Meja Makan dan Wajah Dialog di Asia

oleh -349 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yoseph L. Kaku Wally

Setiap dari kita tentunya akrab dengan meja makan. Mungkin ada yang mengenangnya sebagai tempat berkumpul selepas beraktivitas. Ada pula yang mengingat kisah-kisah lucu, atau juga berbagai nasehat yang mengalir dari mulut orang tua, sembari menikmati hidangan makan malam bersama. Meja makan selalu punya caranya sendiri untuk menyatukan setiap orang yang berdiam bersama dalam satu atap. Di sanalah kabar tentang dunia luar hingga rencana-rencana kecil untuk hari esok saling dipertukarkan. Tanpa tersadar, kehidupan keluarga bertumbuh dari situ. Lalu bagaimana keadaan meja makan keluarga hari ini?

Keadaan meja tetap sama. Di atasnya masih tersedia makanan berbagai rupa, dan semua orang duduk di posisi mereka masing-masing. Namun di saat yang sama, layar telepon genggam ikut nimbrung di sana, dengan ocehan notifikasinya yang menarik fokus. Jari-jari sibuk menelusuri berbagai informasi, berlompatan kesana kemari mencari manakah yang viral. Percakapan di meja makan berlangsung dalam durasi yang semakin pendek dan berfokus pada hal-hal yang penting saja. Suasana hening perlahan menjadi teman karib di sana.

Perkembangan dunia kini yang berlangsung dalam fenomen globalisasi menawarkan kemudahan untuk terhubung dengan siapa saja. dalam hitungan detik, seseorang dapat berbicara dengan temannya yang berada di kota lain, bahkan negara lain sekaligus. Tentunya hal ini membawa banyak manfaat. Namun di tengah keterhubungan yang semakin luas itu, ruang percakapan dalam keluarga justru mengalami penyempitan. Kehadiran fisik tidak lagi menjamin terselenggaranya perhatian. Orang-orang dapat duduk berdekatan tanpa sungguh-sungguh saling mendengarkan.

Di tengah kenyataan itu, terbesit satu pertanyaan yang layak untuk direnungkan, yakni apakah rumah masih layak disebut rumah, ketika rasa nyaman yang melekat padanya telah memudar? Setiap anggota keluarga menyimpan pengalaman, harapan, kecemasan, dan pergumulannya masing-masing. Semuanya itu membutuhkan ruang untuk diungkapkan dan didengarkan. Ketika semua hal yang mengganjal tersebut dibalas dengan perhatian yang tulus dan hangat, maka rumah akan selalu menjadi tempat pulang paling dirindukan oleh setiap orang yang tinggal di dalamnya.

Pertanyaan serupa ternyata pernah diangkat dalam refleksi Gereja Katolik di Asia. Pada tahun 2004, para uskup yang tergabung dalam konferensi para uskup se-Asia (FABC) menerbitkan dokumen yang berjudul The Asian Family Towards A Culture Of Life And Love. Hadirnya dokumen ini dimaksudkan untuk menegaskan pentingnya keluarga sebagai unit pembentuk seorang manusia mula-mula dalam masyarakat.

Pandangan ini lahir dari sebuah keyakinan akan kehadiran Allah dalam denyut nadi kehidupan sehari-hari (ecclesia domestica). Kehadiran-Nya ini dapat dilihat dari perhatian dan kasih seorang ibu, langkah seorang ayah yang pulang dari kerjanya, tawa anak-anak yang memenuhi rumah, serta berwujud dalam berbagai kepedulian lain yang menghidupkan relasi antar manusia.

Sistem kekeluargaan dalam masyarakat Asia menduduki posisi istimewa karena semangat kolektivitas yang sangat kental di dalamnya. Setiap orang dibentuk agar memiliki hormat dan kasih terhadap orang tua, saudara-saudari, maupun sesama di sekitar. Nilai-nilai tersebut melahirkan cara pandang yang menekankan kebersamaan, kepedulian, serta tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman-pengalaman kecil yang terus dibiasakan dalam lingkaran keluarga inilah yang menjadi landasan bagi berkembangnya dialog dalam masyarakat Asia. Maka ketika para uskup berbicara mengenai dialog dengan budaya, dengan kehidupan, dan juga dengan mereka yang mengalami kesulitan hidup, sesungguhnya gagasan tersebut sudah berakar dalam diri setiap orang. Oleh karena itu, keluarga menjadi ruang pertama tempat seseorang belajar memahami orang lain, serta bagaimana caranya membangun relasi yang sehat dengan sesama.

Barangkali itulah sebabnya meja makan memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada yang terlihat. Meja makan menjadi tempat dimana keluarga belajar untuk berdialog. Setiap dari mereka saling bertanya tentang pengalaman pribadi mereka, saling mendengar, serta saling memahami. Dari kebiasaan sederhana itulah bertumbuh rasa saling memiliki dan rasa kebersamaan yang menguatkan seluruh anggota keluarga.

Kehangatan relasi yang terpelihara dalam keluarga kemudian menjadi dasar penting bagi terbentuknya kehidupan masyarakat yang lebih manusiawi. Ketika rumah menjadi tempat yang menghadirkan perhatian, penghargaan, dan kasih sayang, maka setiap anggota keluarga akan menemukan ruang untuk bertumbuh. Di dalam suasana seperti itulah nilai-nilai kemanusiaan diwariskan dari generasi ke generasi, dan di sanalah Allah terus berkarya melalui kehidupan yang dijalani bersama setiap hari.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.