Lebih Mencermati Hukum Tarik Menarik

oleh -260 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhari

Law of Attraction (LoA) mengindikasikan manusia punya kekuatan, bahkan punya hak prerogatif untuk mengatur alam semesta ini. Konsekuensinya, keyakinan pada LoA terlampau mengandalkan peran dan ambisi manusia, bahwa proses dapat diatur, bahkan hasilnya pun bisa dicapai sesuai kehendak manusia. Segala sesuatu yang terjadi, baik atau buruk, tergantung pada kehendak dan keinginan manusia. Padahal, mengandalkan kapasitas manusia, serta menganggap bahwa dirinya mampu secara mutlak mengelola energi untuk mengubah nasib hidup, tak lain adalah perbuatan menduakan atau menyekutukan Tuhan.

Manusia dapat mengatur frekuensi dan energi alam semesta, bahkan menarik pintu rizki agar berpihak kepadanya. Akan tetapi, jika fokus pengertian rizki itu hanya soal kelimpahan dan banyak uang, populer atau berkuasa, dapatkah semuanya itu menjamin ketenangan dan kedamaian dalam hidup manusia?

Konsep manifestasi positif yang diajarkan LoA serta digaungkan oleh ribuan pakar dan motivator di era milenial ini, tampak berbeda dengan konsep doa dan usaha dalam agama Abrahamik (baik Kristen maupun Islam). Sementara, konsep LoA dengan segala pengaturan frekuensi dan vibrasinya, mengindikasikan ego dan keangkuhan intelektual, seolah-olah manusia sebagai “makhluk” mampu memiliki kendali penuh atas segala sesuatu. LoA mengajarkan manusia untuk meraih capaian dan hasrat, dengan fokus memikirkan dan membayangkannya, lalu menyelaraskan energi dengan alam semesta.

Terkait dengan obsesi bangsa Israel, terutama kaum Zionis yang gandrung dengan konsep LoA, sebenarnya mereka sudah diperingatkan oleh bapak intelektual mereka sendiri, Albert Einstein, yang ketika mengalami transformasi spiritual di usia senjanya menegaskan: “Segala sesuatu yang dapat terjangkau oleh kekuatan otak, tak boleh sesuka hati untuk dikerjakan semuanya.”

Einstein menekankan adanya rem cakram, atau batasan yang tak boleh dilanggar. Sebab, pada akhirnya kebebasan memberlakukan hukum tarik menarik (LoA), berimplikasi adanya pihak yang menjadi korban atau (dalam istilah Romo Mangunwijaya) “ditumbalkan”. Dan dalam kasus perluasan negeri Israel Raya, pihak yang menjadi korban justru negara-negara Arab, dan lebih parahnya adalah orang-orang terdekat dari penduduk Gaza, baik yang Kristen maupun Islam.

Jadi, yang menjadi tumbal, atau yang mereka korbankan bukan hanya “Sapi Merah” tetapi umat manusia yang sama-sama punya hak untuk hidup dan menempati permukaan bumi ini, yang rizkinya sudah diatur oleh Tuhan, dan tak boleh dirampas dan dijajah semena-mena.

Untuk itu, jika ada bangsa lain diperlakukan semena-mena, kita tak boleh mengandalkan egoisme-nasionalis, apalagi beralasan seolah-olah hanya membela kepentingan dan kedaulatan negeri sendiri. Maskipun, bagi generasi milenial yang maunya serba instan, kadang konsep LoA mengesankan mereka, bahwa manusia seolah-olah mampu dan sanggup sepenuhnya mengendalikan takdir hidupnya.

Menurut mereka, alam semesta ini dipenuhi dengan energi dan frekuensi tertentu, yang dapat dipengaruhi oleh pikiran dan obsesi kita. Jadi, manusia dapat menarik apa yang diinginkan dan dicita-citakannya, baik berupa kekayaan, kesuksesan, bahkan kekuasaan, jika saja mereka mau berpikir fokus pada apa yang dikehendakinya.

Sikap Optimistis

Opini ini bukan mengajarkan generasi milenial agar menjuahi LoA. Karena bagaimana pun, ia adalah bagian dari ilmu yang dihadirkan Tuhan juga. Jangan sampai bangsa ini mengalami phobia seperti di era Orde Baru, ketika partai komunis dihilangkan, lantas generasi muda dilarang untuk belajar komunisme-marxisme. Akibatnya, wawasan marxisme hanya dikuasai para elit penguasa yang mau membaca dan belajar, kemudian “mengambil” ilmunya lalu memperdayakan dan mengelabui rakyat yang dipimpinnya.

