam kehidupan seseorang. Dengan membaca, kita bisa menambah pengetahuan, memperluas wawasan, dan melatih cara berpikir menjadi lebih kritis. Selan itu, membaca bisa juga membantu kita memahami berbagai sudut pandang tanpa harus mengalami semuanya secara langsung. Melihat keunggulannya, membaca seharusnya menjadi kebiasaan yang ditanamkan sejak dini dan dilakukan secara konsisten.

Berdasarkan kajian empris dari penelitian yang dilakukan terakit membaca. Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) menempati posisi terakhir dalam ranah pendidikan terkait membaca dan menulis (literasi). Ada banyak siswa SD dan SMP, bahkan mahasiswa di perguruan tinggi yang belum lancar. membaca. Berdasarkan indeks literasi di NTT untuk tingat SMA tahun 2024 kategori paling rendah tidak tau membaca adalah 24,15 persen. Hal ini disebabkan oleh kuranganya minat membaca buku. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena pun mengakui, ada anak kuliahan yang kemampuan membaca dan menulisnya tidak baik-baik saja. Itulah infomasi yang saya dapatkan di Kompas. Seharusnya kemampuan membaca dan menulis ini sudah dikuasai sejak menempati bangku SD, namun apa yang terjadi dengan pelajar kita hari ini?.

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi masyarakat NTT menjadi kurang minat dalam membaca. Antara lain; kurangnya akses ke buku atau bahan bacaan yang menarik, kurangnya kebiasaan membaca sejak kecil, dan juga lingkungan yang tidak mendukung untuk melakukan ativitas membaca (misalnya rumah tidak ada buku), dan juga faktor perkembangan zaman yang mana waktu dihabiskan untuk bermain game dan menonton. Apalagi di zaman yang serba teknologi ini, masyarakat lebih mengutamakan dan menghabiskan waktu hanya untuk mengetik dan mempersiapkan konten. Sikap seperti inilah yang akan membuat masyarakat terlena dan melupakan pentingnya membaca buku.

Rendahnya minat membaca dan menulis pada siswa merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Membaca dan menulis bukan hanya sekadar kegiatan akademik di sekolah, tetapi juga merupakan keterampilan dasar yang sangat penting dalam membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, serta membantu siswa mengekspresikan ide dan gagasan mereka. Ketika siswa memiliki minat yang rendah terhadap kedua kegiatan ini, maka proses belajar mereka juga akan terhambat dan kemampuan berpikir kritis pun menjadi kurang berkembang.

Rendahnya minat membaca bukanlah masalah yang bisa dibiarkan begitu saja, karena hal ini akan berdampak pada kualitas pengetahuan dan masa depan generasi kita. Namun kondisi ini bukan akhir dari segalanya, justru menjadi panggilan bagi kita untuk mulai berubah. Mari kita bangun kesadaran bahwa membaca adalah kunci untuk membuka wawasan dan meraih peluang yang lebih baik. Mulailah dengan langkah kecil, seperti meluangkan waktu setiap hari untuk membaca buku, dan ajak orang-orang di sekitar kita untuk melakukan hal yang sama. Dengan kemauan dan usaha bersama, kita dapat keluar dari masalah ini dan menciptakan masyarakat yang lebih cerdas, kritis, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Untuk itu, saya berusaha untuk menganalisis masalah tersebut dengan menggunakan perspektif konservatif yang menurut saya sangat cocok untuk masalah seperti ini. Karena masalah seperti ini tidak hanya berkaitan dengan kemajuan zaman, tetapi juga karena melemahnya tradisi dan nilai-nilai tradisional yang dahulu sebelum adanya teknologi (HP). Hal yang paling awal harus dilakukan adalah dengan membangun peran keluarga dalam mendidik anak-anak untuk gemar membaca. Membangun kebiasaan membaca, sehingga anak akan mengenal banyaknya kosa kata, dan melatih kemampuan mereka dalam menulis. Dandi melakukan pengadaan buku di rumah supaya anak lebih mudah dan terbiasa membaca buku. Aktivitas ini merupakan langkah awal dan sangat penting dalam pendidikan mereka.

Solusi lain yang ingin ditwarkan adalah pelestarian nilai budaya dan tradisi membaca perlu di perkuat lagi dalam keluarga dan masyarakat. Seperti apa yang harus dilakukan ? membaca cerita-cerita rakyat kisah toko bangsa dan lain-lain, membaca kisah-kisah tersebut anak bukan hanya meningkatkan kemampuan literasi tetapi juga belajar untuk mengenal dan menghargai budaya, dan sejarah serta dengan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh setiap generasi sebelumnya.

Dengan adanya upaya yang dilakukan secara bersama-sama, diharapkan minat membaca dan menulis pada siswa dapat meningkat. Jika siswa memiliki kebiasaan membaca dan menulis yang baik, maka mereka akan lebih mudah memperoleh pengetahuan, mengembangkan kemampuan berpikir, serta mampu menyampaikan ide dan gagasan secara lebih terstruktur. Hal ini tentu akan memberikan dampak positif bagi perkembangan pendidikan dan masa depan generasi muda. Menuju Indonesia emas di tahun 2045.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.