Oleh: Sixtus Junior Faon
Di tengah tegangnya tekanan geopolitik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah, opsi konflik bersenjata merupakan jalan keluar yang pragmatis ketika diplomasi tidak berjalan dengan baik. Konflik bersenjata yang terus berlangsung menjadi “mimpi buruk” bagi warga sipil yang cenderung menerima dampaknnya, baik itu berupa penindasan, kelaparan, pembatasan bantuan, maupun pembunuhan. Fakta ketertindasan para korban perang tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana keterlibatan kita sebagai warga global di sisi para korban.
Kurangnya kepedulian terhadap korban bermula dari cara pandang yang belum benar-benar menghargai martabat manusia. Di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, cara pandang yang belum menyentuh martabat manusia tampak ketika seseorang atau sekelompok orang memilih untuk mendukung salah satu pihak dari negara-negara yang terlibat dalam peperangan. Keberpihakan pada sala satu negara tentu semakin memperparah posisi korban sipil yang mengalami penindasan karena peperangan yang berkepanjangan.
Teologi Perjuangan Filipina sebagai Model Kepedulian
Upaya untuk terlibat di sisi korban telah lama digaungkan melalui Teologi perjuangan Filipina dengan ciri khasnya, yakni “berteologi dari bawah.” Kata “bawah” merujuk pada pengalaman buruh yang dieksploitasi, para petani yang kehilangan tanahnya, suku-suku yang terusir dari tanah leluhur mereka, dan pembunuhan oleh rezim diktator Ferdinand Marcos. Teologi perjuangan lahir dari dalam penderitaan-penderitaan tersebut dengan model keterlibatan langsung, untuk menyuarakan tentang martabat luhur para petani dan kaum miskin yang tertindas.
Teologi perjuangan merupakan ungkapan Gereja yang turut “terluka” atau merasakan penderitaan korban, Gereja yang militan, dan Gereja yang berjalan bersama para korban untuk menyerukan keadilan bagi setiap orang tanpa pandang status. Teologi perjuangan mengungkapkan bahwa agama tidak hanya berbicara mengenai hal-hal spiritual semata, melainkan juga turut terlibat di sisi korban penindasan yang dialami oleh warga Filipina pada era kediktatoran Marcos.
Era kediktatoran Marcos tentu berebeda dengan peperangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah belakangan ini, namun model keterlibatan di sisi korban yang dipraktikan melalui Teologi perjuangan relevan untuk diterapkan dalam konteks Timur Tengah. Meneropong dari kacamata Teologi perjuangan Filipina, para korban peperangan di Timur Tengah dapat digolongkan sebagai “kaum tertindas modern” yang mengalami penindasan fisik dan psikis.
Kekerasan, kehilangan rumah dan tanah, trauma, dan kelaparan merupakan pengalaman ketertindasan yang dialami para korban peperangan di Timur Tengah sampai saat ini. Dengan ciri khas “berteologi dari bawah,” Teologi perjuangan menuntut keterlibatan aktif sebagai warga global dengan berakar dan bertumbuh dari pengalaman langsung korban yang mengalami tragisnya peperangan. Teologi perjuangan menyadari sifat jangka panjang dari perjuangan, namun mengambil sikap aktif terhadap penderitaan harus terus-menerus diprioritaskan.
Melalui kerangka Teologi perjuangan setiap orang dituntut berdasarkan kemanusiaan untuk turut hadir di tengah penderitaan, merasakan yang dirasakan oleh para korban peperangan, dan menyerukan ketidakadilan dari perspektif korban. Setiap orang dituntut untuk bergerak dari “bawah” bersama para korban, bukan secara langsung dengan mengokang senjata, melainkan secara imagine. Imajinasi di sisi korban tersebut hendaknya direalisasikan dengan tak henti-hentinya menyuarakan ketertindasan korban, sebab dalam situasi tersebut kemanusiaan adalah segalanya.
Keterlibatan Berkerangkakan Sistem Kekerabatan
Meskipun berada jauh di Nusa Tenggara Timur (NTT), keterlibatan di sisi korban peperangan merupakan seruan kemanusiaan bagi seluruh masyarakat NTT. Masyarakat NTT sejak dahulu telah dididik dengan basis solidaritas kultural yang masif, hal tersebut tampak dalam bentuk praktik hidup dengan semangat gotong royong intra suku dan lintas suku. Pola hidup komunalitas masyarakat NTT mengandaikan bahwa pribadi seseorang ditentukan oleh kelompoknya. Hal tersebut dengan sendirinya mengandung aspek kesolideran yang masif dalam sistem kekerabatan masyarakat NTT.
Berhadapan dengan isu peperangan yang menyeruak melalui media-media, baik itu elektronik maupun cetak, masyarakat NTT yang berjauhan dengan lokasi konflik harus bersikap aktif berlandaskan semangat kemanusiaan. Sistem kekerabatan tersebut hendaknya dijadikan sebagai model kepedulian global terhadap para korban peperangan. Setiap orang NTT harus membentuk kesadaran bahwa setiap orang yang menjadi korban peperangan adalah kerabat dalam kemanusiaan, maka itu kepedulian aktif perlu diupayakan.
Keterlibatan aktif dalam hal tersebut dapat diupayakan dengan membentuk forum-forum khusus untuk menyuarakan penindasan yang dialami para korban peperangan di Timur Tengah. Masyarakat NTT perlu terus-menerus menyuarakan tentang posisi korban yang tertindas dan pentingnya menjaga martabat manusia korban. Diskusi yang diadakan di kampus-kampus dan di sela-sela pekerjaan hendaknya tak henti-henti menyuarakan penindasan yang dialami korban peperangan sebagai sesama kerabat global.
Upaya-upaya tersebut merupakan bentuk nyata penerapan sistem kekerabatan masyarakat NTT yang peduli pada tingkat global. Melalui kerangka Teologi perjuangan dan sistem kekerabatan di NTT, masyarakat di NTT tidak dituntun untuk berpihak pada negara-negara yang kuat, maupun negara-negara yang memiliki kesamaan keyakinan. Yang terpenting bukanlah pihak mana yang memenagkan peperangan, melainkan berapa banyak korban yang menderita.
Terlibat bersama korban berarti turut merasakan penindasan yang mereka alami melalui diskusi-diskusi di jalan-jalan, Mall, Pasar, maupun diskusi-diskusi formal yang tak henti-hentinya meyuarakan penderitaan korban. Peperangan pasti mereda namun tidak begitu mudah bagi para korban untuk melupakan peristiwa traumatik tersebut. Keterlibatan yang sejati ialah keterlibatan untuk menyuarakan kemanusiaan, sebab martabat manusia tidak bisa digantikan dengan apa pun.
Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Ilmu Filsafat, Unversitas Katolik Widya Mandira Kupang