Meskipun LoA memiliki elemen yang bertentangan dengan Kristen, ada beberapa pelajaran menarik yang mesti kita cermati. Misalnya, pentingnya sikap optimistis atau pentingnya memiliki mindset yang positif. Sebab, dalam Islam juga ditekankan bahwa Tuhan akan menempatkan diri selaras dengan prasangka hamba-hamba-Nya.

Pentingnya berbaik sangka pada Tuhan, dapat menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya. Tetapi, kita harus hati-hati, karena obsesi dan hawa nafsu akan mudah menggelincirkan niat dan keinginan manusia, yang cenderung memaksa dan mendikte keinginannya agar Tuhan selalu berkenan. Padahal, manusia tak boleh memaksakan kewenangannya, tetapi berkat rahmat dan kasih sayang Tuhan-lah yang sanggup memberi karunia akan harapan dan capaian manusia.

Perlu ditekankan di sini, bahwa semesta ini adalah makhluk ciptaan Tuhan, sebagaimana manusia, malaikat, dewa, dan hewan-hewan. Jika kita menyelaraskan diri dengan hukum semesta, mungkin dapat dimengerti, tetapi jika kita selaras dengan kehendak makhluk, misalnya dewa-dewi, lalu dapatkah terjamin bahwa kehendak dewa itu selaras dengan kehendak Tuhan Yang Kudus dan Maha Esa?

Jadi, kita harus selalu ingat, bahwa semua usaha yang kita lakukan harus berada dalam koridor dan batasan yang tidak melanggar hukum Injil maupun Quran, juga sesuai dengan teladan hidup Yesus maupun Muhammad. Untuk itu, manifestasi positif hanya bisa terjadi jika kita memadukan niat dan harapan baik, kemudian berusaha seoptimal mungkin, lalu hasil akhirnya terserah pada ketentuan Tuhan Yang Maha Adil.

Dampak Negatif

Hal yang membahayakan dari kepercayaan pada konsep Law of Attraction adalah rendahnya atau turunnya kualitas iman Kristiani atau Islami. Ketika manusia percaya bahwa dirinya sanggup mengendalikan takdir, ia terjebak dalam keyakinan yang menyesatkan, karena merasa mampu mengontrol segala hal yang dibutuhkan dan diinginkan dalam hidupnya.

Padahal, serba mengandalkan kehebatan dirinya, mengandung konsekuensi menafikan kehebatan dan kebesaran Yesus, lalu ia merasa pongah dan tak perlu bergantung pada kekuasaan Allah. Ini bisa berbahaya bagi kesehatan mental dan emosionalnya, karena ia akan bertumpu pada kebahagiaan materialistik semata.

Ketika manusia bertekad untuk fokus pada suatu keinginan, lalu ia gagal mendapatkannya, ia akan menyalahkan dan mengutuk diri sendiri, karena merasa tak mampu memancarkan energi yang tepat. Ujung-ujungnya, ia akan stres dan kecewa setengah mati, hingga menjauh dari kasih-sayang Tuhan, bahkan sampai mengutuk dan merobohkan patung-patung Bunda Maria.

Contoh sederhananya begini. Seorang turis Israel bernama Monica, menumpang Gojek yang dikendarai cowok ganteng di Bali, lalu pergi ke Ubud, membeli dua pasang hiasan keramik mahal dari Pantai Ubud. Ia menaruhnya dengan rapi di ruang tamu apartemennya di Tel Aviv.

Suatu hari, seorang puteri Monica berlarian di ruang tamu, lalu menabrak sepasang keramik itu hingga pecah berkeping-keping. Ia pun memukul anaknya, memarahi suaminya, dan seharian uring-uringan memaki-maki pembantunya. Padahal, setiap pagi Monica rajin membersihkan keramik itu, bahkan jika pun letaknya miring sedikit, ia akan mendamprat sang pembantu.

Sebulan kemudian, ia harus kembali ke Bali untuk membeli pasangan keramiknya yang pecah. Tetapi, berhari-hari ia keliling Bali, tidak juga menemukan pasangan yang sama dengan keramik yang pernah ia beli. Akhirnya, terpaksa ia harus membeli keramik baru yang berpasangan, meski kualitasnya tidak sebagus yang sudah pecah.

Tetapi, meskipun keramik baru itu dirawat dan dibersihkan dengan tangannya sendiri tiap pagi, lalu siapa yang menjamin kalau keramik barunya akan awet, tidak disenggol kucing belang atau putera bungsunya? Dan siapa pula yang menjamin, kalau tidak ada rudal yang menyasar apartemennya, hingga meluluhlantakkan ruang tamu, termasuk keramik Bali kesayangannya? (*)

Peneliti historical memory, juga pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.