Melejitnya Kecerdasan Sastrawan Milenial Kita

oleh -1596 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Enzen Okta Rifa’i, Lc.

Banyak para penulis muda yang merasa kecewa dengan kinerja media dan penerbitan Indonesia yang dinilai eksklusif. Tidak jarang mereka menyatakan diri menyerah, yang berarti impuls mereka untuk menulis, untuk mengekspresikan diri, untuk menjadi kreatif, telah dihancurkan oleh hasrat mereka untuk meraih ketenaran dan popularitas sebagai penulis.

Menurut mereka, sepertinya sulit menekuni dunia penulisan tanpa ada validasi eksternal. Tidak jarang penulis wanita yang mengaku menangis sesenggukan di dalam kamar, karena berkali-kali karya mereka telah ditolak penerbit. Dengan itu, saya dapat memahami bahwa pernyataan mereka untuk “menyerah” adalah respon yang cukup logis. Tetapi, saya tetap memberi motivasi kepada para penulis muda, bahwa menulis itu adalah upaya untuk mengelola hidup, memberikan tujuan kreatif, ketimbang hanya berpasrah pada kepentingan komersil maupun popularitas semata.

Kadang mereka juga diganggu oleh pendapat sebagian media yang mengompori, serta menonjolkan para penulis usia dini yang cepat meraih tangga-tangga kesuksesan. Memang banyak penghargaan yang diberikan khusus bagi penulis yang berusia di bawah 40-an, atau di bawah 30-an, hingga terpaku pada pandangan bahwa pada usia sekian seorang penulis harus sudah berhasil. Kesan seperti itu mengindikasikan, bahwa sosok Pramoedya Ananta Toer dengan Tetralogi Buru-nya yang baru dibaca masyarakat Indonesia selepas dari Pulau Buru, serta baru dikenal luas saat usianya di atas 60-an, akan dianggap “terlambat” memulai karirnya sebagai penulis.

Secara pribadi, saya memang lebih menyukai cerpen ketimbang jenis sastra lainnya. Saya telah mengarungi karya-karya besar dunia, seperti Edgar Allan Poe, Chekhov, Tolstoy, Dostoyevski, Steinbeck, dan sebagian besar karya-karya peraih nobel di bidang kesusastraan.

Dalam sejarahnya, memang cerita pendek sudah ada sejak puluhan abad silam. Di era kenabian Muhammad, perjalanan pengembaraan Salman Al-Farisi dari Iran, melintasi beberapa negara hingga menjumpai Rasulullah, juga dituturkan dalam bentuk oral history, kemudian dituliskan oleh Ibnu Abbas dalam bentuk cerita pendek.

Melalui cerita pendek, pesan dan hikmah yang disampaikan cukup simpel dan ringkas, hanya membutuhkan waktu beberapa menit dalam sekali baca. Memang, yang tidak kalah berjasa dalam membuka pintu kesempatan, sebenarnya adalah pihak penerbit. Sebab, hanya akan ada pembaca, apabila ada buku-buku cerita yang diterbitkan.

Bagi generasi milenial yang memiliki pekerjaan lain yang menghasilkan uang, tetapi tekun membiayai dirinya untuk tetap menulis, bagi saya itu pilihan yang bagus dan tepat, di negeri yang sangat minim keuangan dalam alokasi kebudayaan maupun perbukuan ini. Ketahuilah, hidup dari menulis itu susah. Dan Anda harus punya prinsip untuk menjalankan pola hidup laiknya kaum sufi maupun santo, jika Anda hanya mengandalkan penghasilan dari pekerjaan menulis.

Untuk membahas bagaimana menulis yang baik memang tidak mudah, tetapi cerita-cerita terbaik sangat mudah untuk dijumpai dan dikenali. Mereka hadir dalam bentuknya yang padat dan utuh. Nyaris tidak ada satu kalimat, bahkan satu kata pun yang boleh dilewatkan. Saat selesai menikmatinya, akan terpancar senyum kebahagiaan, karena pembaca berhasil menemukan satu atau dua hal yang dapat diresapi secara memuaskan. Itulah salah satu keindahan cerita pendek, karena tidak bertele-tele, sederhana, dan biasanya pembaca bisa langsung merefleksikan hidupnya di sana.

Memang, proses menulis di era digital ini identik dengan hal-hal praktis yang bersifat transitoris belaka. Sebagian karena akses teknologi yang semakin marak, dan karenanya semakin banyak penulis tidak memperdulikan craft dari penulisan sebuah cerita. Selain itu, saya agak khawatir dengan jenis cerpen yang sengaja menyuarakan pesan-pesan politik secara vulgar, namun mudah terhempas oleh pasang surutnya zaman. Keindahan bahasa serta alur cerita seakan dapat mudah teredam oleh pesan-pesan sponsor dari kepentingan politik partai tertentu, yang bersifat instan dan dangkal.

Banyak cerita pendek diterbitkan di era digital ini, ditulis dengan terburu-buru. Seakan didesain untuk memenuhi tuntutan plot, padahal ruh dan jiwa dari sebuah cerita terletak pada rangkaian kalimat di dalamnya. Para penulis harus mahir mengelola pemilahan kata dan kalimat yang akan ditampilkan, serta mampu mengobservasi dunia dengan cara yang fresh dan lapang hati.

Namun akhir-akhir ini, nampaknya banyak penerbit lebih condong menerbitkan novel ketimbang cerita pendek. Untuk itu, banyak penulis cerpen milenial yang ditawarkan agar mengembangkan cerpennya menjadi sebuah novel. Padahal, novel dan cerpen adalah dua format yang sangat berbeda. Pengusaha penerbitan gampang saja menyimpulkan, bahwa para cerpenis pasti akan mudah menghasilkan novel, karena dianggap sama-sama menulis cerita. Tetapi, tidak semudah itu kenyataannya. Beberapa penulis memang handal menulis cerpen, sementara penulis lainnya mahir menuliskan ceritanya dalam bentuk novel.

Secara pribadi, saya suka membaca puisi maupun novel, tetapi saya merasa bersyukur telah banyak diilhami oleh para penulis milenial yang banyak menyuguhkan cerpen-cerpen menarik akhir-akhir ini, baik yang diterbitkan media cetak maupun media daring. Mereka seakan terpacu untuk saling berbagi cerita, sebagai amal-amal jariyah yang akan terus dikenang dalam keabadian. Sebab, karya-karya terbaik memang tak mudah terlupakan, dan ia takkan lekang dimakan waktu, serta tak lapuk ditelan zaman. (*)

Penulis adalah alumnus International University of Africa, Republik Sudan, juga penulis esai dan kritik sastra di berbagai platform daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.