Oleh: KH Achmad Faisal Hadziq
Saat ini kita memperkenalkan banyak wilayah di seantero Indonesia yang sedang mem- branding diri, dengan sebutan “Kota Batik”, “Smart City” atau “Paris van Java” dan lain-lain. Tetapi, bila slogan-slogan yang diciptakan tidak membuktikan janji merek yang menjanjikan, atau penerusnya tidak konsekuen menjalankan khittah dari perintis dan pendahulunya, tidak menutup kemungkinan menjadi bumerang yang akan menjatuhkan citra dari pemangku otoritas yang harus ditepati dan dilestarikan.
Di daerah Banten misalnya, terdapat kota dan kabupaten yang menamakan diri “Beriman”, “Bertaqwa” atau “Bertauhid”. Namun bila tidak sesuai dengan misi Tauhid yang diajarkan Islam, tetapi berpijak pada mitos tradisional, takhayul dan khurafat, tidak menutup kemungkinan sunnatullah akan berlaku bagi siapapun yang menyimpang dari rel-rel keimanan yang baik dan benar.
Terakit dengan itu, brand atau nama besar yang cukup ramai diperbincangkan dalam khazanah keislaman dan kepesantrenan (khususnya di Banten) tak lain dari sosok pejuang dan pembaharu pendidikan pesantren, yakni KH Ahmad Rifa’i Arief. Maka dari itu, kita bisa memahami ketika beberapa organisasi dan lembaga pendidikan mengusulkan nama “Rifa’i Arief” menjadi salah satu nama penting untuk jalan protokol di provinsi Banten.
Selepas dari pesantren Gontor, sosok Kiai Rifa’i Arief pernah diangkat menjadi sekretaris pribadi KH Imam Zarkasyi selaku pendiri pesantren modern pertama di Indonesia. Pengalaman organisasi dan kepemimpinan pernah disandangnya ketika ia terpilih menjadi Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Gontor.
Dalam buku Filsafat Hidup KH Ahmad Rifa’i Arief (2012) diuraikan bahwa Kiai Rifa’i adalah sosok pejuang pendidikan yang bercita-cita tinggi, visioner dan berkemauan keras, namun ia selalu berdoa luwes dan sabar dalam mencapai cita-cita tersebut. Jejak-langkah yang ia tempuh untuk membangun pesantren modern bukanlah suatu jalan mulus yang tanpa rintangan dan hambatan. Di satu sisi, ia diisi sebagai penganut paham NU yang ortodoks, di sisi lain ia pun dijadikan sebagai penggerak Muhammadiyah yang seolah-olah mengubah teks-teks Islam menjadi keinggris-inggrisan.
Dalam menghadapi kekakuan masyarakat konservatif yang menuduhnya “kebarat-baratan” ia pun menunjukkan loyalitasnya untuk membantu kepentingan masyarakat pedesaan. Ia pun memahami pihak-pihak tertentu yang menuduhnya sebagai penganut Arab Wahabi, yang seolah-olah akan memindahkan Ka’bah di daerah Gintung, Jayanti, Tangerang.
Seiring perjalanan waktu segala tuduhan dan persepsi negatif tentang dirinya telah ditepis perlahan-lahan berkat kematangan ilmu dan pengetahuannya tentang organisasi dan kepemimpinan. Mentalitas dan jiwa kepemimpinan sudah berbekal dari semangat juang yang didukung kedua orang tuanya, Nyai Hindun Mastufah, dan Abah Qashad Mansyur yang merupakan cucu dari Abuya Asnawi Caringin.
Kepercayaan Kiai Zarkasyi mengangkatnya sebagai sekretaris pribadi, semakin mengukuhkan kematangan dirinya di dunia tulis-menulis, hingga ia berkesimpulan bahwa dunia Islam harus dikembangkan melalui literatur keislaman yang elegan dan proporsional. Terlebih lagi, tidak menutup kemungkinan ia mencita-citakan Banten sebagai wilayah perkembangan literasi dan jurnalistik yang membawa misi dan visi yang orisinal tentang keislaman dan keindonesiaan. Di tanah inilah, beberapa abad lalu telah lahir seorang pemikir Islam jenius, sekaligus Imam Masjidil Haram, Syekh Nawawi al-Bantani yang juga merupakan guru dan mursyid dari Abuya Asnawi dan Syekh Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Kiai Rifa’i seakan-akan memahami tentang adanya oligarki di dunia sastra dan media sejak zaman Hindia Belanda. Untuk itu, Banten harus memiliki kekuatan dan energi yang dicita-citakan Rasulullah dalam hal keilmuwan, bukan semata-mata kekuatan otot sebagai jawara dan jawari yang menebar egoisme dan keangkuhan, tetapi kekuatan pena dan literasi. Oleh karena itu, beliau mendirikan pesantren pertamanya dengan nama “Rumah Pena” atau “Rumah Literasi” (Daar el-Qolam), yang kemudian menyusul alumni pesantren-pesantren yang mendapat didikan Kiai Rifa’i dengan nama-nama yang merujuk dari Daar el-Qolam tersebut.
Misalnya pesantren “Daarussa’adah”, “Daar el-Azhar”, Darul Qariin”, termasuk pesantren Al-Bayan yang tak lepas dari koridor literasi yang pernah dicanangkan Kiai Rifa’i, yang berarti penerang atau penjelas dari hal-hal yang memang perlu dijelaskan. Bisa kata “Al-Bayan” juga identik dengan penerang dari jalan kegelapan menuju cahaya (minadzulumati ilannur).
Kiai Rifa’i sendiri mendirikan perguruan tinggi sejak tahun 1993 dengan nama “La Tansa Mashiro” yang berarti “Jangan Lupa Tempat Kembalimu”. Perguruan tinggi ini terus berkembang hingga menjadi Universitas La Tansa Mashiro (Unilam). Kini, ia telah menjadi perguruan tinggi terbesar di wilayah Rangkasbitung, kabupaten Lebak.
Tak bisa dipungkiri, fenomena Kiai Rifa’i Arief, dengan prestasinya yang gemilang, telah banyak mengilhami dan menginspirasi berbagai kalangan masyarakat, tidak hanya di bidang kepesantrenan tetapi juga melampaui bidang keilmuwan lainnya, baik di bidang sastra dan literasi, ekonomi dan budaya, termasuk di bidang politik dan manajemen kenegaraan.
Beliau adalah sang perintis yang merancang pola pendidikan yang berbeda dengan pesantren-pesantren salafi yang lebih dulu berkembang di Banten dan Indonesia, namun tetap menjalin ukhuwah dan silaturahmi yang baik dengan para kiai dan ulama Salafi. Hal senada yang dicetuskan gurunya, Kiai Imam Zarkasyi yang pernah menegaskan bahwa pesantren-pesantren modern di Indonesia tidak boleh menyamakan dirinya dengan kebanyakan pesantren yang mengutamakan figur kiainya.
Tetapi, pesantren modern harus berpegang pada sistem, bukan hanya dari figur pemimpinnya. Barangkali inilah yang menjadi acuan dari branding yang ditawarkan La Tansa maupun Daar el-Qolam, yang kini telah melahirkan generasi baru, baik di bidang intelektual, keulamaan, hingga transformasi spiritual. Bahkan, grup musik Wali Band, suatu korelasi antara seni musik dan nilai-nilai religiusitas, lahir dari pesantren La Tansa, yang Didirikan oleh sang maestro Kiai Rifa’i Arief. ***
Penulis adalah Akademisi dan pengasuh pesantren modern La Tansa 2 di Rangkasbitung, Banten









